Bitcoin Tiba-Tiba Meledak ke 71.000 USD, Ada Tangan AS di Balik Lonjakan Gila Ini?

Titin Wulandari • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:00 WIB
PASAR KRIPTO : Harga Bitcoin menembus US$71.000 dan mencatat level tertinggi dalam dua bulan.(Foto:Pixabay)
PASAR KRIPTO : Harga Bitcoin menembus US$71.000 dan mencatat level tertinggi dalam dua bulan.(Foto:Pixabay)

 

Radarsitubondo.id - Harga Bitcoin kembali mencuri perhatian pasar kripto setelah berhasil keluar dari fase konsolidasi yang berlangsung selama sekitar enam minggu. Aset kripto terbesar di dunia itu melesat menembus level US$71.000 atau sekitar level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Kenaikan Bitcoin yang berlangsung cepat tersebut memberikan tekanan besar kepada para trader yang sebelumnya mengambil posisi short atau bertaruh harga akan turun. Akibatnya, terjadi gelombang likuidasi besar-besaran yang disebut menjadi salah satu yang terbesar sejak 2021, dengan nilai total mendekati US$3 miliar.

Salah satu faktor utama yang disebut mendorong lonjakan Bitcoin adalah kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat. Pemerintah AS mengumumkan rencana menggandakan nilai program pembelian kembali obligasi menjadi US$4 miliar untuk setiap operasi.

Baca Juga: Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan Investasi, Polisi Segera Panggil untuk Diperiksa

Langkah tersebut ditujukan untuk membantu menjaga likuiditas di pasar. Kebijakan ini kemudian berdampak pada pasar obligasi Amerika Serikat, dengan imbal hasil atau yield surat utang mengalami penurunan.

Yield obligasi AS tenor 10 tahun tercatat turun menjadi 4,647 persen, sedangkan yield surat utang tenor 30 tahun merosot ke level 5,196 persen.

Turunnya imbal hasil obligasi membuat aset berisiko, termasuk mata uang kripto, kembali terlihat menarik di mata investor. Kondisi tersebut mendorong terjadinya pergeseran aliran dana dari instrumen berbasis utang menuju pasar aset berisiko.

Baca Juga: Warga di Atas Bekas Rel Panarukan Pasrah, Berharap Ada Kompensasi Pemerintah

Bitcoin kemudian mendapat dorongan tambahan dari aktivitas perdagangan berbasis leverage. Banyak trader sebelumnya mengambil posisi short dengan asumsi harga Bitcoin akan kembali melemah.

Namun, ketika harga justru bergerak naik tajam, posisi-posisi tersebut mulai terkena likuidasi otomatis. Penutupan posisi short secara paksa kemudian menghasilkan tekanan beli tambahan yang semakin mempercepat kenaikan Bitcoin.

Data pasar menunjukkan skala pergerakan tersebut cukup besar. Dalam kurun waktu 24 jam, lebih dari 171 ribu akun trader tercatat mengalami likuidasi.

Kerugian terbesar berasal dari posisi short yang mencapai sekitar US$2,74 miliar. Sebagai perbandingan, posisi long yang terkena likuidasi berada di kisaran US$257 juta.

Fenomena tersebut menciptakan efek berantai. Ketika posisi short ditutup secara otomatis, sistem harus melakukan pembelian aset untuk menutup posisi tersebut. Aktivitas pembelian ini kemudian ikut memberikan tenaga tambahan terhadap kenaikan harga Bitcoin.

Dalam waktu relatif singkat, Bitcoin mencatat lonjakan sekitar 9 persen dan berhasil meninggalkan pola perdagangan yang sebelumnya berlangsung selama berminggu-minggu.

Baca Juga: Siswa MI Tewas Terseret Ombak di Pantai Cemara, Guru Sempat Larang Mandi

Tidak hanya Bitcoin, pergerakan positif juga terlihat pada pasar kripto secara keseluruhan. Total kapitalisasi pasar aset kripto sempat mencapai sekitar US$2,28 triliun sebelum pergerakan pasar kembali tertahan menjelang level US$2,38 triliun.

Para analis melihat kebijakan Departemen Keuangan AS sebagai sinyal penting mengenai kondisi likuiditas dalam jangka pendek. Pelonggaran tekanan di pasar obligasi dinilai dapat memberikan ruang bagi investor untuk kembali mengalokasikan dana ke aset dengan risiko lebih tinggi.

Menariknya, penguatan tidak hanya terjadi pada Bitcoin dan aset kripto. Harga emas serta perak juga ikut mengalami kenaikan, menunjukkan adanya pergerakan serentak pada sejumlah aset yang dianggap menarik ketika kondisi likuiditas berubah.

Lonjakan Bitcoin ke atas US$71.000 pun menjadi perhatian pasar karena menunjukkan betapa sensitifnya aset kripto terhadap perubahan likuiditas dan kebijakan keuangan Amerika Serikat. Bagi investor, perkembangan kebijakan moneter dan pasar obligasi AS kini kembali menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah pergerakan Bitcoin berikutnya.(*)

Editor : Titin Wulandari
harga Bitcoin Bitcoin naik pasar kripto