RADARSITUBONDO.ID – Perjuangan mendapatkan air bersih masih menjadi keseharian warga Pedukuhan Rabesen, Desa Kedunglo, Kecamatan Asembagus. Selama kurang lebih 23 tahun, sekitar 14 kepala keluarga (KK) di kawasan pedalaman itu harus turun tebing dan berjalan ratusan meter hanya untuk memenuhi kebutuhan air.
Bukan sekadar jauh. Medan yang harus dilalui juga naik turun tebing. Setiap hari, warga terpaksa memikul air menggunakan jeriken dari sumber yang berada di bawah permukiman.
Kondisi tersebut dialami warga sejak mereka membuka lahan dan menetap di kawasan hutan milik Perhutani sekitar 23 tahun lalu. Hingga kini, fasilitas dasar seperti jaringan listrik dan sarana air bersih belum menjangkau permukiman mereka.
Untuk penerangan pada malam hari, warga mengandalkan panel tenaga surya. Sementara kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK) dipenuhi dengan air yang harus diambil dari sumber di bawah tebing.
“Kalau air tidak kering. Tapi untuk mendapatkannya harus turun ke tebing. Jarak tempuhnya ratusan meter. Kami sudah biasa mikul air pakai dua jeriken tiap hari,” ujar Har, 60, salah seorang warga setempat, Kamis (8/10).
Menurut Har, persoalan utama bukan karena kawasan tersebut tidak memiliki sumber air. Setidaknya terdapat dua sumber air yang selama ini diketahui warga.
Satu sumber memiliki debit cukup besar. Namun, lokasinya berada sekitar enam kilometer dari permukiman. Sementara sumber yang lebih dekat berada di bawah tebing sehingga warga harus turun untuk mengambil air.
Har berharap pemerintah dapat membantu menyediakan pompa air, tandon, jaringan pipa, hingga instalasi distribusi. Dengan begitu, sumber air yang tersedia bisa dialirkan hingga ke rumah-rumah warga.
“Sumber airnya ada dua. Yang pertama sumbernya besar, tapi jarak ke permukiman enam kilometer. Kalau ada program jaringan pipa tinggal mengalirkan saja ke rumah-rumah kami. Kalau yang dekat, ya yang kami ambil tiap hari, harus turun ke tebing,” cetus Har.
Bagi warga Rabesen, kehadiran jaringan air bersih bukan sekadar fasilitas tambahan. Sarana tersebut akan memangkas perjuangan puluhan tahun mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Kini, sekitar 14 KK masih bertahan di kawasan pedalaman tersebut bersama anak dan cucu mereka. Harapan mereka sederhana: air dari sumber yang tersedia bisa mengalir sampai ke rumah tanpa harus kembali menuruni tebing setiap hari. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo