KAPONGAN, RadarSitubondo.id - Sejumlah warga di Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, mengaku resah. Sebab, sapi peliharaannya banyak yang terserang penyakit benjol-benjol. Meskipun tidak mematikan, penyakit yang diduga lumpy skin disease (LSD) itu, membuat harga jual sapi anjlok.
Yayan, salah satu peternak sapi mengatakan jika sapi miliknya terkena penyakit benjol-benjol sejak satu pekan terakhir. Salah satu dampaknya, sapi tidak bisa duduk selama empat hari.
“Sapi saya sudah empat hari berdiri terus, untuk makan dan minum juga sulit. Saya khawatir, begitu sapi sudah duduk tidak bisa berdiri lagi. Semoga saja bisa sembuh,” katanya, Kamis (25/1).
Dikatakan, sapi miliknya dididuga kuat terkena penyakit LSD. Itu disampaikan salah satu dokter hewan yang menangani. Namun, meskipun sudah ditangani, kondisi sapi tetap lemas dan tidak nafsu makan.
“Kata pak mantrinya (dokter hewan) sapi saya kena penyakit lato-lato. Katanya bisa sembuh. Obatnya sudah dikasi, tapi sudah dua hari belum ada perkembangan,” katanya.
Selain sapi Yayan, banyak juga sapi milik warga lainnya yang terkena penyakit serupa. Dari sekian sapi yang terkonfirmasi penyakit benjol-benjol tersebut, belum ada yang sampai mati. Sapi tetap bertahan hidup, namun harga jualnya sudah sangat murah.
“Punya tetangga saya, ada yang beli Rp 10 juta, sekarang hanya ditawar Rp. 5,5 juta. Harusnya sudah belasan juta. Tapi karena kena penyakit benjol-benjol ditawar murah. Ya dikasi, dari pada sapinya mati tambah tidak dapat apa-apa,” tegas Yayan.
Kabid Kesehatan Hewan pada Disnakkan Kabupaten Situbondo Sulistiyani, belum bisa memberikan keterangan lengkap pada Koran ini. Saat dikonfirmasi sekitar pukul 12.40, dia mengaku belum mengantongi data karena petugas pemegang data penyakit hewan tidak ada di kantornya.
“Mohon maaf untuk sementara belum bisa kami jelaskan. Karyawan yang pegang data masih istirahat. Besok pagi (hari ini) akan kami minta datanya, baru bisa kami jelaskan,” kata Sulis singkat. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono