RADARSITUBONDO.ID - Pada pagi 11 September 2001, dunia menyaksikan tragedi 9/11 yang mengguncang AS dan mengubah geopolitik global.
Pukul 08.46 waktu setempat, pesawat American Airlines Flight 11 menabrak Menara Utara World Trade Center. 17 menit kemudian, pada pukul 09.03, pesawat United Airlines Flight 175 menghantam Menara Selatan, mengonfirmasi serangan terkoordinasi.
Pukul 09.37, pesawat American Airlines Flight 77 menabrak Pentagon. Sementara itu, pesawat keempat, United Airlines Flight 93, jatuh di Pennsylvania setelah penumpang melawan pembajak.
Kedua menara kembar World Trade Center runtuh dalam waktu kurang dari dua jam, dengan Menara Selatan runtuh pada pukul 09.59 dan Menara Utara pada pukul 10.28.
Debu tebal dan panik di Lower Manhattan menjadi gambaran tak terlupakan. 343 petugas pemadam kebakaran dan 72 petugas penegak hukum kehilangan nyawa saat berusaha menyelamatkan korban.
Baca Juga: Apa Manfaat Ubin Pemandu pada Trotoar bagi Penyandang Disabilitas?
Tragedi ini merenggut nyawa hampir 3.000 orang dari 93 negara, menjadikannya serangan teroris paling mematikan. Korban termasuk pekerja, pilot, pramugari, penyelamat, dan wisatawan.
Peristiwa ini mengubah paradigma keamanan global, dengan AS meluncurkan "War on Terror," dan reformasi sistem keamanan penerbangan melalui pendirian TSA dan prosedur yang lebih ketat.
Baca Juga: Peran Ubin Pemandu dalam Mewujudkan Kota Ramah Disabilitas
Setiap 11 September, Amerika memperingati "Patriot Day" untuk mengenang korban dan merayakan ketangguhan serta persatuan. Memorial 9/11 di lokasi World Trade Center menjadi tempat ziarah, dengan kolam refleksi dan panel perunggu nama-nama korban. Peringatan ini mengajarkan pentingnya kewaspadaan terhadap ekstremisme dan nilai persatuan dalam menghadapi kesulitan.
Warisan terpenting adalah persatuan masyarakat melampaui perbedaan untuk saling membantu. Spirit "United We Stand" pasca-9/11 menunjukkan kemanusiaan dapat bersinar dalam kegelapan.
Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News
Editor : Ali Sodiqin