RadarSitubondo.id – Seluruh Karyawan Rumah Sakit Al Huda (RSAH), Gambiran, Banyuwangi, kembali mengikuti pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) pekan lalu (24/10).
Sehingga karyawan selalu siap menghadapi kegawatdaruratan di segala kondisi.
Manajer Instalasi Gawat Darurat RSAH dr. Qomaria, menyampaikan, BHD merupakan tindakan darurat atau pertolongan pertama terhadap orang yang mengalami henti nafas atau henti jantung. Bantuan ini dilakukan tanpa menggunakan alat bantu.
Dia menjelaskan, kondisi henti nafas atau henti jantung bisa dialami siapa pun, di mana pun, serta kapan pun. Padahal, kondisi tersebut membawa efek yang mematikan.
Karena itu, bila menemukan seseorang kondisi tidak sadar, maka langkah pertama yaitu pastikan aman lingkungan buat kita juga korban. Kemudian, minta bantuan orang orang di sekitar.
‘’Selanjutnya bila korban tidak bernafas, bisa dilakukan pijat jantung dengan atau tanpa pemberian nafas buatan,’’ ujarnya.
Sementara itu, respons cepat dan efektif penolong di sekitarnya, akan sangat membantu korban dalam mempertahankan harapan hidup.
Pelatihan BHD dilakukan dalam dua hari dengan masing-masing dua sesi yaitu pagi dan siang. Sehingga semua karyawan dapat mengikutinya.
Secara terpisah, Direktur RSAH dr Indiati MMRS mengatakan, pada era pelayanan berfokus pada peningkatan mutu dan keselamatan pasien saat ini, setiap rumah sakit wajib menyiapkan layanan asuhan dan pelayanan pasien risiko tinggi.
‘’Dengan begitu, pelayanan kasus emergency dan penanganan pelayanan resusitasi di seluruh unit rumah sakit, harus ada dan harus selalu siap,” ujarnya.
Atas dasar tersebut, kata Indi, RSAH rutin menggelar pelatihan BHD yang targetnya bisa diikuti oleh seluruh karyawan.
Baca Juga: RSI Fatimah Banyuwangi Ikut Siapkan Tim Medis di Lokasi Gandrung Sewu Pantai Marina Boom
Baik karyawan medis, maupun karyawan nonmedis. Sehingga mereka selalu siap, terampil, dan mampu untuk melakukan BHD.
Latihan rutin akan meningkatkan keterampilan dan kepekaan terhadap kegawatan yang memerlukan BHD.
Komunikasi antar-petugas akan lebih intens. Sehingga informasi kegawatan bisa tersampaikan dengan cepat dan minim kesalahan interpretasi.
‘’Ini memacu terwujudnya pelayanan prima dengan mengedepankan peningkatan mutu dan keselamatan pasien,” pungkasnya. (*/bay)
Editor : Ali Sodiqin