RadarSitubondo.id – DPRD mendorong Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) lebih maksimal dalam menangani kasus penyakit LSD atau lato-lato. Jika tidak, harga sapi akan terus turun.
Para peternak resah dengan adanya kasus LSD. Meskipun peliharaannya tidak terpapar, namun masalah penyakit menular itu menyebabkan para pedagang tidak mau membeli sapi dengan harga tinggi. Sehingga mengakibatkan pemilik sapi rugi.
Wakil ketua Komisi II DPRD Situbondo, Abdul Aziz mengatakan, harga sapi di Situbondo menurun. Ini disebabkan para pedagang resah dengan kasus penyakit latot-lato yang terjadi di Situbondo.
“Teman saya beli sapi Rp 100 juta. ketika mau di jual hanya laku sekitar Rp 80 juta. Ini dampak dari adanya penyakit lato-lato. Karena pedagang tidak mau beli sapi di Situbondo dengan harga tinggi. Takut sapi yang dibeli itu terpapar penyakit lato-lato,” ujarnya, Senin (25/3).
Pria yang akrab disapa Aziz itu menyatakan, jika kasus tersebut terus dibiarkan, banyak peternak di Situbondo yang dirugikan.
Maka pemerintah harus mampu menyelesaikan persoalan tersebut agar bisa mengembalikan harga sapi secara normal.
“Kalau ini tidak segera ditangani oleh dinas, kan kasian kepada peternak. Kalau pedagang sih untung dan rugi. Tapi kalau peternak sudah pasti rugi ketika harga jual sapi turun,” jelasnya.
Aziz menilai, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) tidak maksimal menangani penyakit lato-lato. Ini terbukti, kasus penyakit menular yang terjadi sejak tahun 2023 lalu hingga saat ini belum mampu diselesaikan.
“Memang dinas sudah melakukan upaya untuk menangani kasus lato-lato. Tetapi kurang intensif. Mungkin karena lato-lato ini tidak berdampak parah terhadap ternak yang berakibat kematian seperti kasus PMK (penyakit Mulut dan Kuku). Sehingga pengobatannya tidak maksimal, hanya diobati nanti ditunggu sembuh. Faktanya sekarang justru kasus lato-lato menyebar luas,” jelasnya.
Aziz berharap, Disnakkan yang memilik tanggungjawab terhadap penanganan penyakit lato-lato agar segera melakukan tugasnya sebaik mungkin.
Ini demi peternak sapi di Situbondo yang lebih baik. Mereka akan terus dirugikan dengan penyakit tersebut.
“Dinas lebih proaktif untuk melakukan pengecekan terhadap penyakit lato-lato. Yang berdampak sekarang ini. Maksimalkan keberadaan Puskeswan di setiap kecamatan terutama dokter hewan lebih maksimal melakukan pengawasan dan pengobatan, supaya lato-lato di Situbondo tidak ada lagi,” tandasnya.
Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner pada Disnakkan Situbondo, Sulistiyani mengatakan, dirinya sudah berupaya mencegah terjadinya kasus penyakit lato-lato.
Ini dilakukan dengan memberikan vaksin dan pemeriksaan terhadap sapi milik peternak.
“Kami sejak tahun lalu sudah memberikan obat, vaksin dan mengecek sapi milik peternak. Sudah berupaya untuk mencegah penyebaran kasus lato-lato di Situbondo,”ucapnya.
Sulistiyani membantah jika harga sapi turun akibat penyakit lato-lato. Sebab, harga sapi memang fluktuatif. Sehingga kapan saja bisa mengalami penurunan dan kenaikan.
“Harga sapi ini fluktuatif. Ketika permintaannya tinggi maka harganya naik. Tetapi ketika permintaannya sedikit, harganya akan turun,” pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin