BRI Ungkap Tiga Kunci UMKM Tembus Pasar Global

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 11:35 WIB
Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris Y. S. memaparkan tiga kunci yang perlu diperkuat agar UMKM Indonesia mampu menembus pasar global, yakni kapasitas usaha dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis. (BRI)
Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris Y. S. memaparkan tiga kunci yang perlu diperkuat agar UMKM Indonesia mampu menembus pasar global, yakni kapasitas usaha dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis. (BRI)

RADAR SITUBONDO – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan untuk menembus pasar ekspor. BRI memetakan sedikitnya tiga kunci yang perlu diperkuat, yakni kapasitas usaha dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis.

Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris Y. S. mengatakan, upaya mendorong UMKM naik kelas tidak cukup hanya melalui pembiayaan. Penguatan kapasitas, peningkatan literasi keuangan, hingga pembukaan akses ke pasar internasional juga menjadi bagian penting.

Hal itu disampaikan Dippo dalam Indonesia Economic Forum 2026 bertema “The Future of Indonesia’s Exports: Transforming Towards Value-Added, Competitive and Sustainable Growth”. Forum tersebut membahas strategi meningkatkan daya saing ekspor Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Acara itu turut dihadiri Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun, Direktur Utama DSI Luke Thomas Mahony, serta Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi.

Dippo menjelaskan, tiga tantangan utama yang perlu dijawab agar semakin banyak UMKM mampu masuk pasar ekspor adalah kapasitas usaha dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis.

“Berangkat dari tiga hal tersebut, kami memberikan pembiayaan untuk membantu kapasitas, kami memberikan program pendampingan untuk membantu literasi, dan kami membuka sebesar-besarnya akses yang kami miliki untuk membantu akses bisnis dari UMKM,” ujar Dippo.

Menurut dia, pembiayaan menjadi fondasi awal bagi UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus kualitas produk. Akses terhadap modal memungkinkan pelaku usaha memperbesar skala bisnis, meningkatkan kemampuan produksi, serta memenuhi standar yang dibutuhkan pasar yang lebih luas.

Komitmen tersebut tercermin dalam portofolio kredit BRI. Hingga akhir triwulan II 2026, kredit kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dengan capaian tersebut, sekitar 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen UMKM.

Namun, pembiayaan bukan satu-satunya modal untuk membawa UMKM masuk pasar global. Dippo menilai pelaku usaha juga perlu meningkatkan literasi keuangan dan tata kelola bisnis.

Pasar ekspor, kata dia, memiliki tuntutan lebih kompleks. Salah satunya terkait transparansi keuangan serta kemampuan produsen memenuhi standar calon pembeli.

“Ekspor itu bukan hanya menjual barang. Buyer di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan. Kemampuan dari produsen menjelaskan bagaimana cara memproduksi, bagaimana keuangannya, sumbernya dari mana, itu juga penting untuk dilihat dari sisi buyer,” jelas Dippo.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, BRI mengembangkan ekosistem pemberdayaan UMKM yang berjalan beriringan dengan pembiayaan.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Sementara itu, Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.

Di sisi digital, LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Adapun program pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM.

“Yang paling berat adalah bagaimana secara pelan-pelan kita meningkatkan skala mereka, literasi mereka sampai mereka bisa diakses secara internasional. Ini tidak boleh dibalik. Kalau hari ini kita kasih akses tapi literasinya belum dapat, maka akses itu akan sia-sia juga,” ungkap Dippo.

Setelah kapasitas dan kesiapan usaha diperkuat, tantangan berikutnya adalah mempertemukan UMKM dengan pasar.

BRI memanfaatkan ekosistem nasabah dari berbagai segmen melalui pendekatan One BRI Solution. Skema tersebut memungkinkan pelaku UMKM terhubung dengan nasabah korporasi maupun komersial sekaligus membuka peluang masuk ke rantai nilai yang lebih besar.

Upaya membuka akses pasar juga dilakukan melalui BRI UMKM EXPO(RT). Pada penyelenggaraan 2025, ajang tersebut menghadirkan lebih dari 1.000 UMKM.

Business matching dalam ajang itu membukukan commitment deal senilai USD 90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Kegiatan tersebut juga mempertemukan UMKM dengan 506 pembeli terdaftar dari 34 negara.

Dippo mencontohkan peluang tersebut melalui pengembangan UMKM sektor perikanan dan industri kayu di Jawa Timur.

Menurut dia, BRI tidak bekerja sendiri dalam membuka akses ke pasar internasional. Perseroan juga memanfaatkan ekosistem nasabah korporasi dan komersial yang telah memiliki hubungan bisnis dengan pembeli di berbagai negara.

“Ketika mereka berhasil menjual produknya, mereka tidak sendiri. BRI tidak memberikan akses itu sendiri. Kita menggunakan nasabah-nasabah korporasi dan komersial kita yang kebetulan juga memiliki buyer di negara-negara tersebut. Jadi kolaborasi ini contohnya,” kata Dippo.

Editor : Lugas Rumpakaadi
pasar global pembiayaan UMKM ekspor UMKM umkm bri