RADARSITUBONDO - Harga bahan baku plastik global mengalami lonjakan signifikan sepanjang awal 2026. Sejumlah jenis resin utama seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) tercatat mengalami kenaikan tajam dalam waktu singkat, memicu kekhawatiran di sektor industri.
Berdasarkan data pasar komoditas internasional, harga polyethylene (PE) tercatat naik sekitar 26 persen dalam periode bulanan. Sementara itu, polypropylene (PP) juga mengalami kenaikan signifikan di kisaran 19 persen hingga lebih dari 20 persen dalam periode yang sama.
Kenaikan ini tergolong tinggi untuk komoditas bahan baku industri, mengingat lonjakan di atas 10 persen dalam waktu singkat sudah dianggap cukup ekstrem dalam perdagangan resin plastik.
Di tingkat distribusi, kenaikan harga juga terlihat secara bertahap. Beberapa laporan pasar menunjukkan harga polypropylene dan linear low-density polyethylene (LLDPE) mengalami penyesuaian sekitar 20 hingga 30 dolar AS per ton dalam satu siklus kenaikan. Kenaikan bertahap ini biasanya terjadi berulang, sehingga berdampak pada harga akhir yang lebih tinggi di pasar.
Baca Juga: Apple Rilis iOS 26.5 Public Beta, Hadirkan Fitur Baru dan Iklan di Apple Maps
Di Indonesia, harga biji plastik juga menunjukkan tren meningkat. Untuk beberapa jenis umum, harga kini berada pada kisaran Rp9.500 hingga Rp24.500 per kilogram, tergantung jenis dan kualitas material. Angka ini menunjukkan kenaikan dibandingkan periode sebelumnya, terutama untuk jenis plastik teknik seperti ABS dan material berbasis styrene.
Kenaikan harga plastik ini tidak terjadi tanpa sebab. Faktor utama yang mendorong lonjakan adalah naiknya harga minyak dunia, yang menjadi bahan dasar industri petrokimia. Selain itu, gangguan rantai pasok global dan meningkatnya permintaan dari sektor manufaktur turut memperketat ketersediaan bahan baku.
Beberapa jenis plastik bahkan mengalami tekanan lebih besar akibat kelangkaan pasokan. Kondisi ini membuat harga melonjak lebih cepat dibandingkan jenis lain, terutama untuk resin yang bergantung pada bahan baku tertentu.
Di sisi lain, nilai tukar dan ketergantungan impor juga memperkuat tekanan harga di pasar domestik. Indonesia masih mengandalkan bahan baku impor untuk sejumlah jenis plastik, sehingga fluktuasi global langsung berdampak pada harga di dalam negeri.
Dampak kenaikan ini mulai dirasakan oleh pelaku industri, terutama sektor kemasan, makanan dan minuman, serta usaha kecil menengah yang bergantung pada bahan plastik. Biaya produksi meningkat, sementara daya beli pasar belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah pelaku industri mulai melakukan penyesuaian, seperti mengurangi volume produksi, meningkatkan efisiensi, hingga mencari alternatif bahan baku yang lebih terjangkau.
Dengan kondisi global yang masih dinamis, harga plastik diperkirakan masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika harga energi dan pasokan bahan baku belum stabil.
Editor : Agung Sedana