RADARSITUBONDO.ID - Pengelolaan sampah atau limbah dapur ternyata dapat dimanfaatkan menjadi nutrisi bagi tanaman, baik dalam bentuk padat maupun cair. Langkah ini dilakukan salah satu warga Desa Sumberkolak yang berhasil mengolah limbah dapur menjadi sesuatu bermanfaat.
Pengelolaan limbah dapur menyasar berbagai jenis sampah organik dapur, terutama sisa sayuran yang selama ini kerap terbuang tanpa nilai guna. Melalui proses pengolahan, limbah tersebut diubah menjadi produk bernilai tinggi.
Selama ini, limbah dapur sering dianggap tidak bernilai, bahkan banyak yang berakhir menjadi sampah berserakan. “Karena limbah dapur bagi masyarakat dianggap tidak memiliki nilai manfaat, padahal bisa diolah dan memiliki banyak kegunaan,” kata Fery Kuswandi, salah satu pengelola.
Fery menjelaskan, untuk pengolahan limbah menjadi nutrisi cair, saat ini pihaknya mampu mengelola dalam volume cukup besar, bahkan hingga berton-ton. Dalam satu kali produksi, limbah yang diolah mencapai 3–4 ton.
“Dalam satu kali pembuatan, kami mengolah beragam limbah dapur hingga 3–4 ton. Ada yang harus dikeringkan terlebih dahulu, ada juga yang bisa langsung diproses,” tambahnya.
Dia mengungkapkan, proses pengolahan limbah dapur membutuhkan waktu yang bervariasi, mulai dari yang paling singkat hingga mencapai tiga bulan. Lama proses tersebut bergantung pada jenis limbah dan metode pengolahannya.
“Semua limbah dapur sebelum diolah kami pilah terlebih dahulu. Kami bedakan sesuai manfaat dan peruntukannya,” ujarnya.
Fery menambahkan, pengolahan limbah dapur tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga disertai edukasi kepada masyarakat, khususnya pelajar. Edukasi tersebut meliputi pentingnya memilah sampah organik, anorganik, dan limbah B3. Para pelajar juga diajak langsung belajar membuat nutrisi dari limbah dapur sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
“Selain itu, kami juga mengajak pelajar untuk ikut serta. Mereka kami ajarkan cara membuat nutrisi padat dan cair,” jelasnya.
Sementara itu, Purwanto selaku pemilik usaha menyampaikan bahwa pengelolaan limbah telah tersebar di beberapa bank sampah di berbagai kecamatan. Namun, untuk pengolahan menjadi nutrisi cair, saat ini masih difokuskan di wilayah Sumberkolak dan Panarukan. “Pengolahan dan pemilahan limbah sudah berjalan di beberapa bank sampah. Namun untuk nutrisi cair, saat ini masih terpusat di BSI,” ujarnya.
Purwanto menambahkan, dalam dua bulan terakhir pihaknya berhasil mengelola hingga 9 ton sampah. Limbah tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi nutrisi tanaman yang memiliki nilai ekonomi. “Dari total sampah yang kami kelola mencapai 9 ton, sebagian kami olah menjadi nutrisi cair dan padat,” katanya.
Dia berharap, upaya ini dapat menjadi solusi atas persoalan sampah lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Kami berharap ini bisa menjadi solusi permasalahan sampah, khususnya limbah dapur yang selama ini kurang terkelola. Tidak hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan manfaat ekologis bagi masyarakat,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono