Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Harga Telur Ayam Terjun Bebas, Peternak Situbondo Menjerit: Untung Hilang, Terancam Bangkrut

Ahmad Rifa'ie • Jumat, 26 Juni 2026 | 20:46 WIB
DIOBRAL MURAH: Seorang pedagang memasang tulisan "Harga Telur Murah" di lapaknya di Pasar Panji, Kecamatan Panji, Situbondo, Jumat (26/6). (Ahmad Rifa
DIOBRAL MURAH: Seorang pedagang memasang tulisan "Harga Telur Murah" di lapaknya di Pasar Panji, Kecamatan Panji, Situbondo, Jumat (26/6). (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Harga telur ayam di tingkat peternak terus merosot tajam. Hingga saat ini, harga telur diperkirakan hanya berkisar Rp 19 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat peternak semakin tertekan karena biaya produksi, terutama harga pakan masih tinggi.

Ketua Asosiasi Peternak Layer Situbondo (APLS), Hafif mengatakan harga telur terus merosot dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, harga jual yang rendah tidak sebanding dengan biaya produksi sehingga peternak mengalami kerugian dan terancam gulung tikar apabila kondisi ini berlangsung lama. "Kalau harga telur ayam terus anjlok, pasti banyak peternak yang rugi dan terancam gulung tikar," katanya.

Dia menjelaskan, meski masih ada pemasukan, keuntungan yang diperoleh peternak sangat tipis. Harga pakan ayam saat ini mencapai sekitar Rp 390 ribu persak (50 kilogram). Sedangkan kebutuhan pakan cukup besar, terutama bagi peternak yang memiliki populasi ayam dalam jumlah banyak. " Kalau harga telur hanya Rp 19 ribu per kilogram, kami praktis hanya bekerja tanpa mendapatkan keuntungan," ujarnya.

Menurut Hafif, rendahnya harga di tingkat peternak juga berdampak pada harga di pasaran. Jika harga dari peternak sekitar Rp 19 ribu per kilogram, maka harga di pasar hanya berkisar Rp 22 ribu hingga Rp 22.500 perkilogram. "Semoga kondisi ini segera membaik," harapnya.

Dia menilai anjloknya harga telur terjadi bersamaan dengan terhentinya sementara pendistribusian program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah. Akibatnya, pasokan telur melimpah, sementara permintaan menurun. "Telur melimpah, tetapi pembelinya berkurang, sehingga harganya anjlok," jelasnya.

Hafif khawatir kondisi tersebut akan terus berlanjut. Pasalnya, program MBG diperkirakan berhenti sementara selama masa libur sekolah, mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026 atau sekitar 21 hari. "Bahkan di pasar modern yang biasanya lebih mahal, telur ayam dijual sekitar Rp 21 ribu per kilogram," tambahnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, wartawan Jawa Pos Radar Situbondo telah berupaya mengonfirmasi Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Situbondo, Prio Andoko. Namun, ia mengarahkan agar persoalan tersebut dikonfirmasikan kepada Dinas Peternakan yang membidangi sektor peternakan. "Solusi dan teknis mengenai telur ayam serta peternak ayam, insyaallah lebih tepat dikonfirmasi kepada Kepala Dinas Peternakan," ujarnya singkat. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #harga telur ayam