BRI Tak Asal Gas, Kredit Tembus Rp1.646 Triliun, Risiko Makin Terjaga

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 08:31 WIB
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.

RADAR BANYUWANGI - BRI berhasil mencatat pertumbuhan kredit 16,2 persen secara tahunan menjadi Rp1.646 triliun hingga Triwulan II 2026, sekaligus menurunkan NPL dari 3 persen menjadi 2,9 persen. Capaian itu menunjukkan ekspansi bisnis BRI tetap berjalan agresif, tetapi tidak dilakukan dengan mengorbankan kualitas aset.

Kinerja tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 BRI di Jakarta, Senin (31/8).

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan, pertumbuhan kredit yang berada di atas industri perbankan merupakan bagian dari strategi ekspansi yang tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian.

Menurut dia, BRI tidak sekadar mengejar besarnya penyaluran kredit. Setiap ekspansi harus disesuaikan dengan risk appetite dan profil risiko debitur agar pertumbuhan bisnis dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

“Pertumbuhan kredit dan pembiayaan BRI pada Triwulan II 2026 berada di atas industri perbankan dan diikuti dengan perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan,” ujar Ety.

Kredit Tumbuh, Risiko Justru Menurun

Angka pertumbuhan kredit BRI menjadi semakin menarik ketika disandingkan dengan sejumlah indikator kualitas aset.

Hingga akhir Triwulan II 2026, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI mencapai Rp1.646 triliun, tumbuh 16,2 persen secara tahunan (YoY).

Pada saat yang sama, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) justru membaik. NPL turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026.

Artinya, pertumbuhan penyaluran kredit tidak serta-merta diikuti peningkatan kredit bermasalah.

Bagi BRI, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa ekspansi yang dilakukan masih berada dalam koridor pengelolaan risiko yang terukur.

“Hal ini mencerminkan bahwa ekspansi yang kami lakukan tetap berjalan secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” kata Ety.

BRI Pilih Tumbuh Selektif

Di balik pertumbuhan kredit tersebut terdapat strategi selective growth atau pertumbuhan selektif.

BRI mengarahkan ekspansi kepada segmen, sektor, dan nasabah dengan profil risiko yang dapat diukur. Dengan pendekatan tersebut, keputusan pemberian kredit tidak hanya mempertimbangkan peluang pertumbuhan, tetapi juga kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya.

Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap awal hingga kredit tersebut berjalan.

BRI memperkuat early warning system, melakukan pemantauan kualitas kredit, serta mengoptimalkan fungsi collection dan recovery.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end,” jelas Ety.

Proses tersebut mencakup pipeline akuisisi dan seleksi debitur, pemantauan kualitas kredit, hingga penanganan kredit melalui collection dan recovery.

Loan at Risk Ikut Menyusut

Perbaikan kualitas aset BRI tidak hanya terlihat dari NPL.

Indikator yang lebih bersifat forward-looking, yakni Loan at Risk (LaR), juga mengalami perbaikan.

Pada akhir Triwulan II 2026, rasio LaR BRI tercatat 9,1 persen, turun dari 9,6 persen pada akhir 2025.

Penurunan tersebut menunjukkan adanya perbaikan profil risiko portofolio kredit BRI. Kondisi itu sekaligus memberikan sinyal bahwa kualitas penyaluran kredit baru ikut menjadi perhatian dalam strategi ekspansi perseroan.

Dengan kata lain, BRI tidak hanya melihat kualitas kredit berdasarkan masalah yang sudah terjadi. Potensi risiko ke depan juga menjadi bagian dari pengawasan.

Cost of Credit Turun

Perbaikan kualitas aset kemudian turut tercermin dalam biaya risiko.

Cost of Credit (CoC) BRI turun dari 3,4 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 3,1 persen pada Triwulan II 2026.

Penurunan CoC menunjukkan bahwa membaiknya kualitas aset ikut memberikan dampak terhadap biaya risiko yang harus ditanggung perseroan.

Kombinasi antara pertumbuhan kredit, penurunan NPL, perbaikan LaR, dan turunnya CoC menjadi gambaran bahwa strategi ekspansi BRI tidak hanya mengejar volume.

Pertumbuhan harus tetap menghasilkan portofolio yang sehat.

UMKM Tetap Jadi Fondasi

Tantangan pengelolaan risiko menjadi semakin penting karena UMKM merupakan bisnis inti BRI.

Segmen tersebut memiliki peran strategis karena bersentuhan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, besarnya portofolio UMKM juga menuntut disiplin pengelolaan risiko agar ekspansi tetap berkelanjutan.

BRI melihat pembiayaan UMKM bukan hanya sebagai instrumen untuk memperluas inklusi keuangan, tetapi juga sebagai portofolio bisnis yang harus dikelola secara sehat.

“Model bisnis berbasis UMKM memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena langsung menyentuh aktivitas produktif masyarakat,” tutur Ety.

Menurutnya, pengelolaan risiko yang disiplin menjadi kunci agar pembiayaan UMKM tetap dapat menjadi fondasi pertumbuhan BRI sekaligus memberikan kontribusi terhadap ekonomi kerakyatan.

Jaringan Luas Jadi Penyangga

BRI juga memiliki modal penting dalam menjaga kualitas portofolio, yakni jaringan bisnis yang tersebar luas serta basis nasabah yang terdiversifikasi.

Diversifikasi tersebut memungkinkan portofolio kredit BRI tersebar secara geografis maupun sektoral. Dengan demikian, perseroan memiliki daya tahan yang lebih baik ketika menghadapi perubahan kondisi ekonomi di suatu wilayah atau sektor tertentu.

Strategi tersebut menjadi semakin relevan di tengah pertumbuhan kredit yang cukup tinggi.

Aset Tembus Rp2.352 Triliun

Strategi pertumbuhan selektif tersebut turut menopang kinerja keuangan BRI Group hingga Triwulan II 2026.

Total aset BRI Group mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen YoY.

Sementara itu, kredit tumbuh lebih tinggi, yakni 16,2 persen YoY menjadi Rp1.646 triliun.

Dari sisi profitabilitas, BRI membukukan laba bersih konsolidasian Rp31,2 triliun, meningkat 17,5 persen YoY.

Deretan angka tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan bisnis masih menjadi mesin utama kinerja BRI. Namun, perseroan berupaya menjaga agar akselerasi kredit tidak menghasilkan beban risiko yang berlebihan.

Kredit tumbuh 16,2 persen, tetapi NPL justru turun menjadi 2,9 persen. Bagi BRI, inilah inti strategi pertumbuhan: ekspansi tetap berjalan, namun kualitas aset dan risiko tidak boleh ditinggalkan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
BRI 2026 Kinerja BRI Kredit BRI NPL BRI bbri