RadarSitubondo.id – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Situbondo naik. Ada puluhan pasien yang dirawat akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut.
Masyarakat diharapkan menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit yang bisa berujung pada kematian tersebut.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Situbondo, warga yang terjangkit demam berdarah pada bulan Januari 2024 jumlahnya mencapai 24 orang.
Bulan ini ada penambahan 92 kasus. Sehingga dalam waktu satu bulan, ada penambahan 68 kasus baru.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), dr. Sandy Hendrayono melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Hari Santoso mengatakan, pasien DBD sudah ditangani oleh petugas kesehatan. Mereka ada yang menjalani perawatan di puskemas maupun rumah sakit daerah.
“Semua pasien sudah dirawat. Alhamdulillah sudah sembuh setelah menjalani perawatan,” ujarnya, Selasa (5/3).
Menurut Sandy, kasus demam berdarah di Situbondo ini tersebar di 13 kecamatan.
13 kecamatan tersebut adalah Sumbermalang, Jatibanteng, Besuki, Banyuglugur, Suboh, Panarukan, Situbondo, Mangaran, Kapongan, Panji, Arjasa, Jangkar dan Banyuputih.
Hari menjelaskan, pasien yang terjangkit DBD didominasi pasien usia 5-14 tahun. Mencapai puluhan orang. Pasien usia dewasa juga ada yang terjangkit DBD.
“Pasien usia di atas 44 ada. Tapi jumlah tidak banyak seperti pasien usia 5-14 tahun tersebut,” jelasnya.
Hari menegaskan, perlu kesadaran bersama untuk mencegah penularan DBD. Terutama menjaga kondisi lingkungan agar tetap bersih dan menghindari adanya genangan air.
Sebab, nyamuk itu tidak suka dengan lingkungan yang bersih.
“Sekarang intensitas hujan cukup tinggi. Makanya jangan sampai ada genangan air. Karena itu berpotensi jadi sarang nyamuk DBD,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu ibu rumah tangga, Devinda mengaku resah munculnya kasus DBD. Dia mengaku trauma setelah terjangkit DBD. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Anak saya baru usia enam bulan menjalani perawatan berhari-hari di rumah sakit karena terjangkit DBD. Kondisinya saat itu parah sehingga butuh perawatan serius,” ucapnya.
Devinda juga menyebutkan, kasus DBD yang menimpa anaknya juga dialami beberapa tetangganya.
Mereka juga menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Meskipun sempat kritis, namun masih bisa disembuhkan.
“Di Desa Sumberkolak ini bukan hanya anak saya yang terkena DBD, tetangga saya juga menderita penyakit tersebut. Dan itu saya baru tahu ketika tidak sengaja bertemu di rumah sakit,” jelasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin