RADARSITUBONDO.ID – Tradisi turun-temurun untuk memohon hujan dan menolak bala kembali digelar warga Pedukuhan Pariopo, Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo, Sabtu (10/10). Ritual Hodo tak sekadar menjadi warisan leluhur, tetapi juga menyimpan aturan sakral yang tetap dijaga hingga kini: satu kelompok penari harus berjumlah tepat 17 orang, tidak boleh lebih ataupun kurang.
Ritual adat tersebut diawali dengan pembacaan doa di puncak Masali atau Gunung Sanuri yang dipercaya sebagai tempat sakral. Setelah itu, warga turun dari bukit untuk menjalani prosesi penyucian diri di sumber mata air dan Batu Tomang sebelum memasuki rangkaian utama upacara.
Camat Asembagus Faishol Afandi mengatakan, Ritual Hodo merupakan tradisi khas masyarakat setempat yang diwariskan lintas generasi. Prosesi adat ini juga memperlihatkan perpaduan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam.
“Ini acara sudah turun-temurun. Acaranya luar biasa, sangat sakral dan natural. Pembukaan diawali dengan doa-doa Islami,” ujar Faishol, Minggu (11/10).
Suasana ritual semakin semarak ketika tarian Hodo mulai ditampilkan. Lantunan Pojhian Hodo mengiringi gerakan para penari yang mengenakan busana adat, diiringi bunyi gong, kendang, dan suling. Di tengah lingkaran penari, nasi tumpeng dan sesaji diletakkan sebagai simbol rasa syukur.
Menurut Faishol, lantunan puji-pujian dalam ritual tersebut menggunakan tiga unsur bahasa, yakni Madura, Jawa, dan Arab. Doa-doa juga disertai tahlil sebagai bagian dari ikhtiar spiritual masyarakat untuk memohon hujan dan keselamatan.
“Bahasa yang digunakan dalam puji-pujian ada tiga, Bahasa Madura, Jawa, dan doa-doa bahasa Arab. Termasuk tahlil. Harapannya ya agar turun hujan dan menolak bala,” imbuhnya.
Rangkaian ritual kemudian ditutup dengan makan bersama. Bagi masyarakat setempat, momen tersebut menjadi bagian penting untuk mempererat hubungan sosial dan menjaga kebersamaan ant warga.
“Doa bareng, makan bareng. Nuansa kebersamaannya sangat terasa sekali,” tutur Faishol.
Jumlah Penari Jadi Aturan Turun-Temurun
Di balik kemeriahan ritual, terdapat ketentuan yang tidak boleh dilanggar. Tetua Pelestari Tradisi Hodo Muhammad Hariyono menegaskan, jumlah penari dalam satu kelompok harus tepat 17 orang. Keanggotaan juga dibatasi bagi warga asli Pedukuhan Pariopo.
“Anggotanya harus 17 orang. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Dan hanya boleh warga asli Pedukuhan Pariopo,” tegas Hariyono.
Ketentuan tersebut menjadi bagian dari pakem tradisi yang diwariskan nenek moyang. Warga pun berupaya mempertahankan aturan itu agar pelaksanaan Hodo tetap sesuai dengan tata cara yang diyakini turun-temurun.
Hariyono mengungkapkan, ritual tersebut pernah tidak dilaksanakan pada 2022, saat pandemi Covid-19. Menurut penuturan dan keyakinan warga, setelah tradisi itu absen, sejumlah kejadian menimbulkan kekhawatiran, mulai dari angin kencang yang merusak rumah hingga sumber mata air yang mengering.
“Sempat tidak dilaksanakan. Ternyata satu anggota Hodo tersambar petir, sumber mata air mengering. Kami yakin itu karena Hodo tidak dilaksanakan,” ungkapnya.
Keyakinan tersebut menjadi salah satu alasan warga terus menjaga keberlangsungan ritual Hodo. Meski demikian, hubungan antara tidak digelarnya ritual dan berbagai kejadian tersebut merupakan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Hariyono menambahkan, Ritual Hodo tetap dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 10 bulan 10. Pelaksanaannya diteruskan secara swadaya tanpa bergantung pada dukungan anggaran pemerintah.
“Kami hanya meneruskan warisan leluhur. Kalau dihilangkan, kami takut kena imbas,” pungkasnya. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo