RADARSITUBONDO.ID – Anggaran program Voucher Usaha (Vorsa) UMKM Situbondo menyusut dari Rp 3 miliar menjadi Rp 1 miliar. Minimnya serapan akibat banyak calon penerima terkendala pemeriksaan riwayat kredit atau Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) menjadi persoalan utama program pinjaman modal berbunga nol persen tersebut.
Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Situbondo, Moh Riza Pahlevi, mengatakan pengurangan anggaran dilakukan setelah adanya permintaan DPRD Situbondo. Namun, dia mengaku belum mengetahui secara pasti peruntukan anggaran yang dialihkan.
“Sudah dialihkan. Setelah diminta, anggarannya langsung dikurangi. Namun, saya kurang tahu anggaran itu dialihkan ke mana. Yang mengetahui ada di laporan kepala dinas,” katanya, Kamis (15/10).
Menurut Riza, penyerapan Vorsa UMKM belum maksimal karena banyak pelaku usaha tidak memenuhi persyaratan akibat pemeriksaan riwayat kredit. Kendala tersebut sebelumnya tidak diperkirakan saat program dirancang.
Dari sisa anggaran Rp 1 miliar, Riza memperkirakan realisasi penyaluran pinjaman hanya mencapai ratusan juta rupiah. Sebagian pemohon masih memiliki pinjaman sehingga terkendala saat pemeriksaan riwayat kredit.
Dia mengimbau pelaku UMKM lebih cermat sebelum mengajukan pinjaman. Riwayat kredit dan kelayakan usaha perlu diperhatikan agar proses pengajuan tidak terhambat. Dia juga berharap sistem pemeriksaan kredit dievaluasi sehingga pelaku usaha dengan pinjaman kecil tetap berpeluang memperoleh bantuan sesuai ketentuan.
Sekretaris Komisi II DPRD Situbondo, Faisol Abd Syakur Jalil, menyebut Vorsa UMKM merupakan fasilitas pinjaman modal usaha berbunga nol persen tanpa biaya administrasi. Seluruh biaya ditanggung pemerintah daerah melalui APBD 2026 dengan alokasi awal Rp 3 miliar.
Namun, menurut Faisol, banyak pemohon terkendala SLIK sehingga realisasi penyaluran pinjaman masih jauh dari target. DPRD menilai anggaran yang dipertahankan perlu disesuaikan dengan kebutuhan riil program.
“Menurut kami, anggaran program tersebut cukup disisakan Rp 50 juta saja, sisanya dialihkan ke program lain,” ujarnya.
Rendahnya serapan Vorsa UMKM menjadi catatan evaluasi bagi pemerintah daerah agar alokasi anggaran lebih tepat sasaran dan mampu menjangkau pelaku usaha yang membutuhkan tambahan modal. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo