Kredit UMKM BRI Tembus Rp1.235 Triliun, Ekonomi Kerakyatan Makin Kokoh

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 13:39 WIB
BRI mencatat kredit UMKM Rp1.235,4 triliun hingga Triwulan II 2026. Pemberdayaan diperluas dari desa, klaster usaha hingga ekosistem digital.
BRI mencatat kredit UMKM Rp1.235,4 triliun hingga Triwulan II 2026. Pemberdayaan diperluas dari desa, klaster usaha hingga ekosistem digital.

RADAR BANYUWANGI — Ekspansi bisnis tak membuat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI meninggalkan akar bisnisnya. Hingga Triwulan II 2026, kredit UMKM justru tumbuh 8,6 persen secara tahunan menjadi Rp1.235,4 triliun. Angka tersebut menegaskan bahwa UMKM tetap menjadi core business sekaligus fondasi utama pertumbuhan BRI di tengah ekspansi ke berbagai segmen bisnis.

Kinerja tersebut dipaparkan dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Jakarta, Senin (31/8). Besarnya portofolio pembiayaan UMKM menunjukkan konsistensi BRI dalam menjaga fokus terhadap penguatan ekonomi kerakyatan.

Bagi BRI, pembiayaan UMKM tidak berhenti pada penyaluran kredit. Bank tersebut juga membangun ekosistem pemberdayaan agar pelaku usaha mampu bertahan, berkembang, dan naik kelas.

Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan, dukungan kepada UMKM dilakukan melalui pendekatan pemberdayaan secara end-to-end. Pendekatan tersebut menyasar berbagai lapisan, mulai dari desa, komunitas usaha, hingga pelaku usaha secara individu.

“Dukungan tersebut dibangun melalui pendekatan pemberdayaan secara end-to-end, mulai dari tingkat desa, komunitas usaha, hingga pelaku usaha individu,” ujar Aquarius.

Dari Desa hingga Ekosistem Digital

Salah satu instrumen pemberdayaan BRI dilakukan melalui program Desa BRILiaN. Program tersebut diarahkan untuk menggali dan mengembangkan potensi ekonomi lokal sekaligus memperkuat kapasitas serta kelembagaan desa.

Hingga kini, Desa BRILiaN telah memberdayakan lebih dari 5.700 desa. Angka tersebut memperlihatkan bagaimana strategi BRI tidak hanya berorientasi pada pembiayaan, tetapi juga membangun fondasi ekonomi dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Pemberdayaan kemudian diperluas ke tingkat komunitas usaha melalui program Klasterku Hidupku. Program ini telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.

Sementara itu, transformasi digital menjadi jalur lain untuk memperluas akses pemberdayaan. Melalui platform LinkUMKM, BRI telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM.

Tidak semua pendampingan dilakukan secara digital. BRI juga menghadirkan Rumah BUMN sebagai ruang pendampingan langsung bagi pelaku usaha. Hingga Juni 2026, sekitar 596 ribu pelaku UMKM telah bergabung dalam ekosistem tersebut.

Rangkaian program itu memperlihatkan perubahan pendekatan BRI dalam menjalankan fungsi perbankan. Pelaku UMKM tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pembiayaan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem usaha yang perlu diperkuat kapasitasnya.

Tak Hanya Menyalurkan Kredit

Aquarius menegaskan, berbagai inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya BRI menjalankan peran lebih luas. Bank tidak hanya bertindak sebagai financial intermediary, tetapi juga sebagai enabler bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Siklus pemberdayaan tersebut diarahkan agar UMKM mampu meningkatkan kapasitas usaha secara berkelanjutan. Dengan kapasitas yang semakin kuat, pelaku usaha diharapkan bisa naik kelas dan terintegrasi dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas.

“Pada akhirnya, pertumbuhan usaha tersebut diharapkan turut mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pelaku UMKM,” ujar Aquarius.

Strategi tersebut berjalan beriringan dengan kinerja BRI Group yang tetap solid sepanjang semester pertama 2026.

Hingga Triwulan II 2026, total aset BRI Group mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen secara YoY. Penyaluran kredit juga meningkat 16,2 persen YoY menjadi Rp1.646 triliun.

Pada periode yang sama, laba bersih konsolidasian BRI tercatat Rp31,2 triliun. Angka tersebut tumbuh 17,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah pertumbuhan tersebut, dominasi UMKM dalam portofolio kredit menjadi penanda bahwa ekspansi BRI tetap berpijak pada ekonomi kerakyatan. Kredit tumbuh, tetapi pemberdayaan menjadi cara untuk memastikan pertumbuhan itu ikut menciptakan pelaku usaha yang lebih kuat, mandiri, dan mampu naik kelas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Ekonomi Kerakyatan Pemberdayaan UMKM Kredit UMKM BRI BRI 2026 Kinerja BRI