Dewi Natalia, Mantri BRI yang Berani Hadapi Rentenir Demi Pedagang Kecil di Lampung

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 08:50 WIB
Dewi Natalia 15 tahun menjadi Mantri BRI. Ia mendampingi 380 debitur mikro dan membantu pedagang pasar lepas dari jerat rentenir. (Foto: BRI)
Dewi Natalia 15 tahun menjadi Mantri BRI. Ia mendampingi 380 debitur mikro dan membantu pedagang pasar lepas dari jerat rentenir. (Foto: BRI)

RADAR SITUBONDO – Mengalihkan pedagang pasar dari jerat rentenir ternyata bisa memicu konflik. Namun, Dewi Natalia tidak mundur. Selama sekitar 14 tahun menjadi Mantri BRI, ia justru menjadikan edukasi keuangan dan akses pembiayaan yang aman sebagai bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.

Kini, setelah hampir 15 tahun bersama BRI, Dewi menangani 380 debitur mikro aktif di BRI Unit Natar, Kantor Cabang Teluk Betung, Kantor Wilayah Bandar Lampung. Bagi Dewi, pekerjaannya bukan semata mengejar target pembiayaan, tetapi memastikan pelaku usaha kecil mendapatkan akses perbankan yang layak dan terhindar dari praktik keuangan yang merugikan.

Perjalanan itu bermula pada Februari 2011. Dewi pertama kali bergabung dengan BRI sebagai Customer Service (CS). Setahun kemudian, ia mencoba tantangan baru dengan mendaftar sebagai Mantri.

Jalannya tidak mulus.

Dewi harus melewati proses seleksi ketat di Palembang hingga dua kali percobaan sebelum akhirnya berhasil menjadi Mantri BRI.

“Saya bisa bilang bahwa perjalanan yang saya tempuh tidak mudah ya, termasuk harus mengikuti seleksi ketat di Palembang hingga dua kali percobaan. Akan tetapi, akhirnya saya berhasil membuktikan komitmen saya,” kenang Dewi.

Dari Pintu ke Pintu Mencari Nasabah

Tugas pertamanya sebagai Mantri dimulai di BRI Unit Sendang Agung, Lampung Tengah. Saat itu, kantor unit tersebut masih tergolong baru.

Dewi pun harus membangun basis nasabah dari awal. Ia mendatangi masyarakat dari pintu ke pintu, berinteraksi langsung dengan pelaku usaha, termasuk pedagang di pasar tradisional.

Dari interaksi tersebut, Dewi menemukan persoalan yang lebih besar dari sekadar minimnya akses perbankan.

Sebagian pedagang belum akrab dengan layanan keuangan formal. Untuk memenuhi kebutuhan modal, mereka masih bergantung kepada rentenir dengan bunga tinggi.

Kondisi itu membuat Dewi memilih turun langsung. Ia tidak hanya menawarkan pembiayaan, tetapi juga memberikan edukasi mengenai layanan keuangan formal.

Perlahan, para pedagang mulai mengenal alternatif pembiayaan dari BRI yang lebih aman, transparan, dan terjangkau.

“Saya masuk mengedukasi pedagang-pedagang pasar. Kita kasih pinjaman sehingga mereka terlepas dari rentenir itu. Bagi saya pribadi, ada rasa bangga yang luar biasa ketika melihat mereka yang awalnya kesulitan, kini bisa mandiri berkat akses perbankan yang layak,” kata Dewi.

Ketika Rentenir Mulai Terusik

Langkah Dewi ternyata tidak selalu berjalan mulus.

Ketika semakin banyak pedagang beralih menggunakan layanan BRI, keberadaan rentenir di sekitar pasar ikut terusik. Situasi bahkan sempat berkembang menjadi semacam “perang dingin” di lingkungan pasar.

Salah seorang rentenir juga pernah mencoba membujuk Dewi agar melakukan kerja sama tidak resmi.

Dewi menolak.

Baginya, integritas sebagai Mantri BRI tidak bisa ditukar dengan kepentingan sesaat. Nasabah harus tetap menjadi pihak yang dilindungi, sementara layanan pembiayaan harus diberikan melalui mekanisme yang resmi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap itu menjadi salah satu pengalaman yang membentuk perjalanan Dewi sebagai Mantri.

Bagi dia, keberhasilan bukan hanya ketika pembiayaan tersalurkan. Ukurannya adalah ketika nasabah mampu mengembangkan usaha, lebih mandiri, dan tidak lagi bergantung pada sumber pembiayaan yang membebani.

15 Tahun Bersama BRI

Setelah hampir 15 tahun berkarier di BRI, Dewi mengaku pekerjaannya telah menjadi bagian penting dari kehidupannya.

Ia menyebut rasa syukur dan fokus terhadap tujuan menjadi modal untuk bertahan menghadapi berbagai dinamika pekerjaan di lapangan.

“Bagi saya, bekerja sebagai Mantri BRI bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan jiwa yang telah menjadi bagian dari diri saya. BRI sudah menjadi darah daging bagi saya selama hampir 15 tahun ini,” ujarnya.

Saat ini, pengalaman tersebut ia bawa dalam mendampingi 380 debitur mikro aktif di wilayah kerjanya.

Jumlah itu bukan sekadar angka portofolio. Di balik setiap debitur terdapat usaha kecil yang membutuhkan pendampingan, akses pembiayaan, dan kepercayaan untuk berkembang.

Peran tersebut sekaligus memperlihatkan posisi Mantri sebagai salah satu ujung tombak perbankan yang berhadapan langsung dengan pelaku usaha mikro.

Mantri Jadi Ujung Tombak Inklusi Keuangan

Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan penguatan peran Mantri merupakan bagian dari upaya BRI menjaga kedekatan dengan segmen mikro dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut dia, Mantri memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan pelaku usaha dan memahami kebutuhan mereka dari dekat.

“Mantri menjadi salah satu ujung tombak BRI dalam menjangkau pelaku usaha secara langsung. Kehadiran mereka membantu BRI memahami kebutuhan nasabah dengan lebih dekat sekaligus memastikan akses pembiayaan dan layanan keuangan dapat benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan usaha masyarakat,” ujar Dhanny.

Kisah Dewi menunjukkan bahwa inklusi keuangan tidak selalu dimulai dari ruang kantor atau aplikasi digital.

Di pasar-pasar tradisional, proses itu bisa dimulai dari percakapan sederhana. Dari seorang Mantri yang datang menemui pedagang, menjelaskan pilihan pembiayaan, mendampingi usaha, sekaligus memastikan masyarakat tidak terjebak dalam praktik keuangan yang merugikan.

Selama bertahun-tahun, Dewi memilih berada di titik tersebut: di antara kebutuhan modal pedagang kecil dan upaya membuka akses keuangan yang lebih aman.

Dan bagi 380 debitur yang kini berada dalam pendampingannya, pekerjaan seorang Mantri bukan sekadar tentang pinjaman. Lebih jauh, ini tentang kesempatan untuk membuat usaha kecil tetap hidup dan tumbuh. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Inklusi Keuangan Mantri BRI Dewi Natalia BRI Bandar Lampung pedagang pasar