RADARSITUBONDO.ID - Di tengah tekanan global akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Indonesia memilih langkah berbeda dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam merespons lonjakan harga energi.
Ketika sebagian besar negara di kawasan menaikkan harga bahan bakar minyak, pemerintah Indonesia justru mempertahankan stabilitas harga BBM dalam negeri.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026 mendorong harga minyak mentah global melampaui 103 dolar AS per barel. Situasi semakin memanas setelah muncul ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia.
Kondisi ini memicu kepanikan di pasar energi internasional dan berdampak langsung pada kebijakan energi di berbagai negara.
Baca Juga: Herdman Bela Sananta, Samakan Perannya dengan Olivier Giroud
Sejumlah negara di kawasan ASEAN merespons dengan menaikkan harga BBM. Thailand mencabut pembatasan harga serta mengurangi subsidi pada 26 Maret 2026, yang membuat harga solar naik menjadi 38,99 baht atau sekitar Rp17.500 per liter.
Filipina bahkan menetapkan status darurat energi, dengan lonjakan harga bensin RON 95 mencapai Rp24.316 per liter.
Di Malaysia, harga solar non-subsidi naik signifikan hingga menyentuh 4,72 ringgit per liter. Sementara itu, Vietnam mencatat kenaikan paling tajam dengan lonjakan harga solar hampir 34 persen. Singapura, yang menerapkan mekanisme harga pasar penuh, mencatat harga bensin RON 95 tertinggi di kawasan hingga mencapai Rp43.600 per liter.
Baca Juga: Mauro Zijlstra Cedera, PSSI Panggil Jens Raven Jelang Final Indonesia vs Bulgaria
Berbeda dari tren regional tersebut, Indonesia tetap mempertahankan harga BBM subsidi. Harga Pertalite bertahan di Rp10.000 per liter dan solar subsidi di Rp6.800 per liter sejak awal Maret 2026. Kebijakan subsidi pemerintah menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas ini.
Berdasarkan data Global Petrol Prices per 23 Maret 2026, harga bensin RON 95 di Indonesia berada di kisaran Rp12.390 per liter, jauh lebih rendah dibanding rata-rata global dan menjadi yang termurah di Asia Tenggara.
Ekonom dari Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo, menilai bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi yang terjadi sebelumnya masih tergolong wajar. Ia menyebut penyesuaian tersebut mengikuti mekanisme pasar internasional dengan acuan Mean of Platts Singapore dan Argus, serta mempertimbangkan pergerakan nilai tukar rupiah.
Meski demikian, tekanan terhadap anggaran negara tidak dapat dihindari. Lonjakan harga minyak dunia yang menembus di atas 100 dolar AS per barel menjadi tantangan serius bagi fiskal pemerintah.
Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel. Kenaikan di atas angka tersebut berpotensi memperlebar defisit anggaran, yang sebelumnya diperkirakan mencapai Rp381 triliun untuk subsidi energi.
Baca Juga: Sekolah Daring di Situbondo Segera Diterapkan? Dispendikbud Masih Tunggu Keputusan Bupati!
Perbedaan respons antarnegara ASEAN mencerminkan strategi kebijakan yang beragam dalam menghadapi krisis energi global. Sebagian besar negara memilih sistem harga mengambang yang mengikuti pasar internasional secara langsung.
Sementara itu, Indonesia menempatkan perlindungan daya beli masyarakat sebagai prioritas melalui kebijakan subsidi dan kompensasi energi.
Perbandingan harga BBM di kawasan menunjukkan selisih yang cukup mencolok. Singapura berada di posisi tertinggi dengan harga mencapai Rp43.600 per liter, diikuti Filipina Rp24.316 per liter, Thailand Rp23.369 per liter, serta Laos Rp29.879 per liter. Indonesia tetap menjadi yang terendah dengan harga Rp12.390 per liter untuk RON 95.
Editor : Bayu Shaputra