RADARSITUBONDO.ID - Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Situasi ini berkembang cepat setelah Teheran merespons dengan aksi militer yang menyasar sejumlah fasilitas militer AS di kawasan serta mengambil langkah strategis dengan membatasi perlintasan di Selat Hormuz.
Eskalasi tersebut berdampak langsung terhadap jalur distribusi energi global. Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia kini mengalami gangguan serius.
Kondisi ini menciptakan blokade de facto yang menghambat arus ekspor energi dan memicu kekhawatiran pasar internasional.
Baca Juga: Inggris Kehilangan 8 Pemain, Cedera Jadi Tantangan Tuchel Jelang Uji Coba
Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga secara global. Terganggunya pasokan menyebabkan lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara. Ketidakpastian distribusi energi membuat pasar bereaksi cepat, terutama karena sebagian besar kebutuhan energi dunia bergantung pada jalur tersebut.
Sejak awal operasi militer, sekitar 1.900 kapal komersial dilaporkan tertahan di sekitar Teluk Persia. Kapal-kapal tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat meningkatnya risiko keamanan di perairan strategis itu. Sejumlah kapal besar bahkan memilih bertahan di perairan terbuka sembari menunggu situasi lebih kondusif.
Teheran mengambil langkah selektif dengan menutup akses bagi kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel. Kebijakan ini secara efektif menghentikan lalu lintas maritim bagi pihak yang dianggap terlibat dalam agresi. Meski demikian, Iran menegaskan bahwa jalur tersebut tidak sepenuhnya ditutup.
Baca Juga: Cedera Raphinha Bikin Barcelona Krisis Jelang Liga Champions
Pemerintah Iran membuka peluang bagi negara-negara yang tidak terlibat konflik untuk tetap melintasi Selat Hormuz dengan syarat tertentu. Negara-negara yang dinilai tidak bermusuhan serta mematuhi aturan keselamatan dan keamanan tetap diperbolehkan melanjutkan pelayaran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa sejumlah negara sahabat telah diberikan izin. “Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki alasan untuk memberikan akses kepada pihak yang dianggap sebagai musuh.
Selain negara-negara tersebut, beberapa negara Asia Tenggara juga memperoleh akses terbatas. Pemerintah Malaysia menyatakan kapal tanker mereka dapat melintasi selat tersebut.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan apresiasi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin yang diberikan. “Sekarang kami sedang dalam proses kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” kata Anwar.
Namun, ia juga menekankan bahwa situasi tetap kompleks karena Iran masih berhati-hati dalam membuka jalur damai tanpa jaminan keamanan yang kuat. Hal ini mencerminkan tingkat ketidakpercayaan yang masih tinggi di tengah konflik yang berlangsung.
Di sisi lain, Thailand berhasil mengamankan izin bagi salah satu kapal tanker mereka setelah melalui koordinasi bilateral. Otoritas setempat menyebut kapal tersebut telah melewati Selat Hormuz dengan aman dan kini dalam perjalanan kembali ke negaranya. Upaya serupa masih dilakukan untuk kapal lainnya.
Negara Asia Selatan seperti Bangladesh juga termasuk dalam kategori yang diizinkan. Meski belum ada komunikasi resmi secara spesifik, kapal yang menuju Bangladesh disebut tidak menghadapi hambatan dalam pelayaran mereka di kawasan tersebut.
Bagi Indonesia, pemerintah memastikan adanya perkembangan positif terkait dua kapal tanker milik Pertamina yang sempat tertahan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyatakan bahwa Iran telah memberikan respons positif atas permintaan agar kapal tersebut dapat melintas dengan aman. “Dalam perkembangannya, telah terjadi tanggapan positif dari pihak Iran,” ujarnya.
Baca Juga: Kebakaran Bus Umrah di Arab Saudi, Pemerintah Dorong Kompensasi Jamaah Kepada Pihak Terkait
Meski demikian, proses teknis dan operasional masih berlangsung dan belum ada kepastian waktu kapan kapal tersebut dapat keluar dari kawasan Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran juga membuka komunikasi dengan Jepang terkait kemungkinan fasilitasi pelayaran. Abbas Araghchi menegaskan bahwa jalur tersebut pada prinsipnya tetap terbuka. “Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak menginginkan sekadar gencatan senjata, tetapi penyelesaian konflik yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Editor : Bayu Shaputra