RADARSITUBONDO - Harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin, 6 April 2026. Saham emiten energi milik Prajogo Pangestu ini tercatat turun hingga 15,34 persen dan menyentuh level Rp4.140 per saham.
Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir, bahkan tercermin dalam kinerja mingguan hingga bulanan saham BREN yang terus bergerak menurun.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah struktur kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi. Berdasarkan keterbukaan informasi, sekitar 97,31 persen saham BREN dikuasai oleh kelompok pemegang saham besar, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat.
Kondisi ini membuat jumlah saham yang beredar di publik atau free float menjadi sangat terbatas. Dalam praktik pasar modal, struktur kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi kerap memicu volatilitas tinggi karena likuiditas saham menjadi rendah dan pergerakan harga lebih mudah terpengaruh oleh transaksi dalam jumlah kecil.
Baca Juga: Resmi Dibuka! Cara Daftar Beasiswa LPDP 2026: Syarat, Jadwal dan Kampus Tujuan
Selain itu, sentimen negatif juga datang dari keputusan perusahaan yang mempercepat pengakhiran program pembelian kembali saham (buyback). Awalnya, program buyback dijadwalkan berlangsung hingga 3 Mei 2026, namun diputuskan berakhir lebih cepat pada 1 April 2026.
Direktur Utama Barito Renewables Energy, Hendra Soetjipto Tan, menyatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi pasar modal Indonesia serta stabilitas harga saham perusahaan.
“Percepatan pengakhiran periode pembelian kembali saham BREN ini karena kondisi pasar modal Indonesia serta harga saham BREN yang telah relatif stabil,” ujarnya dalam keterbukaan informasi.
Padahal sebelumnya, pada 3 Februari 2026, BREN mengumumkan rencana buyback sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.
Namun, di mata investor, penghentian buyback lebih awal justru memunculkan kekhawatiran. Buyback umumnya dipandang sebagai sinyal dukungan perusahaan terhadap harga sahamnya. Ketika program tersebut dihentikan lebih cepat, sebagian pelaku pasar menilai dukungan tersebut berkurang.
Di sisi lain, tekanan terhadap saham energi juga tidak terlepas dari sentimen global, termasuk pergerakan harga energi terbarukan dan dinamika suku bunga yang memengaruhi aliran dana investor ke aset berisiko.
Dengan kombinasi faktor internal seperti struktur kepemilikan dan kebijakan buyback, serta tekanan eksternal dari kondisi pasar, saham BREN kini berada dalam fase volatilitas tinggi yang perlu dicermati investor.
Editor : Agung Sedana