RADAR SITUBONDO — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memasuki paruh kedua 2026 dengan fundamental yang semakin solid. Hingga Triwulan II 2026, likuiditas tetap terjaga, dana murah menguat, kualitas kredit membaik, sementara kredit tumbuh 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun dan laba bersih mencapai Rp31,2 triliun atau naik 17,5 persen secara tahunan. Kondisi itu menjadi modal penting BRI untuk terus menggenjot intermediasi, terutama pembiayaan sektor UMKM, tanpa mengendurkan prinsip kehati-hatian.
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan, kekuatan fundamental menjadi fondasi perseroan dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas.
Hal itu disampaikan Achmad Royadi dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta.
Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank berada di level 90,8 persen. Posisi tersebut dinilai masih memadai untuk menopang fungsi intermediasi perbankan.
Sementara itu, permodalan BRI tetap kokoh. Capital Adequacy Ratio (CAR) pada Triwulan II 2026 tercatat 21,5 persen.
“Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas,” ujar Achmad Royadi.
Dana Murah Makin Tebal
Kekuatan likuiditas BRI tak berdiri sendiri. Struktur pendanaan perseroan juga menunjukkan perbaikan.
Hingga akhir Triwulan II 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen secara year-on-year (yoy).
Yang menarik, pertumbuhan DPK tersebut dibarengi peningkatan porsi dana murah. Rasio CASA BRI naik dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen.
Kenaikan CASA menjadi sinyal penting bagi kualitas struktur pendanaan bank. Semakin kuat dana murah, semakin besar ruang bagi bank untuk mengelola biaya pendanaan sekaligus menopang pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Fondasi likuiditas dan pendanaan tersebut kemudian memberi ruang bagi BRI untuk menjalankan fungsi intermediasi secara lebih optimal. Di saat yang sama, permodalan yang kuat menjadi bantalan untuk menghadapi berbagai risiko ketika ekspansi kredit terus dilakukan.
Kredit Tumbuh, Risiko Justru Menurun
BRI tidak sekadar mengejar pertumbuhan kredit. Perseroan juga menjaga kualitas penyaluran dan disiplin pengelolaan risiko.
Hasilnya terlihat dari sejumlah indikator kualitas aset yang membaik. Rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,07 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026.
Perbaikan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa ekspansi kredit berjalan beriringan dengan penguatan manajemen risiko.
Strategi yang dijalankan BRI antara lain melalui pendekatan selective growth, penguatan early warning system pada segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.
Indikator Loan at Risk (LaR) juga ikut turun. Dari 9,6 persen pada akhir 2025, LaR menyusut menjadi 9,1 persen pada akhir Triwulan II 2026.
Penurunan LaR tersebut mencerminkan kualitas booking kredit baru yang semakin baik. Sejalan dengan itu, Cost of Credit (CoC) juga turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.
Dengan demikian, pertumbuhan bisnis BRI hingga pertengahan 2026 tidak hanya ditopang oleh ekspansi kredit, tetapi juga disertai perbaikan sejumlah indikator risiko.
Aset Tembus Rp2.352 Triliun
Kombinasi antara pertumbuhan bisnis dan fundamental yang semakin sehat akhirnya tercermin dalam kinerja keuangan BRI.
Total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen yoy.
Pertumbuhan aset tersebut terutama ditopang akselerasi penyaluran kredit. Kredit BRI mencapai Rp1.646 triliun atau tumbuh 16,2 persen yoy.
Pertumbuhan kredit tersebut kemudian ikut mendorong profitabilitas. BRI membukukan laba bersih Rp31,2 triliun, meningkat 17,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit masih mampu berjalan beriringan dengan penguatan kualitas aset dan pengendalian risiko.
UMKM Tetap Jadi Mesin Utama
Di balik angka-angka tersebut, BRI tetap menempatkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai fokus utama bisnis.
Segmen UMKM merupakan core business perseroan sekaligus ruang strategis untuk memperluas inklusi keuangan di Indonesia.
Kekuatan permodalan, likuiditas, dan kualitas aset memberikan ruang bagi BRI untuk terus menjalankan fungsi intermediasi. Pembiayaan UMKM pun tidak hanya dipandang sebagai strategi bisnis, tetapi juga bagian dari dukungan terhadap agenda prioritas pemerintah dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan fondasi yang semakin kuat hingga Triwulan II 2026, BRI memasuki semester kedua tahun ini dengan ruang ekspansi yang relatif lebih lebar. Tantangannya kini bukan sekadar seberapa cepat kredit tumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut tetap menghasilkan kualitas aset dan profitabilitas yang sehat dalam jangka panjang. (*)
Editor : Ali Sodiqin