Lima Tahun Holding UMi: BRI, Pegadaian, PNM Dorong Jutaan UMKM Naik Kelas

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 11:36 WIB
Lima tahun Holding UMi, 33,8 juta debitur telah dilayani dan 2,3 juta naik kelas. Ekosistem kini bergerak dari pembiayaan menuju aset dan kesejahteraan. (Foto: BRI)
Lima tahun Holding UMi, 33,8 juta debitur telah dilayani dan 2,3 juta naik kelas. Ekosistem kini bergerak dari pembiayaan menuju aset dan kesejahteraan. (Foto: BRI)

RADAR SITUBONDO — Lima tahun setelah dibentuk pada 13 September 2021, Holding Ultra Mikro (UMi) tidak lagi sekadar menjadi mesin pembiayaan bagi masyarakat lapisan terbawah. Integrasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) telah berkembang menjadi ekosistem keuangan dan pemberdayaan ekonomi rakyat yang melayani 33,8 juta debitur aktif, mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro, serta mengantarkan sekitar 2,3 juta debitur naik kelas hingga akhir triwulan II 2026.

Capaian itu menunjukkan perubahan penting dalam strategi inklusi keuangan. Masyarakat ultra mikro tidak hanya didorong memperoleh modal usaha, tetapi juga diarahkan untuk memiliki simpanan, meningkatkan kapasitas bisnis, menggunakan layanan transaksi, membangun aset, hingga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Transformasi tersebut menjadi penanda penting perjalanan Holding UMi yang dibentuk lima tahun lalu untuk menjawab persoalan klasik: masih banyak pelaku usaha ultra mikro yang belum tersentuh layanan keuangan formal secara optimal.

Melalui integrasi tiga entitas dengan karakter dan keunggulan berbeda, akses tersebut diperluas sekaligus dilengkapi dengan pemberdayaan dan pendampingan.

Group CEO BRI Hery Gunardi mengatakan, kekuatan utama Holding UMi terletak pada kemampuan mengintegrasikan keunggulan BRI, Pegadaian, dan PNM dalam satu ekosistem.

“Selama lima tahun, kekuatan Holding UMi ditopang oleh integrasi keunggulan masing-masing entitas. BRI memiliki jaringan dan kapabilitas pembiayaan UMKM serta infrastruktur yang luas, Pegadaian memiliki kompetensi pada pembiayaan berbasis gadai dan ekosistem emas, sementara PNM memiliki kekuatan pada pemberdayaan serta pendampingan kelompok usaha ultra mikro,” ujar Hery.

Bukan Sekadar Soal Pembiayaan

Konsep Holding UMi membuat perjalanan nasabah tidak berhenti ketika pembiayaan diterima. Ekosistem dibangun mengikuti tahapan perkembangan ekonomi masyarakat.

Pelaku usaha yang baru merintis dapat memperoleh pembiayaan dan pendampingan di segmen ultra mikro. Ketika usahanya berkembang, nasabah memiliki peluang mengakses pembiayaan dengan kapasitas lebih besar.

Pada tahap berikutnya, kebutuhan masyarakat juga dapat berkembang dari sekadar modal usaha menjadi kebutuhan transaksi, simpanan, investasi, hingga pembentukan aset.

Di sinilah angka 2,3 juta debitur yang naik kelas menjadi salah satu indikator penting.

Sebab, keberhasilan ekosistem pembiayaan tidak hanya ditentukan oleh berapa besar kredit atau pembiayaan yang disalurkan. Ukuran yang lebih substantif adalah apakah nasabah mengalami mobilitas ekonomi setelah masuk ke dalam ekosistem.

Hery menegaskan, perubahan kondisi ekonomi nasabah menjadi ukuran penting keberhasilan Holding UMi.

“Bagi kami, keberhasilan terbesar bukan hanya ketika seseorang memperoleh pembiayaan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika usahanya tumbuh, pendapatannya meningkat, kemampuan menabungnya semakin baik, dan kemudian dia mampu mengakses layanan keuangan yang lebih luas sehingga meningkatkan kesejahteraan,” jelas Hery.

Karena itu, agenda naik kelas menjadi salah satu fokus yang terus didorong.

15.100 Kantor, 74 Ribu Tenaga Pemasar

Skala Holding UMi juga terlihat dari infrastruktur yang menopang layanan di lapangan.

Hingga triwulan II 2026, jaringan BRI, Pegadaian, dan PNM telah mencapai lebih dari 15.100 kantor. Jaringan tersebut menjadi salah satu fondasi untuk membawa layanan keuangan lebih dekat dengan masyarakat.

Namun, jangkauan fisik saja tidak cukup.

Di balik jaringan tersebut terdapat lebih dari 74 ribu tenaga pemasar yang menjadi ujung tombak interaksi langsung dengan nasabah dan komunitas.

Mantri BRI, tenaga pemasar Pegadaian, serta account officer (AO) PNM tidak hanya bertugas menawarkan pembiayaan. Mereka juga berperan memahami kebutuhan dan karakteristik usaha, memberikan edukasi keuangan, serta mendampingi pelaku usaha dalam meningkatkan kapasitas bisnis.

Pendekatan tersebut membuat hubungan antara lembaga keuangan dan nasabah tidak berhenti pada transaksi.

Ada proses pendampingan yang memungkinkan lembaga memahami perjalanan usaha sekaligus membantu nasabah mengambil langkah berikutnya.

Dengan model tersebut, Holding UMi berupaya membangun siklus yang lebih panjang: akses pembiayaan, pemberdayaan, pertumbuhan usaha, peningkatan kapasitas, hingga kesejahteraan.

Dari Modal Usaha Menuju Kepemilikan Aset

Memasuki tahun kelima, arah transformasi Holding UMi juga semakin melebar.

Fokusnya bukan lagi hanya membuka akses pembiayaan, tetapi memperluas inklusi dan literasi keuangan masyarakat.

Salah satu perkembangan yang mencolok datang dari ekosistem emas melalui Pegadaian.

Hingga Agustus 2026, ekosistem emas dalam Holding UMi telah mencapai sekitar 153 ton.

Ekosistem tersebut mencakup layanan gadai dan pembiayaan berbasis emas, Tabungan Emas, transaksi emas secara digital, hingga bullion services.

Kehadiran ekosistem emas memperluas pilihan masyarakat dalam mengelola keuangan. Jika pada tahap awal masyarakat membutuhkan modal untuk bertahan dan mengembangkan usaha, pada tahap berikutnya mereka didorong membangun kebiasaan menabung dan memiliki aset sebagai penyimpan nilai.

Dengan demikian, perjalanan dalam ekosistem Holding UMi tidak berhenti pada hubungan debitur dan kreditur.

Ada upaya mendorong masyarakat bergerak dari akses keuangan menuju pemberdayaan, kemudian dari pemberdayaan menuju pembentukan aset dan kesejahteraan.

Lima Tahun sebagai Fondasi Fase Berikutnya

Lima tahun perjalanan Holding UMi menjadi fondasi untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya.

Skala 33,8 juta debitur aktif, lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro, jaringan lebih dari 15.100 kantor, serta dukungan lebih dari 74 ribu tenaga pemasar menunjukkan besarnya ekosistem yang telah terbentuk.

Namun, skala tersebut bukan tujuan akhir.

Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyak masyarakat tidak sekadar masuk ke dalam sistem keuangan formal, tetapi benar-benar memperoleh manfaat ekonomi yang lebih dalam.

Hery menegaskan, Holding UMi diarahkan bukan hanya menjadi ekosistem keuangan berskala besar, melainkan ekosistem yang mampu menciptakan perubahan nyata bagi masyarakat.

“Pada akhirnya, tujuan Holding Ultra Mikro bukan sekadar menjadi ekosistem keuangan dengan skala yang besar. Kami ingin menjadi ekosistem yang mampu membuka jalan bagi masyarakat untuk bergerak dari akses keuangan menuju pemberdayaan, dan dari pemberdayaan menuju kesejahteraan,” pungkas Hery.

Lima tahun setelah integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM dimulai, ukuran keberhasilannya pun semakin bergeser. Bukan semata tentang berapa banyak masyarakat yang memperoleh pembiayaan, melainkan berapa banyak yang mampu bertumbuh, menabung, memiliki aset, dan meningkatkan kesejahteraan.

Itulah babak baru Holding UMi: menjadikan inklusi keuangan bukan sekadar pintu masuk, tetapi jalan menuju mobilitas ekonomi masyarakat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Holding UMi debitur naik kelas pembiayaan ultra mikro ekosistem emas BRI Pegadaian PNM