RADARSITUBONDO.ID - Saham PT Multipolar Tbk (MLPL) mencatat kenaikan tajam dalam beberapa pekan terakhir, dengan penguatan mingguan mencapai hampir 10 persen dan lonjakan harian dua digit pada sejumlah sesi perdagangan pertengahan Juli 2026.
Penyebab utamanya bukan perbaikan kinerja bisnis MLPL sendiri, melainkan efek rambatan dari aksi korporasi anak usahanya, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), yang melaksanakan stock split dengan rasio 1:25 pada 21 Juli 2026.
Momentum ini diperkuat oleh tren IHSG yang sedang menguat serta pola perilaku investor ritel yang kerap keliru membedakan kode saham MLPL dan MLPT karena kemiripan nama dan logo perusahaan.
Dari sisi fundamental, kondisi MLPL sesungguhnya jauh dari solid. Margin laba bersih perusahaan masih berada di zona negatif dan return on investment tercatat minus. Artikel ini mengurai kronologi kenaikan harga, mekanisme di balik efek domino antar-emiten grup Multipolar, serta sudut pandang yang jarang diangkat media arus utama soal siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari euforia ini.
Kronologi Kenaikan Harga Saham MLPL
Pergerakan harga MLPL mulai mencuri perhatian sejak pertengahan Juli 2026, bersamaan dengan rentetan sentimen positif di lantai bursa. Berikut rangkaian datanya:
- Pada penutupan perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, MLPL menguat 10,98 persen atau naik 9 poin ke level Rp91 per lembar, sejalan dengan IHSG yang ditutup naik 1,10 persen ke posisi 6.108.
- Pada hari yang sama, saham MLPT justru menjadi salah satu top gainer dengan kenaikan 19,98 persen ke Rp24.775 per lembar, jauh sebelum aksi stock split resmi berlaku.
- Sepekan berikutnya, tepatnya per 19 Juli 2026, data TradingView mencatat MLPL sudah naik 9,76 persen dibanding pekan sebelumnya dan 5,88 persen dalam sebulan terakhir. Meski demikian, dalam basis setahun saham ini masih tercatat minus 15,89 persen, menandakan kenaikan belakangan ini lebih bersifat pembalikan jangka pendek ketimbang tren struktural.
- Stock split MLPT dengan rasio 1:25 resmi berlaku mulai 21 Juli 2026, mengubah nilai nominal saham dari Rp100 menjadi Rp4 per lembar dan menambah jumlah saham beredar dari 1,875 miliar menjadi 46,875 miliar lembar.
Pola ini menunjukkan bahwa lonjakan MLPL berjalan paralel, bahkan cenderung mengekor, pergerakan MLPT. Ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi langsung dari struktur kepemilikan silang di dalam grup usaha yang sama.
Mengapa Aksi Korporasi Anak Usaha Bisa Mengerek Saham Induk
Titik penting yang jarang dijelaskan secara gamblang oleh media keuangan arus utama adalah mekanisme akuntansi di balik kenaikan ini. MLPL bukan sekadar pemegang saham biasa di MLPT, melainkan induk usaha yang mencatat kepemilikannya sebagai aset keuangan dalam laporan keuangan konsolidasi.
Fenomena ini bahkan tercermin jelas pada laporan keuangan PT First Media Tbk (KBLV), emiten lain yang juga tergabung dalam ekosistem Grup Multipolar. Berdasarkan penelusuran laporan keuangan kuartal II 2025, KBLV mencatat unrealized gain atas aset keuangan senilai Rp1,26 triliun, berbalik signifikan dari kerugian Rp24,9 miliar pada periode sebelumnya.
Kenaikan itu seluruhnya bersumber dari apresiasi nilai investasi saham KBLV di MLPT yang diklasifikasikan sebagai instrumen keuangan fair value through other comprehensive income (FVTOCI). Padahal secara operasional, skala bisnis inti KBLV justru menyusut ekstrem hingga hanya menyisakan dua karyawan tetap.
Pola serupa berpotensi terjadi pada MLPL. Ketika harga saham MLPT melonjak akibat sentimen stock split, nilai wajar kepemilikan saham MLPL di MLPT ikut terkerek di atas kertas, meskipun tidak ada perbaikan arus kas riil dari sisi operasional. Inilah yang oleh sebagian pelaku pasar disebut sebagai kenaikan berbasis valuasi silang, bukan pertumbuhan bisnis yang genuine.
Faktor Psikologis: Kemiripan Kode Saham yang Membingungkan Investor Ritel
Sudut pandang kedua yang layak disorot adalah perilaku pasar itu sendiri. Di berbagai forum diskusi saham, muncul cukup banyak komentar investor ritel yang mengakui salah masuk order karena keliru membedakan MLPL dan MLPT. Kemiripan nama, logo, dan sektor usaha membuat sebagian trader pemula tidak sempat memverifikasi kode saham secara teliti sebelum bertransaksi.
Dalam praktiknya, pola ini kerap terjadi pada saham-saham dengan nama emiten yang beririsan dalam satu grup usaha besar, terutama saat salah satu di antaranya sedang ramai diperbincangkan karena aksi korporasi. Arus order yang salah sasaran turut menambah volume transaksi pada saham yang sebenarnya tidak menjadi target utama investor, dalam kasus ini MLPL yang kebagian limpahan minat pasar yang sesungguhnya tertuju ke MLPT.
Kondisi Fundamental MLPL yang Perlu Diwaspadai
Di balik euforia harga, data fundamental MLPL memperlihatkan gambaran yang jauh berbeda dari performa harga sahamnya. Beberapa indikator kunci per periode terakhir yang tercatat:
- Margin laba bersih trailing twelve months berada di kisaran minus 1 persen, menandakan perusahaan masih merugi secara agregat.
- Return on investment (ROI) tercatat minus 1,96 persen.
- Rasio total utang terhadap ekuitas berada di level 20,39 persen, tergolong moderat namun tetap perlu dipantau mengingat perusahaan belum mencetak laba bersih yang konsisten.
- Earning per share (EPS) trailing twelve months tercatat minus 8,05, mengonfirmasi kerugian yang masih membebani laporan keuangan.
- Perusahaan tidak membagikan dividen kepada pemegang saham, sehingga daya tarik investasi jangka panjang lebih bergantung pada capital gain ketimbang arus kas rutin ke investor.
Secara historis, MLPL, yang sebelumnya bernama PT Multipolar Corporation Tbk sebelum berganti nama pada Juli 2007, merupakan induk dari berbagai unit bisnis lintas sektor seperti PT Matahari Department Store Tbk, jaringan hiburan keluarga Timezone melalui PT Matahari Graha Fantasi, toko buku Books & Beyond, hingga PT First Media Tbk. Model bisnis sebagai perusahaan investasi multisektor membuat pergerakan sahamnya sangat sensitif terhadap valuasi anak-anak usahanya, bukan semata kinerja operasional induk.
Perbandingan Singkat MLPL dan MLPT
Untuk memperjelas duduk perkara, berikut perbedaan mendasar kedua saham yang kerap tertukar tersebut:
- MLPL adalah perusahaan induk investasi multisektor yang menaungi bisnis ritel, teknologi, dan properti, dengan kondisi keuangan yang masih mencatat kerugian bersih.
- MLPT adalah anak usaha di segmen teknologi informasi yang baru saja melakukan stock split 1:25 dan menjadi pusat perhatian pasar karena lonjakan harga signifikan sebelum aksi korporasi tersebut berlaku.
- Kenaikan harga MLPT bersifat langsung akibat sentimen stock split dan minat spekulatif jangka pendek, sementara kenaikan MLPL lebih bersifat tidak langsung, terdorong oleh apresiasi nilai kepemilikan silang serta arus order ritel yang keliru sasaran.
- MLPT memiliki catatan kepemilikan yang melibatkan First Media Tbk dan Multipolar Tbk sebagai pemegang saham signifikan, sehingga pergerakan salah satu entitas cenderung merembet ke entitas lain dalam satu ekosistem grup.
Sejumlah trader mempertanyakan keberlanjutan tren ini. Ada pandangan yang menilai stock split MLPT hanya berfungsi sebagai strategi menarik minat investor ritel, mengingat free float saham tersebut dinilai masih terbatas dan pembagian dividen relatif kecil dibanding valuasi harga yang telah terbentuk.
Sebaliknya, sebagian pelaku pasar lain melihat momentum ini sebagai bagian dari rotasi sektor menuju saham-saham berbasis teknologi dan infrastruktur digital yang tengah menjadi tema utama pasar modal Indonesia sepanjang 2026.
Karena kedua pandangan ini belum terkonfirmasi oleh data kinerja operasional yang solid, penting untuk memperlakukan lonjakan harga MLPL sebagai fenomena yang masih bersifat spekulatif dan berpotensi volatil dalam jangka pendek.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 21 Juli 2026 dan bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi pasar modal. Artikel ini bukan merupakan rekomendasi jual atau beli saham, ajakan investasi, maupun nasihat keuangan profesional. Pergerakan harga saham bersifat fluktuatif dan mengandung risiko kerugian modal. Pembaca disarankan melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan penasihat investasi berlisensi sebelum mengambil keputusan finansial.
Editor : Agung SedanaSumber : IDX, Google finance