RADARSITUBONDO.ID – Ribuan warga Situbondo yang menderita stroke masih menghadapi keterbatasan akses perawatan. Dari data yang diterima DPRD Situbondo, tercatat 1.271 penderita stroke. Namun, baru 229 orang yang telah mendapatkan penanganan medis.
Kondisi tersebut mendorong DPRD Situbondo meminta Pemkab Situbondo menambah sarana dan prasarana khusus stroke di RSUD Abdoer Rahem (AR). Salah satu yang dinilai mendesak ialah penyediaan gedung atau ruang khusus untuk pasien stroke.
Sekretaris Komisi IV DPRD Situbondo Mokhammad Badri mengatakan, tingginya jumlah penderita stroke yang belum mendapatkan penanganan maksimal menunjukkan perlunya penguatan layanan di rumah sakit daerah.
“Ketika dilihat dari data, penderita stroke cukup banyak yang belum tertangani. Karena itu, sangat diperlukan penambahan pelayanan untuk masyarakat Situbondo,” katanya, Kamis (8/10).
Menurut Badri, kebutuhan ruang khusus stroke semakin penting karena RSUD AR tengah mempersiapkan pelayanan rujukan untuk sejumlah penyakit prioritas, seperti kanker, jantung, dan pembuluh darah.
Dia berharap penguatan fasilitas di RSUD AR dapat mengurangi jumlah pasien yang harus dirujuk ke luar daerah. Terutama pasien penyakit dalam dan stroke yang belum seluruhnya dapat ditangani secara optimal.
“Apalagi RSUD AR telah mendapat bantuan sarana dan prasarana dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia untuk memaksimalkan pelayanan KJSU-KIA,” jelasnya.
Badri menilai, pembangunan ruang khusus stroke sekaligus menjadi bentuk keseriusan Pemkab Situbondo dalam memanfaatkan dukungan pemerintah pusat. Fasilitas yang memadai dinilai penting agar bantuan sarana dan prasarana dari Kemenkes bisa dioptimalkan.
“Ini juga menjadi feedback kepada kementerian bahwa daerah siap dan serius menyediakan layanan bagi penderita stroke. Karena itu, Pemkab Situbondo harus menyambut baik bantuan yang telah diberikan Kemenkes,” ujarnya.
Dia juga meminta Bupati Situbondo ikut mendorong percepatan penyediaan fasilitas tersebut. Sebab, meskipun terdapat bangunan yang dapat dimanfaatkan, kondisinya masih membutuhkan rehabilitasi.
“Ini harus didorong oleh bupati juga. Meskipun gedungnya sudah ada, tetapi masih membutuhkan rehabilitasi,” ungkap Badri.
Kapasitas Ruang Jadi Kendala
Direktur RSUD AR Situbondo Sudharmono membenarkan adanya kendala kapasitas ruang perawatan bagi pasien stroke. Sejak Januari 2026, banyak pasien stroke yang tidak dapat menjalani rawat inap di rumah sakit karena keterbatasan ruangan.
“Memang benar, sejak Januari 2026 banyak penderita stroke yang tidak bisa rawat inap di rumah sakit. Itu akibat keterbatasan ruangan, sehingga tidak memungkinkan jika dilakukan rawat inap. Bahkan, jika memang harus dirujuk, pasien akan dirujuk ke luar daerah,” ujarnya.
Selama ini, pasien stroke yang membutuhkan rawat inap ditempatkan di ruangan yang tersedia. Persoalan muncul ketika terjadi peningkatan jumlah pasien. RSUD AR belum memiliki ruang khusus stroke yang dapat menampung pasien secara optimal.
“Pasien stroke yang rawat inap menggunakan ruangan yang telah disediakan. Namun, ketika terjadi lonjakan pasien, kami kesulitan karena belum memiliki ruangan khusus stroke,” katanya.
Jika seluruh ruang perawatan telah penuh, rumah sakit terpaksa melakukan rujukan. Keterbatasan kapasitas tersebut menjadi salah satu kendala dalam memberikan pelayanan, terutama bagi pasien penyakit dalam dan stroke.
Sudharmono mengatakan, pihak rumah sakit kini berupaya menyiapkan gedung atau ruang khusus bagi penderita stroke. Pembangunan fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas sekaligus memperkuat layanan stroke di Situbondo.
“Kami sedang berusaha membangun gedung atau ruangan khusus bagi penderita stroke. Semoga ini bisa segera terwujud,” imbuhnya. (rif/pri)
Sumber : Radar Situbondo