Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Husna Laili: Literasi Jadi Kunci Masa Depan Anak, Budaya Membaca Jangan Sampai Hilang

Ahmad Rifa'ie • Rabu, 20 Mei 2026 | 20:25 WIB
Husna Laili, Tokoh literasi dan Pendidikan Anak
Husna Laili, Tokoh literasi dan Pendidikan Anak

RADARSITUBONDO.ID – Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi penting dalam membangun masa depan anak agar mampu berpikir kritis. Dengan demikian, anak akan lebih mudah memahami informasi yang benar dan tidak mudah terpengaruh hoaks di era digital seperti saat ini.

Literasi bukan hanya tentang pengetahuan saat ini, tetapi juga bekal pengetahuan di masa depan. Dengan literasi, khususnya membaca, seseorang dapat membuka jendela dunia dan memperluas wawasan. Karena itu, budaya membaca perlu terus dijaga dan dirawat agar anak-anak tidak bosan untuk mencari tahu melalui buku.

“Anak yang gemar membaca hari ini adalah calon pemimpin bijak di masa depan,” kata Bunda Baca Situbondo Husna Laili, tokoh literasi dan pendidikan anak.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Situbondo itu menyebutkan bahwa membaca kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar bagi tumbuh kembang anak.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah tingginya ketertarikan anak terhadap teknologi dan gawai dibandingkan membaca buku. “Berdasarkan data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Namun kondisi tersebut bukan alasan untuk berkecil hati, melainkan menjadi dorongan agar seluruh elemen masyarakat, termasuk di Situbondo, lebih serius membangun budaya literasi,” jelas perempuan yang akrab disapa Mbak Una itu.

Mbak Una menegaskan pentingnya menjaga budaya membaca melalui berbagai cara. Sebab, jika tidak dilakukan, minat baca anak akan terus menurun dan berdampak pada kurangnya pengetahuan mereka di masa depan. “Salah satunya dengan Gerakan Pojok Baca di setiap sekolah dan posyandu agar anak-anak terbiasa melihat buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” tambah Husna Laili, tokoh literasi dan pendidikan anak Situbondo ini.

Selain itu, program perpustakaan keliling (pusling) terus dijalankan untuk menjangkau desa-desa terpencil yang minim akses bacaan. Program membaca 15 menit sebelum belajar di sekolah juga digalakkan yaitu bekerja sama dengan Dinas Pendidikan. Tak hanya itu, festival literasi dan lomba bercerita anak juga rutin digelar guna menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam mengekspresikan apa yang mereka baca.

“Kami juga menggandeng PKK dan posyandu agar kegiatan literasi bisa masuk dalam pertemuan rutin ibu-ibu, karena ibu adalah guru pertama bagi anak di rumah,” katanya.

BERGERAK NYATA: Bunda Baca sekaligus Ketua TP PKK Situbondo, Husna Laili memberikan pemahaman tentang pentingnya membaca bagi anak-anak. (Ahmad Rifa
BERGERAK NYATA: Bunda Baca sekaligus Ketua TP PKK Situbondo, Husna Laili memberikan pemahaman tentang pentingnya membaca bagi anak-anak. (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

Mbak Una mengungkapkan, upaya lain juga dilakukan melalui challenge literasi di media sosial, seperti membaca satu buku setiap minggu, program buku berpindah (bukber), hingga menulis ulasan singkat di kolom komentar media sosial. Cara sederhana tersebut dinilai cukup efektif membangun kebiasaan membaca di kalangan masyarakat dan anak-anak. “Ke depan kami juga menyiapkan program ‘Satu Rumah Satu Buku’ melalui donasi buku bagi keluarga yang belum memiliki akses bacaan di rumah,” jelasnya.

Selain itu, pengembangan Taman Baca Masyarakat (TBM) berbasis masjid dan musala juga tengah didorong agar tempat ibadah dapat menjadi pusat literasi komunitas. Program literasi digital untuk orang tua pun sedang disiapkan agar mereka mampu mendampingi anak dalam mengakses konten digital yang sehat dan edukatif. “Program Kakak Asuh Baca juga kami siapkan, yakni melibatkan siswa SMP dan SMA sebagai relawan membaca bagi anak-anak SD dan PAUD. Kami juga menghidupkan perpustakaan desa melalui kegiatan mendongeng, diskusi buku, hingga pemutaran film edukatif agar terus berkembang dan diminati masyarakat,” paparnya.

Mbak Una sebagai Bunda Baca menyadari budaya membaca di Situbondo saat ini mengalami penurunan akibat pengaruh teknologi, smartphone, dan media sosial. Meski demikian, menurutnya minat anak untuk belajar sebenarnya masih tinggi sehingga harus terus didukung melalui berbagai program literasi. “Yang berkurang bukan semangat belajar anak, tetapi wadah dan stimulusnya. Anak-anak masih sangat antusias ketika ada dongeng, buku bergambar, dan perpustakaan keliling yang datang ke desa mereka,” ungkapnya.

Dari berbagai upaya tersebut, sejumlah capaian mulai terlihat, seperti bertambahnya pojok baca di sekolah dasar dan PAUD, aktifnya perpustakaan keliling menjangkau desa terpencil, meningkatnya partisipasi orang tua dalam kegiatan literasi, hingga terjalinnya kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan, PKK, dan komunitas relawan literasi. “Kami yakin, jika semua pihak berjalan bersama, maka masa depan anak-anak Situbondo akan semakin baik dan penuh ilmu pengetahuan,” pungkasnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#budaya membaca #Literasi Situbondo