RADARSITUBONDO.ID – Musim kemarau belum menunjukkan tanda-tanda berakhir di Situbondo. Dampaknya mulai terasa di sejumlah wilayah yang kesulitan mendapatkan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo mencatat sekitar 11.800 jiwa kini terdampak kekeringan yang tersebar di tujuh kecamatan.
Tujuh kecamatan tersebut meliputi Bungatan, Arjasa, Banyuputih, Suboh, Kendit, Jatibanteng, dan Banyuglugur. BPBD masih melakukan distribusi air bersih secara berkala ke lokasi-lokasi yang membutuhkan.
Kepala BPBD Situbondo Timbul Surjanto mengatakan, jumlah warga terdampak kekeringan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sebelumnya hanya sekitar 11.400 jiwa, tetapi tahun ini bertambah sekitar 400 jiwa dari keseluruhan penerima," katanya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena musim kemarau diperkirakan belum segera berakhir. Berdasarkan informasi yang diterima BPBD dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau diprediksi berlangsung hingga penghujung 2026 dan berpotensi berlanjut hingga awal 2027.
"Informasi dari BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia akan berlangsung hingga akhir tahun, bahkan ada kemungkinan berlanjut hingga tahun depan," ujar Timbul.
Banyuputih Jadi Wilayah Paling Terdampak
Dari sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan air bersih, Kecamatan Banyuputih menjadi salah satu kawasan dengan jumlah warga terdampak cukup besar.
Beberapa lokasi yang mengalami krisis air bersih antara lain Dusun Baderan, Sekarputih, dan Curahtemu. Bahkan, dalam satu desa terdapat ribuan warga yang membutuhkan pasokan air.
"Yang paling banyak terdampak itu di Kecamatan Banyuputih, terdapat 2.365 jiwa dalam satu desa," ungkapnya.
BPBD Situbondo hingga kini masih mengandalkan distribusi atau droping air bersih sebagai langkah penanganan cepat. Namun, kebutuhan yang terus bertambah membuat pemerintah daerah harus menyiapkan langkah jangka menengah.
Persoalannya, anggaran untuk distribusi air bersih yang sebelumnya tersedia telah habis pada awal Agustus lalu.
Sumur Bor Disiapkan, Droping Air Tetap Jalan
Untuk mengantisipasi kekeringan yang berpotensi semakin meluas, pemerintah daerah menyiapkan sejumlah alternatif. Salah satunya dengan pembangunan sumur bor di wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air.
Namun, rencana tersebut masih dalam proses. Untuk sementara, BPBD tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar warga melalui distribusi air bersih.
"Untuk saat ini kami fokus droping air. Kalau sumur bor sudah direncanakan," tegas Timbul.
BPBD juga meminta pemerintah desa dan kecamatan tidak menunggu kondisi semakin parah untuk melaporkan wilayah yang mulai mengalami kekurangan air.
Kepala dusun, kepala desa, hingga pihak kecamatan diminta aktif memantau kondisi masyarakat. Data tambahan mengenai wilayah terdampak diperlukan agar distribusi air bersih dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
"Bagi pemerintah desa, bagaimana terus memantau dan melaporkan jika ada tambahan wilayah yang membutuhkan air bersih," pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo