RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah Amerika Serikat mengalami shutdown pada 1 Oktober 2025 setelah Kongres tidak dapat meloloskan anggaran.
Meskipun Partai Republik menguasai pemerintah, mereka tidak bisa mengesahkan anggaran karena perlu 60 suara di Senat.
Ini menciptakan kebuntuan, di mana Demokrat memanfaatkan situasi untuk mendesak pencabutan pemotongan Medicaid dan perpanjangan kredit pajak untuk layanan kesehatan.
Baca Juga: Dampak Hari Batik Nasional terhadap Industri Batik Lokal dan Perekonomian Pengrajin
Shutdown ini juga terjadi dalam konteks ekonomi yang rentan, dengan pasar tenaga kerja melemah dan inflasi menyusut.
Sebagai pemberi kerja terbesar, pemerintah federal akan mengurangi pegawai melalui pemotongan yang mungkin akan digugat di pengadilan.
Selain itu, banyak pegawai dianggap tidak penting dan akan dirumahkan tanpa gaji, yang mengganggu daya beli konsumen.
Baca Juga: Rakyat Indonesia Bergembira! TVRI Resmi Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026
Pekerja yang terkena dampak bisa menunda pembelian barang-barang besar, menyebabkan penurunan belanja konsumen yang sangat berisiko di tengah ekonomi yang bergantung pada konsumsi rumah tangga.
Data terbaru menunjukkan penurunan perekrutan, dan kondisi pasar kerja yang lemah bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Xiaomi Watch S4 41mm: Dominasi Smartwatch Premium di Bawah Rp 3 Juta Indonesia 2025
Shutdown juga menunda publikasi data ekonomi penting, menyulitkan Federal Reserve dalam membuat keputusan kebijakan moneter, sementara investor mungkin bereaksi spekulatif terhadap ketidakpastian.
Secara historis, shutdown sedikit berdampak pada pasar keuangan, namun situasi sekarang bisa berbeda. Dolar melemah dan pasar sedikit lesu pada hari pertama shutdown, memunculkan kekhawatiran tentang volatilitas pasar global.
Goldman Sachs memprediksi bahwa shutdown dapat mengurangi pertumbuhan PDB AS, dan ketidakpastian di Amerika bisa memicu keengganan investor terhadap aset berisiko.
Penundaan pada aplikasi pinjaman perumahan dan layanan pemrosesan paspor juga akan berdampak pada sektor-sektor tertentu.
Shutdown ini lebih serius daripada yang sebelumnya terjadi, berpotensi memicu resesi karena dampak dari PHK besar-besaran, penundaan data, dan kebijakan tarif yang menambah tekanan pada ekonomi global.
Krisi ini merupakan akibat dari ketidakmampuan politik untuk mencari solusi demi kepentingan lebih besar. Seluruh dunia kini menunggu penyelesaian untuk menghindari dampak yang lebih luas.
Editor : Ali Sodiqin