Vio dan Jalan Panjang PNM Mekaar Menjangkau Ibu-Ibu di Banda Neira

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 09:04 WIB
Vio Trintje Ory menembus Banda Neira untuk membuka Unit PNM dan mendampingi ibu-ibu lewat PNM Mekaar, dari menyeberang laut hingga berjalan kaki. (Foto: BRI)
Vio Trintje Ory menembus Banda Neira untuk membuka Unit PNM dan mendampingi ibu-ibu lewat PNM Mekaar, dari menyeberang laut hingga berjalan kaki. (Foto: BRI)

RADAR SITUBONDO – Perjalanan sekitar 45 menit, menyeberangi laut hingga berjalan kaki menjadi rutinitas Violend Trintje Ory, 23, untuk mendatangi rumah-rumah warga di Banda Neira, Maluku Tengah. Bukan sekadar mengejar target pekerjaan, perjalanan itu menjadi bagian dari upayanya membangun kepercayaan masyarakat sekaligus membuka akses PNM Mekaar di wilayah kepulauan yang sebelumnya belum banyak mengenal layanan PNM.

Vio mendapat penugasan dari Ambon untuk membuka Unit Banda, unit baru sekaligus yang pertama milik PNM di Banda Neira. Tugas tersebut membuatnya harus berhadapan langsung dengan tantangan geografis sekaligus tantangan sosial: memperkenalkan layanan dan membangun kepercayaan masyarakat dari nol.

Datang dari Rumah ke Rumah

Pada awal kehadiran PNM, tidak semua warga langsung menerima. Sebagian calon nasabah masih ragu terhadap layanan yang ditawarkan.

Vio memilih tidak memaksakan pendekatan. Ia bersama rekan-rekannya mendatangi warga secara langsung, menjelaskan program PNM Mekaar, sekaligus mendengarkan kekhawatiran calon nasabah.

"Awal kami masuk, mereka ragu. Kami tidak memaksakannya bagi mereka yang terasa ragu. Tapi kami rangkul yang percaya sama kami untuk prosesnya ke depan," ujar Vio.

Menurut dia, membangun kepercayaan membutuhkan waktu. Komunikasi tidak hanya dilakukan dengan calon nasabah, tetapi juga dengan keluarga mereka.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena keputusan seorang ibu untuk bergabung dalam program pembiayaan usaha kerap berkaitan dengan kondisi ekonomi dan dukungan keluarga.

Menyeberang Laut, Lanjut Jalan Kaki

Tantangan berikutnya adalah kondisi geografis Banda Neira.

Untuk menjangkau sejumlah wilayah, Vio bersama rekan-rekannya harus menyeberangi laut, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Keterbatasan kendaraan tidak membuat pendampingan berhenti. Ketika sepeda motor belum dapat digunakan di wilayah seberang, berjalan kaki menjadi pilihan.

Dari aktivitas tersebut, informasi mengenai PNM perlahan menyebar dari satu warga ke warga lainnya. Nasabah yang telah bergabung turut menjadi bagian dari jalur informasi kepada masyarakat sekitar.

Pola dari rumah ke rumah itu membuat pekerjaan Vio bukan semata mencari calon nasabah, melainkan memperkenalkan sebuah layanan keuangan kepada komunitas yang sebelumnya belum akrab dengan PNM.

Melihat Perubahan dari Dekat

Bagi Vio, pengalaman paling berkesan bukan hanya ketika berhasil mengajak warga menjadi nasabah. Ia juga melihat secara langsung perubahan yang terjadi setelah ibu-ibu memperoleh akses modal usaha.

Salah satu nasabah yang dikenangnya sebelumnya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Pekerjaan tersebut membuatnya harus beraktivitas dari pagi hingga sore sehingga waktu bersama keluarga menjadi terbatas.

Setelah memperoleh modal usaha, nasabah tersebut memilih berhenti bekerja sebagai asisten rumah tangga dan mulai berjualan kebutuhan sehari-hari dari rumah.

Perubahan itu membuat Vio merasa pekerjaannya memiliki arti lebih dari sekadar aktivitas administratif.

"Saya merasa bersyukur, karena saya jadi penyalur berkat," ujar Vio.

Bagi dia, melihat para ibu mulai memiliki usaha dan penghasilan sendiri menjadi salah satu pengalaman yang membuat perjalanan panjang menuju rumah-rumah nasabah terasa sepadan.

Inklusi Keuangan Tidak Berhenti di Produk

Kisah Vio menunjukkan bahwa inklusi keuangan di wilayah kepulauan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya produk pembiayaan.

Ada faktor lain yang tidak kalah penting: kehadiran manusia yang datang langsung, menjelaskan, mendampingi, dan membangun kepercayaan.

Di Banda Neira, proses tersebut berlangsung dari rumah ke rumah. Jarak, laut, keterbatasan kendaraan, hingga keraguan calon nasabah menjadi bagian dari proses membuka akses layanan keuangan.

Kehadiran PNM di Banda Neira juga menjadi bagian dari upaya Holding Ultra Mikro (UMi) memperluas jangkauan layanan keuangan dan pemberdayaan usaha di berbagai wilayah Indonesia.

Holding UMi dibentuk pada 2021 dengan BRI sebagai induk holding, bersama Pegadaian dan PNM. Ekosistem tersebut mengintegrasikan akses pembiayaan, simpanan, transaksi, pemberdayaan, dan pendampingan usaha.

33,8 Juta Debitur Aktif

Hingga akhir triwulan II 2026, Holding UMi telah melayani 33,8 juta debitur aktif dan mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro.

Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM juga telah mendorong sekitar 2,3 juta debitur naik kelas.

Angka tersebut menggambarkan skala ekosistem yang dibangun Holding UMi. Namun, di tingkat lapangan, ekspansi tersebut tetap bergantung pada interaksi langsung dengan masyarakat.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan kekuatan Holding UMi tidak hanya terletak pada besarnya ekosistem, tetapi juga kemampuan seluruh entitas untuk hadir semakin dekat dengan masyarakat.

"Di balik besarnya ekosistem Holding Ultra Mikro, terdapat 74 ribu tenaga pemasar yang setiap hari hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan layanan keuangan dengan pelaku usaha hingga ke tingkat komunitas untuk membangun kepercayaan, mendampingi, dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk tumbuh," ujar Dhanny.

Dari Ambon ke Banda, dari Rumah ke Rumah

Bagi Vio, penugasan di Banda Neira membuat pekerjaan sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar memiliki dimensi yang lebih luas.

Ia tidak hanya bertugas menjangkau calon nasabah, tetapi juga mengenalkan layanan PNM, mendengarkan kebutuhan masyarakat, menjaga hubungan dengan nasabah, dan melihat perkembangan usaha mereka.

Jarak 45 menit, perjalanan menyeberangi laut, hingga langkah kaki menuju rumah warga akhirnya menjadi bagian dari satu proses yang sama: membawa akses keuangan lebih dekat kepada masyarakat yang sebelumnya belum terjangkau.

Di Banda Neira, inklusi keuangan bukan sekadar angka jumlah nasabah. Ia hadir dalam bentuk perjalanan seorang petugas lapangan yang mengetuk pintu rumah warga, membangun kepercayaan, lalu menyaksikan sebagian ibu mulai memiliki usaha dan penghasilan dari rumah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Inklusi Keuangan PNM Mekaar Holding UMi Vio Banda Neira Banda Neira