RADARSITUBONDO.ID - Sejumlah warga Asembagus meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertangan) Situbondo tidak mempersulit warga lokal untuk menyewa lahan eks Perusda Banongan.
Sebab, jika lahan tersebut disewa warga lokal, maka bisa ditanami tebu untuk menopang kebutuhan Pabrik Gula (PG) Asembagus.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Asembagus, H. Anggi Firmansyah, mengungkapkan bahwa lahan eks Banongan sudah bertahun-tahun dikuasai warga Banyuwangi.
Seharusnya lahan tersebut ditawarkan kepada warga lokal melalui perangkat desa atau di sosialisasikan. Dengan demikian, warga lokal dapat memanfaatkan lahan tersebut untuk meningkatkan perekonomian.
"Jika lahan tersebut disewakan kepada warga lokal, pasti banyak yang tertarik. Saya sendiri berani menyewa seratus hektare. Bahkan jika diberi seluas 200 hektare juga siap,” ungkap Anggi, Rabu (23/4).
Anggi menegaskan jika lahan eks Banongan sangat strategis untuk menopang kebutuhan giling Pabrik Gula (PG) Asembagus.
Saat ini, PG Asembagus harus mencari tebu dari luar karena lahan pertanian tebu di Situbondo tidak mencukupi.
“PG Asembagus memiliki target giling sebanyak lima juta kuintal tahun ini, namun tahun lalu hanya mencapai 4,2 juta kuintal.
Kalau lahan di Banongan dikuasai warga lokal dan tanam tebu, PG Asembagus dapat meningkatkan produksinya dan memenuhi target yang telah ditetapkan,” ujar Anggi.
Dia berharap pihak berwenang dapat mempertimbangkan untuk memberikan prioritas kepada warga lokal dalam penyewaan lahan eks Perusda Banongan.
Dengan demikian, perekonomian warga lokal dapat meningkat dan kebutuhan tebu PG Asembagus dapat terpenuhi.
“Situbondo punya tiga PG yang masih aktif, kenapa lahan subur malah disulap menjadi lahan melon. kasihan PG yang ada jika tidak mendapat dukungan. Apalagi sampe bilang hanya warga Banyuwangi yang mampu, itu tidak benar, kita juga bisa sewa hanya saja tidak dapat izin. Jadi curiga saya,” kata Anggi.
Kabid Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertangan) Situbondo, Ria Arifiyanti, menegaskan bahwa petani Banyuwangi adalah pihak yang membabat lahan dan berani membayar mahal.
“Dulu warga lokal sudah menyewa tapi bayar setelah panen, eh saya yang dimarahi sama anggota DPRD. Kalau yang dari Banyuwangi ini mau berapa pun harga sewanya juga mau,” tegas Ria Arifiyanti.
Ria Arifiyanti menegaskan bahwa untuk mendapatkan hasil yang banyak hanya bisa disewakan pada orang yang mau tanam melon. Jika hanya ditanami tebu maka harga sewanya dibawah harga sewa melon.
“Sebenarnya PG Asembagus sudah tercukupi, tapi petani tebu sendiri yang banyak tidak mau untuk memasok tebu ke PG Asembagus. Alasan sejumlah petani tebu yang menyampaikan langsung pada saya pembayaran PG Asembagus telat, masih bayar setelah giling,” ungkapnya. (hum/pri)
Editor : Ali Sodiqin