Kredit BRI Tembus Rp1.646 Triliun, Tumbuh 16,2 Persen

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 08:38 WIB
Direktur Utama BRI Hery Gunardi.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi.

RADAR BANYUWANGI — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat pertumbuhan kredit 16,2 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp1.646 triliun hingga Triwulan II 2026. Angka tersebut melampaui pertumbuhan kredit perbankan nasional yang berada di level 12,7 persen yoy, sekaligus menunjukkan intermediasi BRI tetap ekspansif di tengah upaya menjaga kualitas aset.

Pertumbuhan kredit BRI tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp1.417 triliun. Dengan demikian, penyaluran kredit BRI bertambah sekitar Rp229 triliun dalam setahun.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan capaian tersebut dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8).

Menurut Hery, pertumbuhan kredit tersebut mencerminkan fungsi intermediasi BRI yang tetap solid dalam mendukung aktivitas perekonomian nasional. Kinerja tersebut juga disebut menjadi salah satu hasil dari agenda transformasi yang terus dijalankan perseroan.

“Berbagai agenda transformasi BRI bukan hanya rencana strategis ke depan, melainkan juga sudah kami eksekusi dan menunjukkan hasil yang positif terhadap kinerja BRI. Bisnis tumbuh semakin kuat, intermediasi meningkat, rasio kredit bermasalah menurun dan pada saat yang sama pertumbuhan tersebut mampu kami konversikan menjadi peningkatan profitabilitas,” ujar Hery.

Aset BRI Ikut Tumbuh

Ekspansi kredit turut mendorong pertumbuhan aset BRI. Hingga akhir Triwulan II 2026, total aset perseroan mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen yoy.

Kemampuan BRI dalam menyalurkan kredit juga ditopang oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK BRI tercatat Rp1.581 triliun, meningkat 6,7 persen yoy dibandingkan Rp1.482 triliun pada Triwulan II 2025.

Tidak hanya bertumbuh dari sisi nominal, struktur pendanaan BRI juga mengalami perbaikan. Hal itu terlihat dari rasio CASA (Current Account Saving Account) yang meningkat dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen secara tahunan.

Kenaikan rasio CASA menunjukkan porsi dana murah dalam struktur pendanaan BRI semakin besar. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya pendanaan ketika perseroan terus memperluas penyaluran kredit.

NPL Turun, Cost of Credit Membaik

Di tengah pertumbuhan kredit yang mencapai dua digit, BRI juga mencatat perbaikan kualitas aset.

Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen pada Triwulan I 2026 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026.

Perbaikan kualitas kredit tersebut berjalan beriringan dengan penurunan Cost of Credit. Rasio tersebut turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen atau membaik sekitar 30 basis poin.

Hery menegaskan, strategi BRI tidak semata-mata mengejar pertumbuhan penyaluran kredit. Perseroan juga berupaya memastikan ekspansi bisnis tetap menghasilkan kualitas aset dan profitabilitas yang berkelanjutan.

“Growth is back, strong. Kualitas pertumbuhan dari sisi risiko tetap kami jaga dan kami optimistis ke depan,” kata Hery.

BRI Jaga Keseimbangan Pertumbuhan

Dalam konferensi pers tersebut, Hery didampingi Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K., Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, serta Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.

Dengan pertumbuhan kredit, aset, dan dana pihak ketiga yang tetap positif serta kualitas kredit yang membaik, BRI optimistis dapat mempertahankan momentum kinerja pada periode berikutnya.

Perseroan menyatakan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik. Fokus tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan keberlanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi BRI terhadap perekonomian Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
BRI 2026 Kinerja BRI Kredit BRI kredit perbankan NPL BRI