RadarSitubondo.id - Memasuki masa panen jahe, petani di Dusun Cobbuk, Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, mulai sumringah. Sebab, harga tanaman rimpang, khususnya yang masih muda, itu tembus Rp 9 ribu perkilogram (kg).
Musim panen jahe kali ini cukup membuat petani ceria. Sebab, harganya cukup berpihak kepada mereka. Meskipun tidak terlalu mahal, namun petani juga menganggap tidak terlalu murah.
"Saat ini harga jahe yang masih muda sudah Rp 9 ribu perkg. Dibanding tahun lalu, hanya Rp 3 ribu perkg, jelas petani banyak yang rugi saat itu," kata Jaja, salah satu pedagang jahe asal Dusun Mindi, Desa Curah Tatal, kemarin (18/4).
Kata pria 29 tahun itu, khusus jahe super alias sudah tua, bisa tembus Rp 15 ribu perkg. Namun pemesan jahe super belum ada. Kemungkinan satu bulan ke depan baru ada pedagang jahe tua yang mencari.
"Saat ini yang laku hanya jahe muda. Untuk jahe tua belum ada yang pesan. Kalau sudah ada, petani akan tambah senang, karena harganya cukup mahal," tegas Jaja.
Jaja mengaku, penjualan jahe muda di Kota Santri juga tidak mudah. Terbukti, dia harus menjual jahe sekian ton ke luar kabupaten. Seperti ke Bali, Jakarta, Jember, dan kota Malang.
"Pemesan luar kota paling banyak lima ton. Kalau sudah ke luar negeri biasanya butuh puluhan ton, tapi harganya juga lumayan. Tapi kalau hanya pedagang lokal tidak mungkin kuat untuk menjual ke luar negeri, modalnya harus besar," pungkas Jaja. (pri)
Editor : Salis Ali Muhyidin