RADARSITUBONDO.ID – Gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah desa Situbondo mulai berdiri lengkap dengan fasilitas kamar mandi. Namun, persoalan muncul ketika fasilitas tersebut belum dilengkapi sumber air. Kondisi itu membuat fungsi toilet dipertanyakan, salah satunya di Desa Klampokan, Kecamatan Panji.
Seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan, gedung KDMP di desanya sudah dalam kondisi siap digunakan. Lokasinya bahkan dinilai cukup jauh dari permukiman warga. Namun, ketika melihat bagian dalam bangunan, terdapat kamar mandi yang belum memiliki sumber air.
Warga tersebut mengaku sempat menanyakan persoalan itu kepada pengurus koperasi. Informasi yang diterimanya, pembangunan sumur bor memang belum memiliki anggaran khusus.
“KDMP di sini (Desa Klampokan) sudah tinggal pakai saja, tapi saya lihat tidak ada sumber airnya. Terus apa fungsinya kamar mandi. Saya pernah tanya pada pengurus KDMP, infonya memang tidak ada anggaran untuk pengeboran air,” katanya, Senin (21/9).
Dandim: Tak Semua KDMP Harus Punya Sumur Bor
Komandan Kodim (Dandim) 0823 Situbondo Letkol Inf Ferry Ardian membenarkan bahwa fasilitas kamar mandi menjadi bagian dari gedung KDMP.
Namun, menurut dia, sumber air untuk fasilitas tersebut tidak harus berasal dari sumur bor. Kebutuhan air dapat dipenuhi melalui jaringan PDAM maupun pipa desa apabila tersedia.
Pengeboran baru dilakukan apabila lokasi koperasi tidak mendapatkan pasokan air dari kedua sumber tersebut.
“Bagi koperasi yang tidak mendapatkan air dari PDAM ataupun pipa desa baru dilaksanakan pengeboran untuk mendapatkan air,” jelas Ferry.
Dengan skema tersebut, keberadaan toilet di gedung KDMP tidak serta-merta berarti setiap lokasi harus dilengkapi sumur bor. Pemerintah akan menyesuaikan sumber air dengan kondisi masing-masing lokasi.
Warga Soroti Keamanan Gedung
Selain persoalan sumber air, warga juga menyoroti keamanan aset yang berada di dalam gedung KDMP.
Menurut warga, kondisi gedung pada malam hari cukup gelap. Situasi tersebut dikhawatirkan membuat aset koperasi rentan menjadi sasaran pencurian, terlebih di dalam bangunan terdapat kendaraan dan sejumlah barang lainnya.
“Coba kalau malam dicek, kalau malam gelap. Entah apakah ada yang menjaga atau tidak kami tidak paham,” ujarnya.
Kondisi pencahayaan dan keamanan menjadi perhatian karena pembangunan gedung KDMP tidak hanya menyangkut fisik bangunan. Ketika koperasi mulai beroperasi, fasilitas tersebut juga akan menjadi tempat penyimpanan maupun aktivitas ekonomi masyarakat.
76 Gerai Sudah Berdiri
Ferry mengatakan, keberadaan KDMP nantinya diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa. Salah satu perannya adalah membantu memasarkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dihasilkan masyarakat.
Menurut dia, potensi tersebut cukup besar karena Situbondo memiliki sekitar 38 ribu UMKM.
“Saat ini, Situbondo baru memiliki 76 titik gerai dan masih ada 60 titik yang belum terbangun. Alasannya ada desa yang tidak memiliki TKD dan kendala teknis lainnya,” tutup Ferry.
Dengan demikian, persoalan fasilitas air menjadi salah satu aspek teknis yang perlu diselesaikan sebelum gedung KDMP berfungsi secara optimal. Di lokasi yang tidak memiliki jaringan PDAM atau pipa desa, opsi sumur bor disiapkan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan air. (hum/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo