JANGKAR, RadarSitubondo.id – Sejumlah warga di Jangkar memastikan tidak ada paguyuban jasa tiket online di area Pelabuhan. Sebab, masyarakat tidak berani menjalankan bisnis tersebut lantaran resikonya sangat besar.
Salah satu warga, Jun mengatakan, untuk mendirikan jasa tiket online perlu pertimbangan besar. Kalau tidak bisa mengelola usaha tersebut, maka bisa mengakibatkan seseorang mengalami kerugian. “Kalau orang mau pesan tiket online itu yang membayar terlebih dahulu adalah pemilik jasa. Setidaknya harus berkorban uang terlebih dahulu,” ujarnya, Selasa (23/1) kemarin.
Jun menyatakan, uang yang sudah terpotong untuk membayar biaya tiket itu tidak bisa dikembalikan. Karena transaksinya melalui pihak bank. Namun resikonya adalah ketika tiket tersebut tidak ditebus oleh konsumen, pemilik jasa akan rugi.
“Nah warga itu tidak berani membuka jasa seperti itu. Saya pun juga tidak berani. Karena resikonya besar, sedangkan untungnya sangat kecil,” jelasnya.
Jun berharap, masyarakat tidak terprovokasi dengan adanya isu tersebut. Sebab, itu hanya akan membuat area Pelabuhan Jangkar tidak kondusif. Tentunya saja kondisi tersebut juga berdampak buruk citra Situbondo terhadap pengguna jasa transportasi laut.
“Jadi jangan sampai kita percaya dengan isu-isu ada paguyuban jasa tiket online. Ini hanya akan membuat Jangkar tidak kondusif,” harapnya.
Sementara itu, Har warga lain mengatakan, sejak pelabuhan Jangkar dibuka, tidak ada paguyuban yang mewadahi tempat penjualan jasa tiket online. Namun, selama ini paguyuban yang didirikan warga adalah pusat informasi untuk calon penumpang kapal. “Kalau paguyuban jasa tiket online tidak ada. Tapi kalau paguyuban pusat informasi itu ada,” ucapnya.
Kata Har, paguyuban tersebut dibentuk untuk memudahkan calon penumpang kapal. Seperti membantu ketika kendaraan yang dikemudikan bermasalah agar bisa kembali normal. Sehingga ketika waktunya kapal berangkat, mereka tidak terlambat.
“Tugasnya itu hanya membantu ketika sopir mengalami ban bocor. Lalu, membantu mengawal kendaraan masuk area pelabuhan. Bahkan, membantu para penggunana jasa kapal mencari tukan pijet dan tempat istirahat,” jelasnya.
Akan tetapi, Har menegaskan, bahwa paguyuban tersebut telah dibubarkan. Hal itu dampak dari munculnya isu paguyuban jasa tiket online. “(paguyuban) sudah dibubarkan kok. Itu paguyubannya sudah tidak ada sekarang. Dibubarkan karena kami takut terkena getahnya kemudian hari,” pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Edy Supriyono