RadarSitubondo.id - DPRD Situbondo meminta masyarakat aktif mengawasi penjualan isi ulang gas tiga kilogram atau elpiji melon.
Pasalnya, pemerintah baru saja menaikkan harga eceran tertinggi (HET) yang semula Rp 16 ribu menjadi Rp18 ribu sebagaimana tertuang dalam SK Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur No. 100.3.3.1/801/KPTS/013/2024. Jika ada yang menjual di atas harga tersebut, segera dilaporkan.
Ketua Komisi II DPRD Situbondo, Djainur Ridho mengatakan, DPRD beberapa hari ini menerima pengaduan terkait naiknya HET harga isi ulang elpiji melon. Mereka khawatir akan dijual lebih tinggi di tingkat pedagang.
"Aspirasi yang disampaikan warga itu mereka khawatir elpiji tiga kilogram yang dijual di kios-kios, harganya bisa melambung tinggi," ujarnya, Kamis (16/1).
Dikatakan, penjualan isi ulang gas melon di atas HET berpotensi memberatkan warga, terutama kelompok menengah ke bawah yang sangat bergantung terhadap bantuan subsidi pemerintah.
Sehingga, butuh pengawasan bersama-sama untuk memastikan tidak ada pedagang yang menjual dengan harga tinggi.
Pria yang akrab disapa Jainur itu menyampaikan, DPRD akan terus mengawal penjualan isi ulang elpiji melon.
Secara politik, dewan akan mengundang pemerintah daerah, para agen maupun distributor serta aparat penegak hukum untuk memastikan tidak ada kenaikan harga di atas HET.
“Langkah ini selain untuk mencegah kenaikan harga tinggi juga meredam kekhawatiran warga setelah ditetapkan perubahan HET,” katanya.
Dijelaskan, DPRD Situbondo dalam waktu dekat ini berencana akan turun ke lapangan untuk meninjau persediaan tabung gas elpiji melon di agen maupun di tempat pangkalan. Ini dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan yang terjadi di masyarakat.
Selain itu, Jainur meminta, warga yang ekonominya mapan agar tidak menggunakan tabung elpiji melon. Pasalnya, penggunaan gas tiga kilogram itu diperuntukkan untuk warga yang kurang mampu. Sehingga permintaan ke depan tidak semakin besar.
“Kalau warga itu sudah kaya masih menggunakan gas elpiji tiga kilogram, bisa-bisa permintaan semakin tinggi. Kalau sudah seperti itu, biasanya ada pedagang yang curi kesempatan untuk menaikkan harga, maka kasihan dengan warga yang tidak mampu,” pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin