Loloskan Aksi Inbreng Raksasa, Aset Fortune Indonesia Diproyeksi Melonjak Puluhan Kali Lipat

Agung Sedana • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 14:49 WIB
Ilustrasi analisis pergerakan saham hari ini secara live, menampilkan grafik dan data terkini di bursa. Pantau perbandingannya sebelum mengambil keputusan investasi. (FOTO: Ilustrasi/ Radar Situbondo)
Ilustrasi analisis pergerakan saham hari ini secara live, menampilkan grafik dan data terkini di bursa. Pantau perbandingannya sebelum mengambil keputusan investasi. (FOTO: Ilustrasi/ Radar Situbondo)

RADARSITUBONDO.ID - PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) secara resmi merencanakan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue FORU dengan target perolehan dana mencapai Rp27,1 triliun. Langkah korporasi berskala raksasa ini menjadi sinyal transformasi bisnis perseroan secara fundamental, bergeser dari industri kreatif dan komunikasi menuju sektor pertambangan batu bara.

Melalui mekanisme PMHMETD I tersebut, emiten berkode saham FORU ini akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 215,09 miliar saham baru. Jumlah ini setara dengan 99,78% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah terlaksananya aksi korporasi. Dalam rasio yang ditetapkan, setiap pemegang 100 saham lama berhak memperoleh 46.235 HMETD, dengan harga pelaksanaan dieksekusi pada level Rp126 per saham.

Skema Inbreng dan Transisi Menjadi Holding Pertambangan

Sebagian besar dana yang dihimpun tidak diserap dalam bentuk kas murni, melainkan melalui mekanisme penyetoran modal dalam bentuk selain uang (inbreng). FORU mengalokasikan sekitar 76,81% dana hasil rights issue atau setara Rp20,82 triliun setelah dikurangi biaya emisi untuk mengambil alih 49% saham PT Borneo Prima (BP) dari IMR Asia Holding Pte Ltd.

Dalam prospektus resmi yang dirilis Selasa (21/7/2026), manajemen perseroan menegaskan bahwa transaksi inbreng ini merupakan bagian integral dari restrukturisasi bisnis. FORU secara bertahap bertransformasi menjadi perusahaan induk (holding company) yang berfokus pada eksplorasi dan pengembangan pertambangan batu bara.

Sementara itu, sisa dana segar yang diperoleh dari pelaksanaan HMETD oleh porsi pemegang saham publik akan disalurkan kepada PT Borneo Prima dalam bentuk pinjaman. Fasilitas pinjaman ini diproyeksikan guna memperkuat modal kerja operasional, menopang kapasitas produksi, serta mempercepat belanja modal pertambangan.

Implikasi Dilusi dan Lonjakan Neraca

Aksi korporasi ini membawa dua konsekuensi besar bagi struktur keuangan dan peta kepemilikan saham perseroan:

Perubahan postur keuangan ini menandai babak baru bagi FORU. Keberhasilan ekspansi ini akan sangat bergantung pada efisiensi operasional PT Borneo Prima serta dinamika harga komoditas batu bara global di masa mendatang.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif berdasarkan keterbukaan informasi dan prospektus perusahaan. Keputusan investasi saham sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor dengan mempertimbangkan profil risiko pribadi.

Editor : Agung Sedana
saham foru PT Fortune Indonesia Tbk