Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia, AQI Tembus 180 pada Senin Pagi

Bayu Shaputra • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 08:30 WIB
Ilustrasi polusi udara Jakarta. (Pemprov Jakarta)
Ilustrasi polusi udara Jakarta. (Pemprov Jakarta)

 

RADARSITUBONDO.ID - Kualitas udara di Jakarta kembali menjadi sorotan. Pada Senin pagi, ibu kota tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia berdasarkan pemantauan situs IQAir.

Kondisi tersebut menunjukkan tingkat pencemaran udara yang masih tinggi sehingga berpotensi menimbulkan dampak bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Data IQAir pada pagi hari mencatat indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 180. Nilai tersebut masuk dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 96 mikrogram per meter kubik.

Baca Juga: RB Leipzig Tolak Tawaran Fantastis Real Madrid demi Yan Diomande, PSG Masih Mengintai

Kategori tersebut menunjukkan kualitas udara yang dapat memberikan dampak negatif terhadap kelompok sensitif.

Selain berisiko memengaruhi kesehatan manusia yang rentan, kondisi itu juga berpotensi berdampak pada hewan yang sensitif, tumbuhan, hingga menurunkan nilai estetika lingkungan.

Seiring tingginya tingkat polusi udara tersebut, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Apabila harus beraktivitas di luar, penggunaan masker sangat disarankan sebagai upaya mengurangi paparan polusi udara.

Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menutup jendela rumah maupun bangunan agar udara dari luar yang tercemar tidak mudah masuk ke dalam ruangan.

Baca Juga: Indonesia Kirim Dua Wakil ke Knockout Stage MSC EWC 2026 Usai ONIC Taklukkan SRG

Dalam sistem pemantauan kualitas udara, kategori baik berada pada rentang PM2.5 antara 0 hingga 50.

Pada kategori ini kualitas udara dinilai tidak memberikan dampak terhadap kesehatan manusia maupun hewan serta tidak memengaruhi tumbuhan, bangunan, maupun nilai estetika lingkungan.

Sementara itu, kategori sedang berada pada rentang PM2.5 sebesar 51 hingga 100.

Kualitas udara pada level tersebut umumnya tidak berdampak terhadap kesehatan manusia dan hewan, namun mulai berpengaruh terhadap tumbuhan yang sensitif serta aspek estetika lingkungan.

Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2.5 sebesar 200 hingga 299. Pada tingkat ini, kualitas udara dapat memberikan dampak kesehatan bagi sejumlah kelompok masyarakat yang terpapar.

Sementara kategori berbahaya berada pada rentang 300 hingga 500, yang menunjukkan kondisi pencemaran udara dapat menimbulkan risiko kesehatan serius bagi masyarakat secara umum.

Baca Juga: Indonesia Kirim Dua Wakil ke Knockout Stage MSC EWC 2026 Usai ONIC Taklukkan SRG

Selain Jakarta, sejumlah kota lain juga mencatat kualitas udara yang buruk. Posisi kedua ditempati Kinshasa, Kongo, dengan indeks kualitas udara mencapai 168.

Di bawahnya terdapat Lahore, Pakistan, dengan AQI 167, disusul Kampala, Uganda, di angka 153. Posisi kelima ditempati Johannesburg, Afrika Selatan, dengan AQI sebesar 132.

Menghadapi potensi peningkatan pencemaran udara saat musim kemarau, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan.

Musim kemarau diperkirakan berlangsung mulai awal Mei hingga Agustus, sehingga berbagai upaya pengendalian mulai dipersiapkan sejak dini.

Baca Juga: Prediksi Skor Hearts vs Sturm Graz: Misi Mustahil di Tynecastle? Tuan Rumah Dibayangi Kekalahan Telak 0-4

Langkah yang disiapkan meliputi peningkatan kualitas sistem pemantauan udara agar kondisi pencemaran dapat dipantau secara lebih akurat.

Selain itu, uji emisi kendaraan bermotor juga terus diperkuat sebagai salah satu upaya menekan emisi dari sektor transportasi yang menjadi salah satu penyumbang pencemaran udara.

Pemprov DKI Jakarta juga tengah melakukan evaluasi terhadap Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU).

Evaluasi tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari perkembangan konsentrasi PM2.5, beban emisi dari masing-masing sektor, hingga dampak pencemaran udara terhadap kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Prediksi Western Sydney Wanderers vs Chelsea: Debut Xabi Alonso, The Blues Dibayangi Rapuhnya Lini Belakang

Pemerintah menilai pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan hanya oleh satu daerah.

Karakteristik pencemaran udara yang melintasi batas wilayah membuat penanganannya membutuhkan kerja sama yang terintegrasi antara organisasi perangkat daerah serta kolaborasi lintas wilayah di kawasan sekitar Jakarta agar upaya pengendalian dapat berjalan lebih efektif.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : IQAir
kualitas udara Jakarta IQAir polusi