Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Kasus Amputasi Diabetes Meningkat, RSUD Asembagus Luncurkan Inovasi Smart Foot

Ahmad Rifa'ie • Senin, 22 Juni 2026 | 20:30 WIB
CEGAH SEJAK DINI: Pasien dengan komplikasi diabetes, seperti diabetic foot, mengikuti terapi senam kaki yang dipandu petugas kesehatan di RSUD Asembagus. (Humas RSUD Asembagus untuk JPRS).
CEGAH SEJAK DINI: Pasien dengan komplikasi diabetes, seperti diabetic foot, mengikuti terapi senam kaki yang dipandu petugas kesehatan di RSUD Asembagus. (Humas RSUD Asembagus untuk JPRS).

RADARSITUBONDO.ID – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Asembagus terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan program Smart Foot, sebuah layanan yang berfokus pada pencegahan komplikasi diabetes melitus pada kaki (diabetic foot).

Inovasi tersebut lahir berdasarkan tingginya jumlah pasien diabetes yang menjalani perawatan di RSUD Asembagus. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 227 pasien diabetes, kemudian meningkat menjadi 356 pasien pada tahun 2025. Kondisi tersebut mendorong rumah sakit untuk menghadirkan inovasi yang dapat menekan angka komplikasi sekaligus mencegah tindakan amputasi pada pasien.

“Pada tahun 2024, dari total pasien diabetes, sebanyak 13 pasien harus menjalani amputasi. Kemudian pada tahun 2025 jumlahnya meningkat menjadi 36 pasien yang menjalani amputasi,” kata Direktur RSUD Asembagus, Zainul Fatah, S.Kep.Ners, Senin (22/6).

Menurutnya, hingga saat ini layanan tatalaksana komprehensif dan holistik untuk penanganan Diabetic Foot masih sangat terbatas di Situbondo. Karena itu, RSUD Asembagus berupaya menghadirkan solusi yang dapat mengurangi risiko komplikasi diabetes pada kaki sehingga angka amputasi dapat ditekan.

 “RSUD Asembagus terus berupaya menghadirkan inovasi melalui program Smart Foot. Program ini merupakan wujud nyata komitmen rumah sakit dalam mengurangi jumlah pasien yang mengalami komplikasi diabetic foot,” terangnya.

CEGAH SEJAK DINI: Pasien dengan komplikasi diabetes, seperti diabetic foot, mengikuti terapi senam kaki yang dipandu petugas kesehatan di RSUD Asembagus. (Foto: Humas RSUD Asembagus untuk JPRS).
CEGAH SEJAK DINI: Pasien dengan komplikasi diabetes, seperti diabetic foot, mengikuti terapi senam kaki yang dipandu petugas kesehatan di RSUD Asembagus. (Foto: Humas RSUD Asembagus untuk JPRS).

Fatah menjelaskan, program tersebut bertujuan untuk mencegah kondisi pasien memburuk hingga memerlukan amputasi. Pelaksanaannya dilakukan secara berkala melalui skrining untuk mendeteksi risiko sejak dini serta memberikan penatalaksanaan sejak awal terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan diabetic foot. “Melalui program ini diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat diabetic foot,” tambahnya.

Dia menuturkan, alur pencegahan dilakukan melalui pelayanan pre-hospital, intra-hospital, dan post-hospital. Salah satunya dengan memberikan bimbingan teknis kepada pasien melalui puskesmas dan klinik jejaring RSUD Asembagus agar upaya pencegahan dapat berjalan secara menyeluruh.

“Selain itu, kami menetapkan sistem skrining yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai derajat risiko pasien diabetes, sehingga dapat diketahui pasien mana yang memerlukan penanganan spesialistik sejak dini,” ungkapnya.

Tidak berhenti sampai di situ, pasien yang terdiagnosis diabetic foot juga akan mendapatkan penanganan lanjutan dari tim multidisiplin yang terdiri atas dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis bedah, fisioterapis, serta ahli gizi.

“Setelah mendapatkan penanganan multidisiplin di rumah sakit, pasien juga diberikan edukasi untuk mengakses aplikasi khusus Smart Foot berbasis digital. Melalui aplikasi tersebut, pasien dapat memantau kadar gula darah dan kondisi kaki diabetes secara mandiri,” pungkasnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #rsud asembagus #diabetes