RADARSITUBONDO - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus level Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi. Pelemahan ini menjadi sorotan karena menyentuh posisi terlemah sepanjang masa dalam perdagangan intraday.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global yang turut menekan mata uang di kawasan Asia.
Berdasarkan data Refinitiv, hingga pukul 09.32 WIB, rupiah tercatat melemah 0,79 persen ke level Rp17.305 per dolar AS. Angka ini memperpanjang tren pelemahan dan mencatat rekor terendah baru secara harian.
Destry menegaskan, pelemahan rupiah tidak terjadi secara tunggal, melainkan sejalan dengan pergerakan mata uang regional yang juga mengalami tekanan akibat faktor global.
Baca Juga: Perang AS vs Iran Belum Berujung, Gedung Putih Tegaskan Keputusan di Tangan Trump
“Tekanan terhadap rupiah sejak pagi lebih banyak dipengaruhi ketidakpastian global. Mata uang di kawasan juga mengalami kondisi serupa,” ujarnya.
Untuk meredam gejolak tersebut, Bank Indonesia memastikan akan terus melakukan intervensi secara intensif di pasar keuangan. Langkah yang ditempuh mencakup intervensi di pasar offshore melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Menurut Destry, kebijakan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan daya tarik aset domestik di tengah tekanan global yang masih berlangsung, termasuk dampak konflik di kawasan Timur Tengah.
Secara kinerja tahunan, rupiah tercatat melemah sekitar 3,54 persen sejak awal tahun. Meski demikian, kondisi fundamental dinilai masih cukup kuat dengan cadangan devisa Indonesia berada di level US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026.
Sementara itu, tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS pada perdagangan yang sama.
Baca Juga: Katanya MBG Sembelih 19 Ribu Ekor Sapi Setiap Hari? Faktanya Menunya Kok Gitu-gitu Aja
Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, diikuti peso Filipina yang turun 0,62 persen ke level PHP 60,46 per dolar AS, serta baht Thailand yang melemah 0,43 persen ke posisi THB 32,36 per dolar AS.
Mata uang lain seperti won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dolar Taiwan, dolar Singapura, hingga yuan China juga mengalami pelemahan dengan skala yang lebih kecil.
Di tengah tekanan tersebut, hanya dua mata uang yang masih mampu menguat, yakni dong Vietnam yang naik tipis 0,08 persen dan yen Jepang yang menguat 0,01 persen terhadap dolar AS.
Dengan kondisi ini, pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi dinamika global. Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas melalui berbagai instrumen yang tersedia guna meredam volatilitas di pasar keuangan domestik.
Editor : Agung Sedana