RADARSITUBONDO.ID - Menanam buah Melon di lahan eks Perusda Banongan, Asembagus, Situbondo, hasilnya cukup menggiurkan.
Dalam satu kali panen bisa membawa pulang uang di atas Rp 200 juta. Hasil ini untuk penanaman melon di satu hektare lahan.
Mas Lur Hadi, 45, warga Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi yang menyewa lahan eks Perusda Banongan mengaku sudah belasan tahun menjadi petani buah melon dan semangka.
Awalnya dia hanya sebagai petani kecil yang mengelola tanah dua petak. Kini telah berhasil menyewa lahan hingga puluhan hektare di sejumlah daerah, termasuk di Banongan, Situbondo.
“Keluarga saya memang petani, sejak kecil sudah paham dunia tani. Sejak tahu bekerja, saya fokus bertani buah semangka dan melon,” ujarnya, Jumat (25/4).
Lur Hadi menerangkan, penanaman melon yang dilakukannya saat ini membutuhkan biaya cukup besar. Sekali tanam butuh Rp 100 juta di lahan satu hektare.
Dia berani mengeluarkan modal besar tersebut karena menyadari, jika pertanian beruntung, maka akan mendapat hasil yang tidak sedikit.
“Saya sewa lahan sepuluh hektare, butuh 30 hingga 40 orang pekerja dengan biaya harian Rp 60 ribu perorang. Modal habis Rp 100 juta. Kalau ada rezeki bisa dapat untung dua kali lipat saat panen. Kalau Rp 200 juta dapat, bahkan lebih,” ucap Mas Lur Hadi.
Diakui, sebagai petani pasti memiliki resiko dan tantangan. Misalnya tanaman rusak. Sudah bisa dipastikan mengalami kerugian cukup besar. Namun sebagai petani, tidak boleh menyerah meskipun hasil pertanian tidak menguntungkan.
“Kalau sudah berjuang meningkatkan penghasilan pasti dapat jalan, intinya harus benar-benar ingin dapat untung besar hingga bekerjanya juga sungguh-sungguh. Kalau mau hasil besar tapi kerjanya santai, jarang ke sawah, pasti tidak dapat hasil banyak,” katanya.
Mas Lur Hadi juga berbagi tentang kehidupan sebagai petani yang harus rela tidur di gubuk dan jarang pulang ke rumah.
Baca Juga: Lahan Eks Perusda Banongan Dikuasai Petani Banyuwangi, Kabid Dispertangan: Mereka Siap Bayar Mahal
Bahkan dalam sepekan hanya pulang ke rumah sebanyak dua kali. Selebihnya untuk mengurusi pertanian.
“Sekali dalam seminggu dan hanya bisa tidur di rumah selama dua hari dalam proses tanam. Namanya tidur di gubuk, apalagi tengah sawah, kadang ada hantu, banyak nyamuk, bagaimana lagi, ya harus berani,” pungkas Mas Nur Hadi. (hum)
Editor : Ali Sodiqin