RADARSITUBONDO.ID – Tas anyaman plastik buatan tangan dari Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo, masih diminati karena harganya terjangkau dan motifnya beragam. Namun, di balik geliat produksi tersebut, pengrajinnya kini menghadapi tekanan biaya. Harga bahan baku plastik terus naik, sementara harga jual sulit ikut dikerek.
Kondisi itu dirasakan Aline Liyani, pengrajin sekaligus pemilik usaha tas anyaman di Sumberkolak. Dia harus memutar otak agar usaha tetap berjalan di tengah kenaikan harga bahan baku, biaya tenaga kerja, hingga biaya administrasi marketplace yang ikut meningkat.
“Sekarang harga plastik naik semua, sedangkan tas anyaman ini dituntut tetap dijual murah. Apalagi, kami juga harus membayar karyawan,” ujar Aline, Senin (10/8).
Menurut Aline, kenaikan harga plastik menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mempertahankan usaha. Sebab, menaikkan harga jual terlalu tinggi bukan perkara mudah. Produk harus tetap menyesuaikan daya beli konsumen sekaligus bersaing dengan pengrajin lain.
Situasi tersebut membuat margin keuntungan semakin tertekan. Selain biaya bahan baku, Aline harus memperhitungkan upah pekerja serta berbagai kebutuhan operasional usaha.
“Selain harga bahan baku yang mahal, persaingan antarpedagang juga ada, terutama dari segi harga,” imbuhnya.
Harga Mulai Rp 7 Ribu
Meski menghadapi tekanan biaya, Aline berusaha mempertahankan harga produknya agar tetap terjangkau. Tas anyaman yang diproduksi dijual mulai Rp 7 ribu hingga Rp 40 ribu per buah, bergantung pada ukuran dan model.
Untuk pembelian dalam jumlah banyak, konsumen bisa mendapatkan harga grosir yang lebih murah. Produk tersebut juga memiliki berbagai pilihan motif yang menarik. Konsumen bahkan dapat memesan motif sesuai keinginan.
Strategi tersebut menjadi salah satu cara untuk mempertahankan pasar di tengah persaingan harga yang semakin ketat.
Namun, tekanan biaya ikut tercermin dari omzet usaha. Saat ini Aline mengaku hanya mampu membukukan omzet kotor sekitar Rp 40 juta hingga Rp 45 juta per bulan.
Angka tersebut turun cukup signifikan dibandingkan sekitar dua tahun lalu. Ketika itu, omzet usahanya masih berada di kisaran Rp 80 juta hingga Rp 100 juta per bulan.
“Dua tahun terakhir pernah mencapai Rp 80 juta sampai Rp 100 juta. Sekarang bahan dasar mahal dan biaya admin di marketplace juga naik. Kalau saat ini omzetnya sekitar Rp 40 juta sampai Rp 45 juta,” terang Aline.
Berawal dari Produksi di Rumah
Usaha tas anyaman tersebut dirintis Aline sejak 2018. Pada awal perjalanan bisnisnya hingga 2021, seluruh proses produksi dikerjakan sendiri dari rumah.
Aktivitas yang semula dijalankan sebagai pekerjaan sehari-hari itu perlahan berkembang. Sekitar tiga tahun kemudian, usaha mulai meningkat dan Aline mampu mempekerjakan sejumlah karyawan.
Tak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, keterlibatan pekerja dari lingkungan sekitar juga menjadi bagian dari upayanya memberdayakan perempuan.
Menariknya, sistem kerja dibuat cukup fleksibel. Aktivitas produksi berlangsung setiap hari, tetapi pekerja tidak harus selalu berada di lokasi usaha.
Aline menyiapkan bahan yang kemudian dapat dibawa pulang oleh para pekerja untuk dikerjakan di rumah masing-masing. Sistem tersebut memungkinkan mereka tetap memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan aktivitas rumah tangga.
“Dalam proses pembuatan tas ini ada empat tahap, mulai dari tahap dasar, penganyaman, pembersihan, dan tahap keempat adalah pembuatan pegangan,” jelasnya.
Di tengah kenaikan harga plastik dan biaya usaha yang terus bertambah, Aline berharap tetap bisa mempertahankan produksi. Baginya, menjaga harga tetap terjangkau sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama para pekerjanya. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo