Dari Lahan Tandus Jadi Kebun Produktif, Petani Situbondo Panen 1,5 Ton Alpukat Super Tiap Pekan

Moh Humaidi Hidayatullah • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 21:06 WIB
MUSIM PANEN: Sejumlah warga sibuk menyortir buah alpukat, di rumah Hariyono, 50, warga Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Minggu (19/7). (HUMAIDI/JPRS)
MUSIM PANEN: Sejumlah warga sibuk menyortir buah alpukat, di rumah Hariyono, 50, warga Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Minggu (19/7). (HUMAIDI/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Siapa sangka lahan tandus di kaki perbukitan Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, kini berubah menjadi hamparan kebun alpukat produktif. Berkat ketekunan sejak 2019, Hariyono (50) mampu memanen hingga 1,5 ton alpukat super setiap pekan dari lahan seluas 32 hektare, sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Kesuksesan itu tidak diraih dalam waktu singkat. Ribuan bibit alpukat yang ditanam enam tahun lalu kini telah tumbuh menjadi pohon-pohon produktif dengan hasil panen mencapai puluhan ton setiap bulan. Buah-buah berkualitas tersebut dipasarkan hingga ke luar Kabupaten Situbondo, terutama wilayah Malang.

"Tanamnya sudah sekian tahun lalu, sekarang ini sudah tinggal panen saja tiap Minggu. Alhamdulillah bisa membuka lapangan kerja bagi warga. Kalau panen kami butuh delapan orang," ujar Hariyono, Minggu (19/7).

Dalam satu kali panen mingguan, kebunnya mampu menghasilkan sekitar 1 hingga 1,5 ton alpukat dengan kualitas premium. Beragam varietas unggulan dibudidayakan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Menurut Hariyono, kebunnya ditanami beberapa jenis alpukat premium, mulai Alpukat Mentega dan Alpukat Miki yang terkenal dengan tekstur lembut, hingga Alpukat Aligator dan Alpukat Kendil yang memiliki ukuran jumbo. Selain itu, terdapat pula varietas Reed dan Wina yang memiliki pasar tersendiri.

"Alpukat Mentega dan Alpukat Miki dikenal bertekstur lembut, Alpukat Aligator dan Alpukat Kendil berukuran jumbo. Ada juga Alpukat Reed dan Alpukat Wina. Semuanya super," katanya.

Panen Berlangsung Tiga hingga Empat Hari

Setiap musim panen mingguan, para pekerja memetik buah dari pohon, kemudian melakukan penyortiran berdasarkan jenis dan kualitas. Setelah dikemas dengan rapi, alpukat langsung dikirim untuk memenuhi permintaan konsumen di wilayah Malang.

"Saya sudah lupa berapa kali panen sejak pohon-pohon ini mulai berbuah. Yang jelas, setiap minggu panen terus. Proses panen ini biasanya memakan waktu tiga sampai empat hari sampai selesai," ujarnya.

Keberadaan kebun alpukat tersebut juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Saat panen berlangsung, sedikitnya delapan warga setempat dilibatkan untuk membantu proses pemetikan, penyortiran, hingga pengemasan buah.

Sempat Bingung Mencari Pasar

Hariyono mengaku sempat diliputi keraguan ketika pertama kali menanam ribuan bibit alpukat. Saat itu ia belum memiliki gambaran mengenai pasar yang akan menyerap hasil panennya. Namun, seiring meningkatnya kualitas produksi dan permintaan konsumen, kekhawatiran tersebut perlahan hilang.

Lahan seluas 32 hektare yang dikelolanya terdiri atas kawasan perbukitan, lahan tandus, hingga area datar yang memiliki sumber air memadai. Kondisi tersebut justru menjadi keunggulan untuk membudidayakan berbagai varietas alpukat unggulan.

"Dulu tanam ribuan bibit sempat bingung mau dijual ke mana. Tapi kalau dijalani, semuanya jadi gampang. Pesanan dari luar kabupaten sudah banyak," pungkasnya.

Keberhasilan Hariyono menjadi bukti bahwa pengelolaan lahan secara serius dan berkelanjutan mampu mengubah kawasan yang semula kurang produktif menjadi sentra hortikultura bernilai ekonomi tinggi. Selain meningkatkan pendapatan petani, usaha tersebut juga menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat sektor pertanian unggulan di Kabupaten Situbondo. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
alpukat Situbondo petani alpukat alpukat super panen alpukat banyuputih