RADARSITUBONDO.ID – Kasus influenza di Situbondo melonjak dari 251 menjadi 623 kasus. Peningkatan pasien juga mulai dirasakan sejumlah rumah sakit, dengan anak-anak mendominasi pasien yang datang berobat. DPRD Situbondo mendesak evaluasi kapasitas ruang rawat inap dan pelayanan BPJS Kesehatan agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan kamar.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Situbondo Herman Dwi Susilo mengatakan, data tersebut dihimpun dari laporan 15 fasilitas kesehatan. Pada minggu ke-38 tercatat 213 kasus, meningkat menjadi 251 kasus pada minggu ke-39, hingga kini mencapai 623 kasus.
“Pada minggu ke-38 tercatat 213 kasus, kemudian minggu ke-39 sebanyak 251 kasus. Saat ini sudah ada 623 kasus,” ungkapnya.
Meski mengalami peningkatan, Dwi memastikan kasus yang dilaporkan masih dapat ditangani. Gejala yang muncul meliputi demam dengan suhu di atas 38 derajat Celsius, batuk, sakit tenggorokan, serta nyeri otot dan sendi.
Dinkes terus menggencarkan edukasi melalui posyandu dan sekolah. Masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat untuk menekan risiko penularan. Selain itu, petugas melakukan respons dan verifikasi dalam waktu 24 jam serta menyarankan imunisasi influenza secara mandiri.
Peningkatan kasus turut berdampak pada kunjungan pasien ke sejumlah rumah sakit. Menurut Dwi, mayoritas pasien mengalami gejala menyerupai influenza, seperti demam, batuk, dan radang tenggorokan. Anak-anak menjadi kelompok yang mendominasi pasien yang datang berobat.
“Saya sudah berkomunikasi dengan pihak RSUD. Memang ada peningkatan jumlah pasien, tetapi sudah teratasi,” katanya.
Dwi menjelaskan, rumah sakit perlu menerapkan triase atau pemilahan pasien berdasarkan tingkat kegawatan dan kebutuhan medis. Dengan begitu, pasien yang membutuhkan rawat inap dapat diprioritaskan, sedangkan pasien yang kondisinya memungkinkan bisa menjalani pengobatan di rumah sesuai anjuran dokter.
“Pasien yang masuk ke IGD rumah sakit bisa dipilah melalui triase. Kalau tidak perlu rawat inap, bisa melanjutkan pengobatan di rumah,” imbuhnya.
Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Situbondo Janur Sasra Ananda meminta Dinkes segera mengevaluasi ketersediaan kamar rawat inap dan kapasitas pelayanan kesehatan. Dia mendorong evaluasi tersebut diselesaikan maksimal dalam tujuh hari, disertai rencana tindak lanjut yang jelas.
Menurut Janur, peningkatan pasien harus diantisipasi agar masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan. Ketersediaan kamar juga perlu menjadi perhatian, terutama bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menggunakan BPJS Kesehatan.
“Jangan sampai masyarakat yang memiliki BPJS justru kesulitan mendapatkan kamar saat membutuhkan perawatan. Dalam tujuh hari harus ada hasil evaluasi dan rencana tindak lanjut yang jelas. Pelayanan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas,” tegasnya.
DPRD berharap evaluasi tersebut menghasilkan langkah konkret untuk memastikan kapasitas ruang rawat inap dan pelayanan pasien tetap memadai di tengah peningkatan kasus influenza di Situbondo. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo