BRI Jaga Pertumbuhan Kredit, Kualitas Aset dan Manajemen Risiko Terus Diperkuat

Bayu Shaputra • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:06 WIB
BRI konsisten salurkan kredit dengan prinsip kehati-hatian, jaga pertumbuhan berkualitas dan berkelanjutan. (BRI)
BRI konsisten salurkan kredit dengan prinsip kehati-hatian, jaga pertumbuhan berkualitas dan berkelanjutan. (BRI)

 

RADARSITUBONDO.ID - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga laju pertumbuhan kredit dengan tetap menempatkan prinsip kehati-hatian atau prudential banking sebagai fondasi utama. Ekspansi pembiayaan dilakukan secara terukur dengan memperhatikan kualitas aset dan kemampuan bank dalam mengelola berbagai potensi risiko.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BRI untuk memastikan pertumbuhan bisnis tidak hanya berjalan dari sisi volume, tetapi juga menghasilkan portofolio kredit yang sehat dan berkelanjutan. Di tengah dinamika perekonomian, BRI menilai keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan risiko menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja perseroan.

Sebagai bank yang memiliki fokus kuat pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM, BRI tidak menjadikan besarnya penyaluran kredit sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Kualitas pembiayaan menjadi perhatian utama dalam setiap keputusan kredit yang diambil perseroan.

Proses penyaluran kredit dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek. Di antaranya profil risiko debitur, prospek usaha, kemampuan membayar kewajiban, hingga kondisi sektor dan industri yang menjadi tujuan pembiayaan.

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan, prinsip kehati-hatian menjadi dasar dalam setiap proses pengambilan keputusan kredit. Menurutnya, kualitas aset perlu dijaga sejak awal melalui proses asesmen yang disiplin hingga pengawasan setelah kredit disalurkan.

Penguatan tersebut dilakukan melalui proses underwriting yang lebih disiplin, pemantauan kualitas kredit secara berkelanjutan, serta penggunaan sistem peringatan dini atau early warning system. Sistem tersebut digunakan untuk mendeteksi potensi risiko lebih awal sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan sebelum risiko berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas. Kami memastikan setiap ekspansi kredit melalui proses asesmen risiko yang memadai sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Ety.

Dalam menjalankan ekspansi bisnis, BRI menerapkan pendekatan yang selektif dengan melihat karakteristik risiko masing-masing segmen dan sektor ekonomi. Kebijakan tersebut memungkinkan perseroan menyesuaikan strategi pembiayaan dengan kondisi yang berkembang.

BRI juga terus menyempurnakan kebijakan perkreditan dan mekanisme pemantauan portofolio. Penyesuaian dilakukan agar kebijakan yang diterapkan tetap relevan dengan perubahan kondisi ekonomi serta perkembangan profil risiko debitur.

Pengelolaan risiko tidak berhenti ketika kredit telah disalurkan. BRI melakukan pemantauan terhadap portofolio secara berkala dengan memanfaatkan pendekatan berbasis data.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk melihat perubahan kualitas debitur sekaligus mengidentifikasi potensi tekanan pada sektor ekonomi tertentu. Dengan cara itu, bank dapat mengambil langkah lebih cepat apabila muncul indikasi perubahan risiko pada portofolio kredit.

“Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” lanjut Ety.

Strategi tersebut menjadi penting bagi BRI karena karakteristik portofolionya banyak bertumpu pada segmen UMKM. Nasabah UMKM memiliki karakteristik usaha yang beragam dengan tingkat risiko yang berbeda-beda dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut membuat kemampuan membaca profil risiko nasabah secara lebih detail menjadi bagian penting dari pengelolaan kredit. BRI terus mengembangkan pemanfaatan data dan pengalaman yang dimiliki untuk memahami karakteristik debitur secara lebih granular.

Dengan pendekatan tersebut, pertumbuhan kredit diarahkan tidak hanya untuk memperluas pembiayaan kepada sektor produktif, tetapi juga menjaga agar ekspansi tetap berada dalam tingkat risiko yang dapat diterima perseroan.

Perbaikan kualitas aset BRI turut terlihat dari sejumlah indikator risiko kredit. Rasio Non-Performing Loan atau NPL secara kuartalan tercatat membaik dari 3,07 persen pada akhir Desember 2025 menjadi 3,01 persen pada Maret 2026.

Perbaikan juga terlihat pada rasio Loan at Risk atau LaR yang menjadi salah satu indikator risiko kredit yang bersifat lebih forward-looking. Rasio tersebut turun dari 11,13 persen pada Maret 2025 menjadi 9,67 persen pada Maret 2026.

Penurunan LaR tersebut mencapai 145 basis poin dalam periode satu tahun. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada kualitas risiko kredit sekaligus menjadi bagian dari upaya BRI menjaga kesehatan portofolio pembiayaan.

Selain menjaga kualitas kredit, BRI juga mempertahankan kecukupan pencadangan dan permodalan. Langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi risiko sekaligus menyediakan bantalan yang memadai apabila perseroan menghadapi tekanan pada kondisi ekonomi maupun kualitas kredit.

Kekuatan pencadangan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam menjaga fundamental bank. Dengan tingkat pencadangan yang memadai, BRI memiliki ruang yang lebih kuat untuk menghadapi potensi risiko sekaligus tetap menjalankan ekspansi bisnis.

Hal tersebut tercermin dari rasio NPL Coverage yang berada pada level 179,45 persen. Sementara itu, rasio LaR Coverage tercatat sebesar 55,75 persen.

Stabilnya kedua rasio tersebut menunjukkan konsistensi BRI dalam menjaga pencadangan risiko. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penerapan manajemen risiko yang pruden sekaligus mendukung keberlanjutan pertumbuhan bisnis.

Di tengah kebutuhan pembiayaan sektor produktif, BRI tetap membuka ruang pertumbuhan kredit. Namun, ekspansi tersebut ditempatkan dalam kerangka pengelolaan risiko yang terukur agar peningkatan penyaluran kredit tetap diikuti dengan kualitas aset yang terjaga.

Bagi BRI, pertumbuhan kredit dan manajemen risiko bukan dua hal yang berjalan terpisah. Keduanya menjadi bagian dari strategi yang saling berkaitan untuk menjaga kualitas bisnis dalam jangka panjang.

Dengan proses yang dimulai dari underwriting, pemantauan portofolio, sistem peringatan dini hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus, BRI berupaya memastikan setiap ekspansi dilakukan berdasarkan pertimbangan risiko yang memadai.

Strategi tersebut sekaligus menjadi fondasi BRI dalam mempertahankan peran sebagai salah satu bank utama dalam pembiayaan UMKM. Pertumbuhan yang diiringi kualitas kredit dan pencadangan yang memadai diharapkan dapat memperkuat fundamental perseroan untuk menghadapi dinamika ekonomi ke depan.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : BRI
Kualitas Kredit NPL Manajemen Risiko bbri bri