RADARSITUBONDO.ID – Harapan menghidupkan kembali jalur kereta api (KA) yang menghubungkan Situbondo, Bondowoso, hingga Jember mulai masuk meja pembahasan pemerintah pusat. Tiga pemerintah kabupaten yang dilintasi trase lama tersebut diundang ke Jakarta untuk memetakan kebutuhan dan langkah awal reaktivasi.
Pertemuan berlangsung Senin (21/9) dan difasilitasi Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Perwakilan Pemkab Situbondo, Bondowoso, dan Jember hadir dalam pembahasan yang menjadi salah satu tahapan awal untuk melihat kembali kelayakan jalur KA yang sudah lama tidak beroperasi.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Situbondo Nugroho mengatakan, pembahasan belum masuk pada persoalan kompensasi bagi masyarakat yang kini tinggal atau memanfaatkan kawasan di sepanjang jalur lama.
Menurut dia, rapat masih berfokus pada pemetaan kebutuhan, kajian awal, serta langkah strategis yang harus disiapkan sebelum jalur tersebut benar-benar dapat dioperasikan kembali.
"Rapat salah satunya membahas pemetaan kebutuhan serta langkah yang harus disiapkan sebelum jalur KA kembali dioperasikan. Untuk kompensasi belum dilakukan pembahasan," katanya saat dihubungi melalui telepon seluler.
Jalur Berpeluang Diperpanjang
Reaktivasi jalur KA dinilai memiliki arti lebih luas dibanding sekadar mengembalikan layanan transportasi yang pernah ada. Konektivitas antardaerah diharapkan bisa membuka akses terhadap potensi ekonomi, investasi, hingga pariwisata di kawasan Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
Bahkan, menurut Nugroho, tidak menutup kemungkinan jaringan tersebut nantinya dikembangkan lebih jauh hingga Banyuwangi maupun Surabaya.
Perpanjangan trayek itu, jika terealisasi, berpotensi membuat konektivitas kawasan Tapal Kuda dengan daerah lain semakin luas. Arus orang dan barang juga dapat menjadi bagian dari dampak yang dikaji pemerintah.
"Tidak menutup kemungkinan jika trayek diperpanjang sampai Banyuwangi maupun Surabaya, akan menjadi faktor positif dalam peningkatan ekonomi daerah kawasan," imbuhnya.
Namun, rencana tersebut masih berada pada tahap pembahasan dan kajian. Belum ada kepastian mengenai kapan jalur akan kembali beroperasi.
Jalur Peninggalan Belanda Harus Dikaji Ulang
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Timur Denny Michels Adlan mengatakan, pemerintah pusat memahami harapan masyarakat agar jalur KA yang pernah beroperasi pada masa lalu dapat kembali digunakan.
Meski demikian, reaktivasi tidak bisa dilakukan hanya dengan menghidupkan kembali trase lama. Kondisi jalur dan kebutuhan transportasi telah berubah sehingga diperlukan kajian menyeluruh.
"Proses reaktivasi harus diawali dengan kajian yang menyeluruh agar sesuai dengan kebutuhan transportasi saat ini," ujarnya.
Denny menjelaskan, jalur yang dibangun sejak era kolonial Belanda tersebut perlu ditinjau dari berbagai aspek. Mulai kondisi teknis, keselamatan, sosial, hingga kelayakan ekonomi.
Pada masa lalu, jalur tersebut banyak digunakan untuk angkutan barang. Sementara kebutuhan transportasi saat ini lebih kompleks karena mencakup angkutan barang sekaligus penumpang dengan tuntutan standar keselamatan dan kenyamanan yang lebih tinggi.
"Kita harus mengkaji apakah jalur peninggalan Belanda tersebut masih sesuai untuk direaktivasi. Karena kita bicara soal keselamatan, kenyamanan, kecepatan perjalanan kereta, kondisi jalur, hingga dampak sosial kepada masyarakat yang mungkin saat ini sudah menempati atau memanfaatkan kawasan di sepanjang trase jalur lama," jelasnya.
Bangunan dan Lahan di Sepanjang Trase Ikut Dikaji
Tak hanya kondisi fisik rel, pemerintah juga akan memetakan aset yang masih tersisa, kondisi lahan, serta bangunan yang berada di sepanjang jalur nonaktif.
Keberadaan masyarakat yang kini memanfaatkan kawasan trase lama juga menjadi salah satu aspek yang harus diperhitungkan. Kajian sosial diperlukan untuk mengetahui potensi dampak apabila jalur tersebut kembali diaktifkan.
Persoalan ekonomi juga tidak kalah penting. Pembangunan kembali infrastruktur perkeretaapian membutuhkan investasi yang besar. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kebutuhan masyarakat dan potensi manfaat ekonomi benar-benar tergambar dalam kajian.
"Ini adalah langkah awal untuk memetakan apa saja yang dibutuhkan. Kita akan melihat studi yang sudah ada, apakah masih relevan atau perlu diperbarui. Kemudian juga menentukan pembagian peran antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah," terang Denny.
Keselamatan Jadi Syarat Utama
Satu hal yang ditegaskan pemerintah adalah keselamatan. Reaktivasi jalur lama harus dibarengi penataan trase dan kawasan agar memenuhi standar operasional perkeretaapian saat ini.
Sejumlah persoalan harus dipersiapkan sejak awal, mulai sterilisasi jalur, pengamanan aset, hingga penanganan perlintasan sebidang yang berpotensi bersinggungan dengan aktivitas masyarakat.
"Perlintasan sebidang, sterilisasi jalur, dan keamanan operasional harus menjadi perhatian serius agar nantinya kereta api dapat beroperasi dengan aman dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tegas Denny.
Pembahasan di Jakarta tersebut menjadi langkah awal untuk menentukan apakah jalur KA Situbondo-Bondowoso-Jember dapat direaktivasi. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah selanjutnya perlu memperbarui kajian, memetakan trase dan aset, sekaligus menghitung kebutuhan investasi serta dampak sosial sebelum keputusan reaktivasi ditetapkan. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo