RADARSITUBONDO.ID - Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI telah disalurkan sebesar Rp103,81 triliun kepada 2 juta debitur hingga Juni 2026. Penyaluran tersebut terutama mengalir ke sektor produktif, dengan pertanian dan perdagangan menjadi penerima terbesar.
Berdasarkan data BRI, sektor pertanian menyerap 42,68 persen dari total penyaluran KUR, sedangkan perdagangan mencapai 32,34 persen.
Selain nilai penyaluran, BRI mencatat 487 ribu debitur KUR telah mengalami graduasi hingga Juni 2026. Jumlah tersebut mencapai 50,71 persen dari target graduasi BRI sepanjang tahun ini yang sebanyak 962 ribu debitur.
Ekonom Senior sekaligus Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto, menilai KUR dibutuhkan pelaku usaha mikro dan kecil untuk mendapatkan akses pembiayaan.
"KUR ini sangat dibutuhkan untuk pelaku-pelaku ekonomi yang masuk kategori skala istilahnya tuh mikro dan kecil," kata Ryan di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Penyaluran KUR didominasi sektor produktif
Dari total Rp103,81 triliun yang disalurkan hingga Juni 2026, sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan porsi 42,68 persen. Perdagangan berada di posisi berikutnya dengan 32,34 persen.
BRI menyebut penyaluran KUR diarahkan ke sektor produktif sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas UMKM dan aktivitas ekonomi daerah.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan KUR merupakan salah satu instrumen untuk mendukung daya saing UMKM.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," ujar Akhmad dalam keterangannya.
487 ribu debitur KUR naik kelas
Capaian penyaluran juga diikuti dengan pertumbuhan jumlah debitur yang disebut mengalami graduasi.
Hingga Juni 2026, sebanyak 487 ribu debitur KUR BRI telah naik kelas dan mampu mengakses pembiayaan komersial. Angka tersebut setara dengan 50,71 persen dari target graduasi sebanyak 962 ribu debitur pada 2026.
Dalam konteks KUR BRI, graduasi merujuk pada kondisi ketika pelaku usaha yang sebelumnya menggunakan pembiayaan KUR telah berkembang sehingga memiliki kapasitas untuk memperoleh pembiayaan komersial.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan BRI untuk melihat perkembangan usaha penerima KUR.
KUR dapat membuka lapangan kerja
Ryan Kiryanto menilai dampak KUR tidak hanya berkaitan dengan tambahan modal bagi pelaku usaha.
Menurutnya, ketika pembiayaan digunakan untuk memperbesar kapasitas usaha, kebutuhan terhadap tenaga kerja juga dapat meningkat.
Ia memberikan contoh pelaku usaha yang menggunakan KUR untuk mengembangkan restoran atau kafe. Ketika jumlah pelanggan meningkat, pemilik usaha dapat membutuhkan pekerja tambahan untuk melayani konsumen, mencuci peralatan, hingga menangani pembayaran.
"Dampak KUR ke lapangan kerja itu sangat riil," kata Ryan.
Namun, jumlah tenaga kerja yang dapat terserap tentu berbeda pada setiap usaha. Dampaknya bergantung pada sektor, skala bisnis, serta penggunaan pembiayaan oleh masing-masing debitur.
Ikut meningkatkan literasi keuangan
Selain pembiayaan, Ryan menilai keberadaan jaringan perbankan di daerah juga dapat memperkenalkan masyarakat terhadap layanan keuangan formal.
Menurut dia, masyarakat yang sebelumnya belum terbiasa menggunakan layanan perbankan dapat mengenal cara menyimpan uang, mengakses kredit, dan memanfaatkan produk perbankan lainnya.
"Prestasi BRI itu bukan sekadar menyalurkan KUR, tapi BRI itu juga langsung atau tidak langsung sudah mendorong yang namanya edukasi kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan literasi masyarakat terhadap keuangan," ujarnya.
Ryan menilai perluasan akses tersebut penting terutama bagi masyarakat di wilayah pedesaan.
Pengawasan penyaluran KUR
Ryan juga menyoroti mekanisme pengawasan dalam industri perbankan. Menurut dia, proses penyaluran kredit melibatkan sejumlah fungsi pengawasan, antara lain audit internal, kepatuhan, manajemen risiko, serta pengawasan regulator.
"Proses bank itu paling ketat. Orang yang ngawasi bank itu banyak kok, ada internal audit, ada compliance, ada risk management, ada OJK," katanya.
Ia menilai pengawasan terhadap KUR perlu mendapat perhatian karena program tersebut berkaitan dengan pembiayaan yang berasal dari dana perbankan.
Di sisi lain, BRI menyatakan penerapan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan akuntabilitas tetap menjadi bagian dari proses penyaluran KUR.
Hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp103,81 triliun kepada 2 juta debitur. Sektor pertanian menjadi penerima terbesar, sementara 487 ribu debitur disebut telah mengalami graduasi dan beralih mengakses pembiayaan komersial. (adv)
Editor : Agung Sedana