RADARSITUBONDO.ID - Jawa Timur memasuki fase puncak musim kemarau. Hampir seluruh wilayah di provinsi ini masih menghadapi kondisi kering setelah berbulan-bulan mengalami minim hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi kemarau masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Curah hujan di Jawa Timur bahkan diprakirakan tetap berada pada kategori rendah hingga November.
Staf Analisa dan Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Firda Amalia Maslakah, mengatakan kondisi tersebut sesuai dengan prakiraan puncak musim kemarau yang sebelumnya diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September.
"Kalau kemarin puncak musim kemarau diprediksi antara Agustus hingga September. Iya, jadi memang kita sedang berada di puncak musim kemarau," kata Firda kutip dari JawaPos.com.
Baca Juga: 3 Pemain Belum Gabung, Timnas Indonesia Kejar Persiapan Akhir FIFA ASEAN Cup 2026
Menurut Firda, kondisi cuaca kering belum akan segera berakhir. Intensitas curah hujan di berbagai wilayah Jawa Timur masih diperkirakan rendah hingga November mendatang.
"Kondisi cuacanya cukup kering, dan juga untuk beberapa waktu ke depan memang curah hujannya hingga November itu dari prediksi kami memang kategorinya rendah," ungkap Firda.
Pada Oktober, curah hujan diprakirakan masih sangat minim. Intensitasnya berada pada kisaran 0 hingga 50 milimeter per bulan.
Kondisi tersebut mulai berubah ketika memasuki November. Curah hujan diperkirakan perlahan meningkat dengan kisaran 51 hingga 100 milimeter per bulan.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Siapkan Misi Penebusan, Dua Poin yang Hilang di GBT Harus Diganti
Namun, peningkatan hujan yang lebih signifikan diprediksi baru terjadi pada Desember 2026. Pada periode tersebut, sejumlah wilayah Jawa Timur berpeluang memasuki kondisi yang lebih basah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
"Nah, untuk bulan Desember itu mulai banyak hujannya. Kategorinya kalau di kami itu kategori menengah hingga tinggi, yaitu sampai 300 milimeter per bulan," jelas Firda.
Fenomena El Nino dengan kategori sangat kuat turut menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi kering tersebut. BMKG memprediksi kondisi El Nino kuat masih bertahan hingga awal Februari.
Meski demikian, musim kemarau bukan berarti seluruh wilayah Jawa Timur sepenuhnya terbebas dari hujan.
Hujan tetap berpotensi turun di sejumlah daerah, terutama ketika terdapat faktor atmosfer dan kondisi lingkungan yang mendukung pembentukan awan hujan.
Firda menjelaskan, hujan yang muncul saat musim kemarau dapat dipengaruhi faktor lokal maupun regional. Kondisi geografis, terutama wilayah pegunungan, menjadi salah satu faktor lokal yang dapat memicu pertumbuhan awan hujan.
Kelembapan udara yang cukup tinggi juga dapat menjadi pemicu lainnya. Selain itu, terdapat faktor regional berupa gangguan gelombang atmosfer yang dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Rhoma Irama Hampir 80 Tahun tapi Ogah Pensiun, Justru Takut Sakit Jika Berhenti Berkarya
Beberapa fenomena atmosfer yang dapat berpengaruh antara lain gelombang Rossby maupun Madden-Julian Oscillation (MJO).
Kehadiran fenomena tersebut dapat membuat kondisi cuaca di sejumlah daerah menjadi berbeda meski secara umum Jawa Timur masih berada dalam periode kemarau.
Namun, hujan yang turun pada periode tersebut diperkirakan belum memiliki intensitas tinggi. Masyarakat tetap perlu memperhatikan bahwa kemunculan hujan sesekali tidak serta-merta menandai berakhirnya musim kemarau.
"Tapi mungkin intensitasnya tidak tinggi, ya. Karena di musim kemarau hujannya mungkin ringan saja kategorinya," ucapnya.
Dengan kondisi tersebut, Jawa Timur masih akan menghadapi periode kering dalam beberapa pekan mendatang.
Oktober diprediksi menjadi salah satu bulan dengan curah hujan yang sangat minim, sementara peluang peningkatan hujan mulai terlihat pada November.
Perubahan yang lebih terasa diprakirakan terjadi pada Desember 2026 ketika curah hujan mulai masuk kategori menengah hingga tinggi. Intensitasnya bahkan diperkirakan dapat mencapai 300 milimeter per bulan.
Kondisi ini membuat pola cuaca Jawa Timur dalam beberapa bulan ke depan perlu diperhatikan. Sebab, meski hujan masih mungkin turun di tengah musim kemarau, intensitasnya cenderung ringan dan belum merata di seluruh wilayah.
Editor : Bayu ShaputraSumber : jawapos.com