RADARSITUBONDO - Brand minuman teh kekinian Menantea dipastikan menghentikan seluruh aktivitas bisnisnya mulai 25 April 2026. Keputusan ini menandai berakhirnya perjalanan usaha yang telah berjalan selama lima tahun sejak pertama kali diluncurkan pada April 2021.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh Jehian Polin, yang mendirikan Menantea bersama sang adik, Jerome Polin. Dalam pernyataan resminya, Jehian menyebut bahwa perjalanan bisnis ini memberikan banyak pelajaran penting, meskipun pada akhirnya harus ditutup secara permanen.
Pada masa awal berdiri, Menantea dikenal sebagai salah satu brand minuman yang berkembang sangat cepat. Dalam waktu relatif singkat, perusahaan berhasil membuka lebih dari 200 gerai di berbagai kota di Indonesia. Ekspansi agresif ini sempat menjadikan Menantea sebagai salah satu pemain kuat di industri minuman kekinian yang tengah booming.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, perusahaan ternyata menghadapi sejumlah tantangan serius. Jehian mengungkapkan bahwa salah satu kesalahan terbesar adalah kurangnya riset mendalam terhadap mitra bisnis yang diajak bekerja sama. Selain itu, pengawasan terhadap kondisi operasional di lapangan dinilai belum berjalan optimal.
Permasalahan lain yang muncul meliputi keterlambatan pembayaran kepada supplier, laporan dari mitra terkait kondisi gerai, hingga adanya indikasi praktik tidak sehat di internal perusahaan. Hal-hal ini perlahan berdampak pada stabilitas bisnis dan kepercayaan para pihak yang terlibat.
Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, manajemen Menantea sempat melakukan langkah-langkah perbaikan. Di antaranya adalah audit investigasi bersama kantor akuntan publik, penyelesaian kewajiban terhadap karyawan dan pemasok, serta pembenahan sistem laporan keuangan dan perpajakan.
Jehian menyebut proses pembenahan ini berlangsung dalam kurun waktu sekitar dua tahun terakhir. Bahkan, sebagian besar upaya tersebut dilakukan dengan menggunakan dana pribadi demi menjaga keberlangsungan perusahaan dan memenuhi tanggung jawab kepada para pihak terkait.
Meski demikian, berbagai upaya tersebut belum mampu mengembalikan kepercayaan mitra dan pelanggan secara penuh. Rasa kecewa yang sudah terlanjur muncul dinilai sulit diperbaiki dalam waktu singkat, sehingga kondisi bisnis tidak lagi memungkinkan untuk dipertahankan.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, manajemen akhirnya memutuskan untuk menghentikan seluruh operasional Menantea secara permanen. Keputusan ini diambil sebagai langkah akhir untuk mencegah potensi masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Menjelang penutupan, Menantea menggelar program clearance sale di sejumlah gerai hingga 25 April 2026. Program ini diharapkan dapat membantu mitra yang masih beroperasi sekaligus menghabiskan stok yang tersisa sebelum bisnis resmi berhenti sepenuhnya.
Penutupan Menantea menjadi pengingat bahwa pertumbuhan bisnis yang cepat perlu diimbangi dengan fondasi manajemen yang kuat, terutama dalam hal pengelolaan mitra, transparansi keuangan, serta pengawasan internal.
Editor : Agung Sedana