RADAR BANYUWANGI – Tak banyak yang menyangka konter pulsa sederhana yang dirintis Narsun sejak 2007 bakal membawanya ke panggung penghargaan. Dari usaha kecil di sebuah rumah kontrakan di Bandung, Narsun berkembang menjadi BRILink Agen yang membantu memperluas akses layanan keuangan sekaligus mendaftarkan 7.215 pekerja informal ke BPJS Ketenagakerjaan.
Atas pencapaian tersebut, Narsun menerima grand prize berupa satu unit mobil dari jajaran pimpinan BRI dan BPJS Ketenagakerjaan. Selain mobil, ia juga memperoleh dua unit sepeda motor sebagai apresiasi atas kontribusinya.
Namun, perjalanan tersebut tidak dimulai dari bisnis besar.
Semuanya berawal dari konter pulsa dan telepon genggam.
Rekening BRI Dibuka Sejak Lulus SMA
Hubungan Narsun dengan BRI ternyata sudah terjalin jauh sebelum dirinya menjadi BRILink Agen.
Sekitar 2002, tak lama setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Narsun membuka rekening BRI.
“Sudah lama sih kalau BRI, sekitar tahun 2002. Sepertinya lulus SMA saya langsung bikin rekening BRI,” kenangnya.
Lima tahun kemudian, pada 2007, Narsun mulai membangun usaha sendiri. Dengan modal seadanya, ia menyewa rumah kontrakan di Bandung untuk membuka konter pulsa sekaligus menjual telepon genggam.
Usaha tersebut berjalan selama sekitar tujuh tahun sebelum sebuah tawaran mengubah arah bisnisnya.
Pada 2014, ketika masih sibuk mengelola konter pulsa, seorang petugas BRI bernama Robi datang menemui Narsun.
Yang ditawarkan bukan kredit atau tabungan.
Robi justru mengajaknya menjadi BRILink Agen.
Awalnya Hanya Pekerjaan Sampingan
Bagi Narsun, konsep layanan perbankan berbasis keagenan itu ketika itu masih terdengar asing.
Ia pun mengaku belum melihat potensi besar di dalamnya.
“Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti dan kurang tertarik karena transaksi awal cuma sedikit, bisa dihitung jari,” ujarnya.
Dengan pendampingan Robi selaku Mantri BRI, Narsun kemudian mendaftarkan diri sebagai BRILink Agen melalui BRI Unit Bandung Naripan.
Pada awalnya, layanan tersebut hanya dianggap sebagai pekerjaan tambahan di sela-sela mengelola konter.
Pandangan itu berubah setelah Narsun mengikuti gathering yang diselenggarakan BRI untuk para agen.
Di sana, ia melihat langsung agen dengan kinerja tinggi mendapatkan apresiasi.
“Di sana ada pembuktian, banyak yang dapat hadiah seperti emas dan TV. Saya jadi merasa tertantang dan termotivasi karena luar biasa hadiahnya,” cerita Narsun.
Momen tersebut menjadi titik balik.
Narsun mulai melihat BRILink bukan sekadar layanan tambahan, melainkan usaha yang dapat dikembangkan secara serius.
Jemput Bola, Transaksi Terus Bertambah
Narsun kemudian mengubah cara melayani pelanggan.
Sejak 2015, ia tidak hanya menunggu masyarakat datang ke konter. Ia menerapkan strategi jemput bola dengan mendatangi rumah pelanggan yang membutuhkan layanan pembayaran tagihan listrik maupun transfer uang.
Strategi sederhana itu membuat jarak antara layanan keuangan dan masyarakat semakin dekat.
Basis pelanggan pun berkembang.
Volume transaksi Narsun terus meningkat hingga akhirnya ia menyandang kategori BRILink Agen “Juragan”, yakni kategori bagi agen dengan volume transaksi bulanan tinggi dan performa unggulan.
Dalam catatan kinerjanya, BRILink Agen milik Narsun pernah melayani rata-rata 3.840 transaksi per bulan.
Sejak 2015, ia juga hampir setiap tahun memperoleh penghargaan dalam berbagai program apresiasi BRI.
Menurut Narsun, perkembangan tersebut tidak terlepas dari dukungan petugas BRI yang menurutnya terbuka terhadap keluhan dan masukan para agen.
“Mereka berdua sangat memperhatikan keluhan dan masukan saya,” ucapnya.
Grup WhatsApp Jadi Jalan Masuk ke Masyarakat
Perubahan teknologi kemudian membuat strategi Narsun ikut berkembang.
Ia membangun grup WhatsApp yang kini beranggotakan hampir 500 warga di sekitar tempat tinggalnya.
Grup tersebut tidak sekadar menjadi tempat menawarkan produk atau layanan. Narsun menjadikannya ruang interaksi dan berbagi informasi.
Agar anggota tidak jenuh, ia bahkan menyisipkan kuis.
“Biar mereka tidak bosan, saya kasih kuis. Informasi apa pun ada di situ,” terangnya.
Jaringan tersebut kemudian menjadi modal penting ketika Narsun mulai mengenalkan program BPJS Ketenagakerjaan kepada masyarakat.
Ia memahami bahwa kedekatan dengan warga membuat pesan mengenai perlindungan sosial lebih mudah disampaikan.
Sebagai langkah awal, Narsun menawarkan pendaftaran kepada 10 orang pertama yang datang ke konternya.
Dari sepuluh orang itu, gerakannya kemudian berkembang jauh lebih besar.
Sempat Ditolak Kelurahan
Perjalanan Narsun mendorong pekerja informal masuk dalam program jaminan sosial tidak selalu mulus.
Kelurahan setempat sempat menolak ajakannya untuk menggelar sosialisasi. Alasannya, warga dianggap sudah memperoleh perlindungan dari pemerintah.
Narsun tidak berhenti.
Ia menjelaskan bahwa pedagang kecil dan pelaku UMKM yang masuk kategori Bukan Penerima Upah (BPU) tetap menghadapi berbagai risiko dalam menjalankan pekerjaan.
Mereka membutuhkan akses terhadap perlindungan jaminan sosial, terutama ketika risiko kecelakaan kerja atau kematian dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan ekonomi keluarga.
Penjelasan tersebut akhirnya diterima.
Pihak kelurahan memberikan ruang kepada Narsun untuk mengadakan sosialisasi secara resmi kepada masyarakat.
Dari sinilah langkah kecil itu berkembang menjadi pencapaian besar.
7.215 Pekerja Informal Terdaftar
Kegigihan Narsun akhirnya menghasilkan angka yang sulit dianggap kecil.
Ia berhasil mendaftarkan 7.215 pekerja BPU sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Melalui kepesertaan tersebut, para pekerja informal memperoleh akses terhadap program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Hari Tua (JHT).
Bagi Narsun, layanan yang awalnya hanya menjadi bagian kecil dari konter pulsa kini telah berubah menjadi sarana untuk membantu masyarakat memperoleh akses perlindungan sosial.
Pencapaian itu pula yang mengantarkannya memperoleh grand prize berupa satu unit mobil.
Dua sepeda motor juga menjadi bagian dari penghargaan yang diterimanya.
Dari Agen Menjadi Penggerak Ekosistem
Peran Narsun kini semakin luas.
Ia dipercaya menjadi Ketua Paguyuban BRILink Agen Jawa Barat. Aktivitasnya juga berkembang ke media sosial untuk memperkenalkan berbagai produk dan layanan dalam ekosistem BRI.
Termasuk di dalamnya layanan perlindungan asuransi dari BRI Insurance dan BRI Life.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan kisah Narsun menunjukkan bahwa BRILink Agen memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memperpanjang layanan transaksi perbankan.
“Melalui kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan, BRILink Agen dapat menjangkau pekerja informal yang selama ini belum memperoleh perlindungan secara memadai. Sinergi ini diharapkan semakin memperluas inklusi keuangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja informal di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Dhanny.
Menurut Dhanny, keberadaan BRILink Agen juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja sekaligus mendekatkan masyarakat dengan layanan keuangan dan program perlindungan sosial.
Ketika Konter Pulsa Berubah Menjadi Pintu Ekonomi
Perjalanan Narsun memperlihatkan bagaimana sebuah usaha kecil dapat berkembang ketika dipadukan dengan jaringan, teknologi, dan kedekatan dengan masyarakat.
Konter pulsa yang dulu dibangun dengan modal seadanya menjadi pintu masuk menuju layanan perbankan.
Dari transaksi yang awalnya hanya bisa dihitung dengan jari, Narsun kemudian mampu melayani ribuan transaksi setiap bulan.
Dari sekadar melayani transfer dan pembayaran tagihan, ia berkembang menjadi penghubung masyarakat dengan program jaminan sosial.
Dan dari seorang pemilik konter pulsa, Narsun kini berdiri sebagai salah satu figur penting dalam jaringan BRILink Jawa Barat.
Kunci mobil yang diterimanya bukan sekadar hadiah. Itu menjadi penanda perjalanan panjang sejak 2007: ketika usaha kecil dibangun, peluang datang, lalu ketekunan mengubahnya menjadi manfaat bagi ribuan pekerja informal. (*)
Editor : Ali Sodiqin