RADARSITUBONDO.ID – Universitas Bhakti PGRI Situbondo resmi dilaunching, Sabtu (17/10). Peluncuran perguruan tinggi yang dulunya bernama Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Situbondo tersebut dilakukan di Pendapa Rakyat Situbondo oleh sejumlah tokoh penting.
Hadir dalam momentum bersejarah ini, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo; Anggota DPR RI, Nasim Khan; Ketua Umum PGRI Pusat, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd; Ketua Badan Penyelenggara Pendidikan PGRI Pusat, Prof. Dr. Supardi US, M.M, M. Pd; Ketua PGRI Jatim, Dr. Djoko Adi Waluyo, M.M, M. Pd. Serta Sekretaris PGRI Jatim, Drs. Edy Wuryanto, M.Pd.
Selain Launching Universitas Bhakti PGRI Situbondo, ada dua agenda penting lainnya di waktu yang bersamaan. yakni, Pelantikan dengan pengukuhan pembina, pengurus, dan pegawas Yayasan Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi PGRI Situbondo Masa Bakti 2026 – 2031 serta Pelantikan dengan pengukuhan rektor Universitas Bhakti PGRI Situbondo Masa Bakti 2026 – 2030.
Dalam sambutannya, Bupati Situbondo yang akrab disapa Mas Rio menyampaikan ucapan selamat kepada Universitas Bhakti PGRI Situbondo yang sudah naik kelas menjadi universitas dari yang sebelumnya berstatus sekolah tinggi. Sehingga, saat ini di Situbondo sudah ada tiga universitas.
“Dengan adanya Universitas Bhakti PGRI Situbondo ini saya berharap akan menambah khasanah pemikiran di Kabupaten Situbondo. Kampus membuatkan kita berani berteriak dan bergerak, apapun itu untuk berubah ke arah yang lebih baik,” kata Mas Rio.
Dia mengapresiasi langkah mahasiswa Universitas Bhakti PGRI Situbondo yang sudah berbuat nyata dalam mendukung usaha kelompok penyandang disabilitas yang ada di Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa dalam mengembangkan batik ciprat. “Saat ini, alhamdulillah mereka sudah banyak mendapatkan pesanan,” imbuhnya.
Pembina Yayasan Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi PGRI Situbondo, Dr Fathor Rakhman, MPd menjelaskan bahwa perubahan STKIP PGRI Situbondo menjadi Universitas Bhakti PGRI Situbondo merupakan perjalanan yang nekat. Karena STKIP PGRI secara sumber daya sebenarnya cukup terbatas. “Alhamdulillah dengan kerja keras dan support dari banyak pihak, akhirnya kita sampai juga menjadi Universitas,” terangnya.
Dia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mensupport perubahan bentuk dari sekolah tinggi menjadi universitas. “Saya juga berterima kasih kepada Prof Unifa yang sudah selalu mengingatkan untuk menggabungkan sekolah tinggi menjadi universitas, kalau tidak, tutup! Harus marger dengan perguruan lain. Inilah yang menjadi pelecut bagi kami untuk menjadi universitas. Kita akan terus berinovasi sesuai dengan saran-saran Pengurus Besar PGRI,” terangnya.
Sementara itu, penunjukan Dr. Fathor Rakhman, M. Pd sebagai pembina dinilai sejumlah pihak sudah sangat tepat. Ini mengingat dia sudah cukup berpengalaman, malang melintang di dunia pendidikan. Fathor meniti karier sebagai staf, guru, kepala sekolah, hingga top leader di bidang pendidikan, dan jabatan struktural eselon II lainnya. Kini setelah purna tugas dia masih mengabdi sebagai dosen di almamater nya, yg dulu bernama STKIP PGRI Situbondo. Kini berkat polesan tangan dinginnya, STKIP PGRI Situbondo telah berubah status menjadi Universitas Bhakti PGRI Situbondo.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. berharap rektor Universitas Bhakti PGRI Situbondo yang dikukuhkan adalah rektor yang mampu mengimplementasikan perguruan tinggi yang dipimpinnya memiliki standar global atau internasional dengan tetap mengedepankan karakter dan kebutuhan lokal. “Selain itu juga punya inovasi dalam penelitian, pengabdian dan hilirisasi sehingga riset-riset yang dihasilkan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya. (rif/pri)
Sumber : Radar Situbondo