Radar Situbondo.id - Sepinya pengunjung ke kawasan Wisata Kampung Belekok, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Situbondo hari ini, berdampak besar terhadap kelangsungan hidup para pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.
Sejumlah pedagang makanan dan pelaku usaha lainnya kini terpaksa tutup karena tidak lagi mendapatkan penghasilan.
Misruji (68), salah satu pelaku usaha di lokasi wisata Kampung Blekok mengaku sudah tidak bisa melanjutkan usaha kecilnya.
Selain karena sepi, menurutnya tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain berhenti berjualan.
'Kalau dulu saya masih bisa berjualan seadanya, seperti es teh dan camilan, karena masih ada pengunjung. Tapi sekarang sudah saya tutup warungnya, siapa yang mau beli?,' ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Situbondo kemarin (29/6).
Dia mengatakan, bukan hanya dirinya yang berhenti, tetapi juga beberapa pelaku usaha lain mengalami nasib serupa, memutuskan menutup warung mereka.
"Ya, kalau kondisinya seperti ini, lebih baik ditutup saja. Sudah sepi begini, siapa yang mau beli?" tambahnya.
Misruji berharap pemerintah daerah bisa memperhatikan kondisi yang terjadi saat ini.
Sebab menurutnya, warga sekitar selain bekerja sebagai nelayan, dulunya bisa menambah penghasilan dengan berjualan di lokasi wisata tersebut.
'Dulu, dari pintu masuk saja sudah banyak yang jualan di pinggir-pinggir. Sekarang sudah tidak ada lagi. Mudah-mudahan saja bisa kembali seperti semula, agar masyarakat bisa merasakan manisnya wisata ini lagi,' harapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Fatimah, salah satu warga yang sempat berjualan kerajinan tangan dari kerang.
Dia mengatakan, banyak warga yang sebelumnya berjualan kerajinan kini terpaksa berhenti karena tidak ada pembeli.
'Yang masih bertahan hanya yang menjual untuk dikirim ke Bali, karena di Situbondo peminatnya kurang. Tidak tahu kenapa, kok bisa berbeda,' ucapnya.
Fatimah menjelaskan sebelum lokasi wisata ini sepi, banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Kampung Blekok.
'Dulu itu yang datang ada turis, yang kulitnya putih-putih itu, juga pecinta kerajinan tangan seperti orang Bali. Tapi sejak tempat ini sepi, mereka sudah tidak pernah datang lagi. Sekarang kerajinannya hanya dikirim ke Bali,' jelasnya.
Lebih lanjut, Fatimah menyebutkan sepinya pengunjung salah satu penyebabnya adalah kondisi wisata yang saat ini sudah tidak lagi terawat.
Dibiarkan begitu saja. Sehingga, bangunan dan fasilitas banyak yang rusak.
'Kalau tempat wisatanya tidak bagus, siapa yang mau datang ke sini? Pelaku usaha seperti saya sudah tidak bisa berbuat banyak. Yang penting tetap bersyukur dan berusaha,' tutupnya. (pri)
Editor : Edy Supriyono