Budidaya Kepiting di Tengah Kota, Jaka Bisa Panen Soka dalam Tiga Pekan

Moh Humaidi Hidayatullah • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:01 WIB
PENGUSAHA KREATIF: Jaka Apriyantoro, sibuk memanen kepiting bakau di kolam bekas budidaya ikan lele, di Kelurahan Patokan, Kecamatan/Kota Situbondo, Kamis (13/8). (HUMAIDI/JPRS)
PENGUSAHA KREATIF: Jaka Apriyantoro, sibuk memanen kepiting bakau di kolam bekas budidaya ikan lele, di Kelurahan Patokan, Kecamatan/Kota Situbondo, Kamis (13/8). (HUMAIDI/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Tak harus punya tambak di tepi laut untuk meraup cuan dari kepiting. Jaka Apriyantoro, 45, membuktikannya di tengah kawasan perkotaan Situbondo. Bermodal kolam bekas budidaya lele di Jalan Merak, Kelurahan Patokan, Kecamatan Situbondo, dia sukses menggemukkan kepiting bakau sekaligus memproduksi kepiting soka.

Lokasi budidaya tersebut bahkan hanya berjarak ratusan meter dari Pendopo Rakyat Situbondo. Bersama sang istri, Jaka menjalankan usaha itu dengan memanfaatkan lahan yang ada tanpa harus mencari lokasi di kawasan pesisir.

“Kami tidak punya lahan di pinggir laut, tapi kami membuktikan bahwa di kota juga bisa memelihara kepiting,” kata Jaka, Kamis (13/8).

Menurut dia, kepiting dipilih karena dinilai memiliki prospek usaha yang menjanjikan. Tingkat kematiannya relatif rendah, sementara kebutuhan pakan dapat dipenuhi dari bahan alternatif yang tersedia di sekitar.

Yang menarik, produksi kepiting soka bisa dilakukan dalam waktu relatif singkat. Dalam satu siklus sekitar tiga pekan, kepiting sudah dapat dipanen.

Saat ini, Jaka mampu menghasilkan sekitar 260 ekor kepiting soka dalam satu siklus produksi. Dari hasil tersebut, permintaan pasar justru jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksinya.

“Permintaan dari pengepul setiap hari bisa mencapai 20 sampai 30 kilogram. Tapi kemampuan produksi kami baru sekitar 5 sampai 10 kilogram per hari,” ujarnya.

Untuk memulai usaha tersebut, modal yang dibutuhkan juga relatif terjangkau. Jaka memperkirakan pemula membutuhkan modal sekitar Rp 10 juta. Namun, apabila sudah memiliki fasilitas seperti tempat budidaya dan atap, kebutuhan modal dapat ditekan hingga sekitar Rp 5 juta.

Keterbatasan modal membuat Jaka belum mampu memenuhi seluruh permintaan pengepul. Meski begitu, dia berencana mengembangkan usaha secara bertahap agar kapasitas produksinya meningkat.

Pasarnya pun tidak hanya berasal dari Situbondo. Kepiting soka hasil budidayanya telah diminati pembeli dari daerah lain, termasuk Banyuwangi hingga Bali.

“Kalau yang beli kepiting bukan hanya warga Situbondo saja, dari Banyuwangi dan Bali juga ada,” tegasnya.

Hamimullah, salah seorang pelanggan, mengaku rutin membeli kepiting soka produksi Jaka. Menurut dia, cita rasa kepiting tersebut menjadi salah satu alasan pelanggan kembali membeli.

“Rasanya enak, gurih, dan beda. Makanya kami sering beli langsung ke sini,” tuturnya. (hum/pri)

Editor : Edy Supriyono
Sumber : Radar Situbondo
situbondo budidaya kepiting kepiting soka usaha kepiting budidaya kota